Belajar dari Pilkada DKI: Sebuah Catatan Pribadi

Okeh saya nyerahh. Akhirnya saya tulis juga ini, daripada terus-terusan berenang-renang di pikiran. Masalahnya, mau ditulis di status, kepanjangan. Ditulis di caption foto, kepanjangan juga. Ahahaha.

Tulisan ini rasanya perlu diawali dengan disclaimer, bahwa pandangan atas nama-nama tokoh yang disebut di dalamnya murni berdasarkan pandangan saya pribadi, berdasarkan pengalaman saya pribadi sendiri (ya masa pengalaman orang?). Tulisan ini juga bukan untuk menistakan siapa-siapa.

Jadi, akhirnya, pilkada DKI Jakarta yang bising itu akhirnya selesai juga ya? Semakin bising saat semua orang ikut-ikutan berkomentar. Memenuhi timeline dengan dukungan untuk calon tertentu, hingga hate speech terhadap calon tertentu. Yang berkomentar bukan hanya mereka yang memang punya hak pilih alias ber-KTP DKI. Tapi yang DKI pinggiran juga. Bahkan, orang luar pulau Jawa ikutan komentar juga. Salah? Nggak salah. Ini negara bebas. Semua orang berhak berkomentar, mengeluarkan pendapatnya. Bahkan lembaga pemeringkat global, Fitch Ratings, ikut-ikutan kasih komentar.

Fitch Comment on Jakarta gubernatorial election:

The early results of the tense Jakarta elections seem to suggest that religious factors could play an increasingly significant role in future Indonesian elections. There are no indications that the election results will directly influence the public and political support for the national government and its policies at this stage, but similar tensions as witnessed in Jakarta could resurface in the run-up to the next presidential elections is 2019. Broad support for the government’s policy agenda could be negatively affected in this process. Having said this, progress in improving governance has been substantial in Indonesia over the past two decades and the democratic electoral process has remained intact.

Tapi saya rasa, kita patut mengapresiasi diri sendiri, jika selama periode kampanye kemarin itu kita nggak ikut-ikutan nambah-nambahin komentar. Kenapa? Karena artinya Anda telah berhasil menahan diri, melawan keinginan diri sendiri, biar nggak menjadikan suasana bertambah panas. Atau bertambah bising. Bayangkan, televisi terus-terusan menayangkan berita pilkada. Kita buka medsos, isinya sama juga. Sedangkan ini handphone hampir tiap saat kita genggam. Tentu godaan untuk ikutan menanggapi dengan cara ngetik komentar kita, saya rasa itu sulit sekali untuk dihindari. Well, mungkin kalau ikutan komentar soal Ira Koesno bisa dikecualikan kali yaaa. Ahahahaha. Aduh, kece bangett sihh mbak nyaa. Jadi nyesel nggak poto bareng pas makan siang bareng di kantin, beda meja sih jadi tengsin. Ahahaha.

Oke, kembali ke pilkada DKI. Saya nggak punya hak pilih karena jelas-jelas KTP Bogor. Yaa walaupun weekdays bisa dibilang “warga” DKI karena kerja di sini, tapi weekend jadi warga Bogor. Kalau orang Depok barangkali siang jadi “warga DKI”, kalau malam ya jadi warga Depok. Pun demikian dengan orang Tangerang dan Bekasi. Hehehehe. Saya juga nggak kenal sama keenam orang cagub dan cawagub putaran pertama, maupun keempat orang yang di putaran kedua. Saya nggak pernah bertemu langsung sama pak Ahok maupun pak Djarot. Tapi saya pernah bertemu langsung sama pak Anies dan pak Sandi. Ingatan pun melayang ke beberapa tahun yang lalu, ketika saya liputan politik di rumah transisi Jokowi.

Anies kala itu menjadi salah satu anggota tim transisi Jokowi bersama Rini Soemarno, Andi Widjajanto, Hasto Kristiyanto, dan Akbar Faisal. Saya ingat ketika itu ada salah satu teman wartawan yang bertanya pada beliau, “Pak, bapak ditawarin jadi Mendikbud ya pak?”. Dan Anies mengelak. Ketika Jokowi capres vs Prabowo, saya juga ingat waktu itu pernah menonton satu video saat beliau sedang berbicara di depan ratusan mahasiswa. “Ini ada orang baik (Jokowi–yang jadi capres), ayo kita bantu orang baik. Dia (Jokowi) kalau kalah, tidak akan merasa punya utang sama siapa-siapa. Kalau menang, tidak juga harus membalas jasa siapa-siapa.” Yah lebih kurang seperti itu. Makanya bagi saya agak aneh ketika sekarang melihat beliau bersebelahan dengan pak Prabowo. Bukan agak aneh sih, aneh banget. Tapi yah, saya nggak kenal pak Anies, saya bukan salah satu peserta Indonesia Mengajar juga. Yang jelas, pak Anies itu pasti orangnya cerdas. Tapi yah, barangkali inilah yang namanya dinamika politik. Dan buat wartawan yang liputan politik, barangkali modal utamanya adalah: jangan polos-polos amat (jelas kurang cocok buat saya), dan jangan mudah percaya sama omongan orang. Apalagi jika orang tersebut menggunakan bahasa yang kurang familiar di telinga kita. Contohnya, Hasto Kristiyanto dengan “situasi kebatinan”-nya, yang barangkali hanya dia dan Tuhan yang tahu apa maksudnya.

