Dua Sembilan.

Menjelang umur 29, saya ingin menuliskan ini. Tahun ini menjadi tahun terakhir saya berumur kepala dua, karena tahun depan saya sudah kepala tiga. Saya hanya ingin mengingat keseharian saya yang membentuk saya seperti sekarang ini. Apa yang sehari-hari sering dihadapi dan kemudian dipikirkan.

 

Kereta

Sudah lebih dari setahun saya berangkat dan pulang kerja menggunakan kereta. Berangkat pagi dan pulang sore jelang magrib—setiap hari pas jam sibuk berjibaku bersama ratusan ribu warga Jabodetabek lainnya. Mungkin terdengar sepele dan biasa aja, tapi ini menjadi penting karena ternyata saya jadi belajar banyak sepanjang perjalanan. Bahwa kita memang tidak bisa mengontrol orang lain, kita hanya bisa mengontrol diri sendiri. Kalau mau masuk pas masih kosong, ya pindah aja rumahnya ke Cilebut. Atau pulangnya, dari Gondangdia geser dulu ke Juanda. Kalau ngga mau pingsan atau lemes selama perjalanan, ya sarapan dulu dari rumah. Karena saya nggak mau ngemis-ngemis minta tempat duduk sama orang—apalagi sesama perempuan. Untungnya waktu saya hamil saya masih belum naik kereta, dan saya udah bilang sama suami kalau saya nggak mau hamil-hamil naik kereta. Hahahaha.. tapi entahlah di kemudian hari, apa yang akan terjadi. Sepanjang perjalanan di kereta juga saya belajar, bahwa empati tidak mengenal atribut. Dalam konteks ini, tentunya adalah empati memberikan tempat duduk—baik untuk lansia, ibu hamil, maupun mereka yang tampak pucat dan lemes. Mau mereka yang gondrong, yang bertatoo, mau mereka yang jilbaban, mau mereka yang ‘terlihat’ intelek dan berpendidikan (karena turun di Sudirman?).. semua bisa saja punya empati, dan bisa saja tidak. Mau apapun atributnya, kita semua adalah spesies yang sama: M A N U S I A. Maka dari itu, daripada saya mengharapkan empati dari orang lain, lebih baik saya kontrol diri sendiri. Karena hanya itu yang bisa saya lakukan, karena saya nggak bisa mengontrol orang lain.

 

Gojek

Selain kereta, sehari-hari juga saya menggunakan Gojek. Baik untuk kendaraan motor, mobil, sampai pesan makanan. Cukup menyenangkan karena sekarang ada go-points. Cukup sering juga nukerin voucher go-food. Hahahaha.. Oh God bless you, Nadiem! Tapi kenapa sekarang poin untuk nuker voucher go food nambah dari 750 sekarang 850? Ahahahaa.. Berhubung saya ngga bisa nyetir, dan bawa motor sendiri pun hanya waktu di Pekanbaru, jadi saya termasuk pengguna public transport yang cukup sering. Yah, itung-itung membantu mengurangi macet juga kan jadinya. Di kehidupan urban saat ini, saya menemukan Gojek amat sangat membantu. So far belum pernah juga menemukan pengalaman buruk dengan Gojek yang akhirnya membuat trauma. Jadi please pemerintah, tolong aplikasi online ini jangan ditutup yah plisss.. Seringkali malah jadi kesel sama angkot-angkot yang kerjaannya ngetem melulu itu, kenapa sih GoJek ngga boleh jemput di depan stasiun? Juga sama ojek pangkalan, kenapa sih GoJek dimusuhin? #penggunaGojekgariskeras hahaha.. Gojek juga terbukti sangat membantu untuk ini-itu saat suami lagi nggak bisa kita mintain tolong karena lagi kerja, atau belum bangun. Hahahaha..

 

Masak

Sejak punya anak, saya jadi lebih sering masuk dapur. Menjadi ibu rumah tangga yang juga bekerja Senin-Jumat, membuat saya seringnya masak saat weekend. Oh sama nyiapin sarapan paling. Itu aja masih bingung mikirin menu, apalagi kudu masak tiap hari.. hahaha.. Si Gwen sekarang udah mau dua tahun, dan akan semakin pe-er untuk nyiapin makanannya. Dia masih nggak suka makan sayur dan buah-buahan. Nasinya berkuah dikit kena sayur, dilepeh.. Seringnya dia makan nasi sama abon melulu.. Beberapa kali pencernaannya bermasalah dan ujung-ujungnya dia nggak mau makan. Kadang susah pup, kadang justru diare, beberapa kali muntah-muntah.. jadi langganan banget dirawat di rumah sakit. Sedih rasanya dan berasa langsung pingin resign biar bisa nyiapin makanan yang bener buat si Gwen. Tapi begitu ingat cicilan rumah, langsung mikir-mikir lagi.. hahaha.. Memasak sebenarnya menyenangkan—terutama karena lebih sehat dan bisa hemat ngga usah makan di luar, hahaha.. kalau nggak tahu mau masak apa, ada resep yang begitu banyak bergelimpangan di internet. Banyak video masak di instagram, banyak tutorial masak di youtube.. Banyak tukang sayur lewat, banyak supermarket di sekitar kita.. maka sesungguhnya jika kalian masih malas masak, itu hanya mencari-cari alasan saja, hai orang-orang pemalas.. *jelas termasuk saya.. hahaha.. Ohiya, tante-tante dan nenek saya heran banget akhirnya ngeliat saya mau masak. Ya, saya sendiri pun heran. Seandainya mama masih hidup, pasti beliau takjub banget ngeliat saya masak. Dan mungkin sedikit bangga, karena anak perempuannya ini setidaknya bisa menyajikan sesuatu di atas meja untuk beliau cicipi.

 

Medsos

Ahh.. sampai juga di bagian yang ini. Medsos kayanya memang udah jadi bagian hidup ya? Buka hape, bukanya medsos. Abis ngecek email, ngecek berita, terus buka Whatsapp, terus Instagram, terus.. dan seterusnya. Hidup di jaman sekarang ini rasanya harus mengambil berat perkara medsos. Harus—karena dunia memang sudah berubah, dan kita harus bisa beradaptasi dengan perubahan—jika ingin tetap survive. Positifnya, dengan medsos orang bisa dengan mudah jualan tanpa buka toko, orang bisa ditawarin nulis buku dari awalnya hanya posting foto anak, orang bisa lebih mudah memajang portofolio bisnisnya atau karyanya.. dan lain sebagainya. Kalau kangen sama temen lama tapi udah lama nggak ketemu, ya cari aja medsos-nya. Saya juga jadi belajar untuk follow yang baik-baik saja, yang menyebarkan cinta damai, positive vibes only. Jauhi yang berbau SARA, apalagi yang menyebarkan hate speech. Negatifnya, itu akun-akun beracun berbau gosip memang seringkali sulit untuk ngga di-kepoin yaa buibuuu.. Hahaha.. Haduuhh di era digital sekarang kuota dan pulsa itu sudah menjadi kebutuhan primer ya rasanya.. Ohiya, tapi lewat medsos juga saya jadi tahu, mana yang teman sungguhan mana yang bukan. Saya juga jadi belajar bahwa kita memang nggak akan pernah bisa menyenangkan semua pihak. Kita ngga akan pernah bisa temenan sama semua orang. Lewat medsos juga, pesan-pesan berantai dengan embel-embel ‘sebarkan jika kamu peduli’ atau broadcast berita hoax soal kesehatan atau info apapun, kerap menyebar. Suka jengkel sama yang begitu. Suka banyak video juga yang langsung saya delete karena menuh-menuhin memori hape. Tapi ya sekali lagi, kita hanya bisa mengontrol diri sendiri, kita nggak bisa kontrol orang lain. Maka dari itu, kalau ada info soal ada temen lagi butuh donor darah atau ASI, atau ada info lomba karya jurnalistik, diskon, atau promo-promo belanja, nah.. baru deh itu saya bantu sebarin. Hahaha.. *emak-emak banget yes..

 

Cita-cita

Barangkali kita lupa, sifat-sifat dasar kita tidak berubah meski kita sudah menikah dan punya anak. Seringkali perempuan abai akan hal ini—termasuk saya tentunya. Punya anak itu hanya mengubah prioritas hidup. Tapi diri kita yang sebenarnya ya tetap saja kita. Dulu saya senang sekali nonton film, sekarang pun masih suka meski frekuensinya jadi lebih jarang. Kalau sebelum punya anak, passion kita di jurnalistik, ya setelah punya anak pun akan seperti itu. Sudah menjadi ibu beranak satu, saya masih jadi jurnalis. Saat ini bekerja di kantor berita asing. Bulan Juli ini memasuki delapan tahun sudah saya bergelut di bidang ini. Tapi rasanya baru setahun terakhir saya belajar bekerja dengan efektif dan efisien. Ingin sekali rasanya sambung belajar S2, tapi yaa klise ya, pengen doang tapi nggak gerak-gerak. Hahahaha.. Meski pun kita punya passion di satu bidang, bukan berarti kita ngga bisa mencoba bidang lain karena mana tau justru kita bisa menemukan bakat kita yang lain–yang selama ini belum ‘ditemukan’. Saya selalu mengingatkan diri sendiri, coba itu lihat bung Andre Taulany. Iya temennya Sule itu. Dia adalah contoh termudah bahwa ternyata dia juga bakat ngelawak–‘ditemukan’ saat usianya tak lagi muda–dan justru rejekinya semakin mengalir dari sana. Ya kaan~~

 

Oke, jadi… barangkali ini kesimpulannya.

 

Saya Vega, umur 29 tahun, perempuan yang nggak sabaran, kerap ragu-ragu, kerap dominan, suka mengeluh dan banyak alasan, sedang terus berusaha mengurus anak dengan baik, berusaha memperbanyak habluminallah dan habluminannas, berusaha positive thinking, berusaha tidak menghakimi, kurangi jalan ke mall, perbanyak online shopping, terus banyakin minum air putih, lanjutin minum susu, lagi berusaha mau makan buah, berusaha mengontrol diri sendiri, nggak usah dengerin apa kata orang, and stop proving myself to others because it’s exhausting.

 

Saya Vega, umur 29 tahun, dan ngga apa-apa.

 

 

[Cilebut, 9 Juli 2017]

[12.42 AM]

 

 

 

Advertisements

About this entry