Selanjutnya pak Sandi. Beberapa kali saya mendengar beliau berbicara soal UKM di seminar-seminar. Saya ingat beliau pernah bilang, “Jangan hanya KFC atau McD yang masuk Indonesia, tapi suatu saat semoga Es Teler 77 bisa ada di New York.” Yah lebih kurang seperti itu. Pernah juga ketemu di acara PT Saratoga Investama Sedaya Tbk, di mana beliau dulunya adalah presiden direktur. Beliau juga founder perusahaan tersebut bersama bapak Edwin Soeryadjaya. Banyak yang bilang pak Sandi ganteng, tapi menurut saya sih nggak begitu. Cuman mulus aja mukanya, putih sih. Ahahaha. Kebetulan saya nggak pernah ketemu beliau pas lagi lari, barangkali pendapat saya bisa lain lagi nanti. Ahahahaha.

Rasanya tidak perlu jadi pengamat politik untuk bisa menebak-nebak pergerakan Sandi. Ambisi politik Sandi sebenarnya mulai ‘tercium’ saat dia beberapa kali saya lihat ada di kubu Prabowo waktu jaman capres 2014. Semacam ada pertanyaan pada diri sendiri dan juga beberapa teman waktu itu, ini Sandi ngincer jabatan apa ya ntar? Dan kemudian terjawab saat dia maju pada pilkada DKI. Awalnya tentu kita denger soal Sandi duluan yang maju pilgub, sampai akhirnya kemudian berpasangan dengan Anies dan yang jadi cagub ternyata Anies. Dan kini ternyata merekalah pemenangnya. Setidaknya itu menurut versi hitung cepat beberapa lembaga survei. Menurut litbang Kompas, suara mereka unggul dengan angka 58%. Selamat! Selamat bekerja gubernur dan wakil gubernur baru ibukota. Harapan saya barangkali hanya satu, please biarkan go-jek tetep adaaa. Saya ngerasa kebantu bangettt naek ojek online, dan butuhh bangettt sama go-food. Ahahahaha.

Bagi saya pribadi, pilkada DKI tentu memberikan pelajaran banyak. Betapa publik sekarang masih saja mudah terpengaruh dengan sentimen agama. Publik cenderung mencari pembenaran; membaca atau men-share artikel atau berita yang sejalan dengan pendapat mereka. Perbedaan pendapat masih menimbulkan gesekan, meski itu seringnya terlihat di medsos. Pelajaran lainnnya barangkali adalah betapa cara kampanye kini semakin kreatif. Daerah lain barangkali bisa meniru tim sukses Anies-Sandi dan Ahok-Djarot saat ingin mempromosikan calonnya—terutama jika ingin menjangkau lebih banyak pemilih muda. Udah nggak efektif lagi jaman sekarang pasang baliho gede-gede sampe nutupin rambu-rambu lalu lintas. Pelajaran berikutnya, tanpa kita sadari lembaga riset dan hitung cepat sekarang kian banyak dan kian menjadi bisnis yang menjanjikan mengingat jumlah kabupaten/kota di Indonesia yang begituuu banyakkk. Bayangkan, Indonesia ternyata punya lebih dari 500 kabupaten/kotaaaa. Wowww. Dan pelajaran berikutnya adalah, pilkada DKI juga memberikan pelajaran soal memilih media. Bisa kita lihat kan, betapa MetroTV mendukung Ahok, sedangkan iNews mendukung Anies. Dan seterusnya, dan seterusnya. Barangkali ini menjadi tantangan besar bagi Komisi Penyiaran Indonesia untuk betul-betul bisa menjadi juri atau penengah, demi penonton.

Well, liputan politik itu sebenarnya menyenangkan. Sayangnya saya liputan politik cuma seumur jagung. Jagungnya juga yang muda bangettt, anak jagung barangkali, ahahahaha. Mengutip seorang teman, liputan politik itu berasa bagian dari sejarah. Tapi liputan politik itu harus selalu siap-siap amunisi makanan, colokan/power bank, dan tentunya siap-siap lembur sampai malam bahkan diri hari. Kenapa? Karena kita nggak pernah tahu jam berapa berita itu akan datang. Terlepas dari politik yang kata orang begitu kotor, tapi menurut saya mau bagaimana pun politik itu tetap menarik. Apalagi karena kita wartawan, reflek aja gitu ngikutin, ya nggak sih? Ahahaha. Buktinya, padahal sebenernya nggak pengen kepikiran soal pilkada DKI, tapi toh akhirnya nulis ini juga deehhh. Karena mungkin tidak hanya laki-laki, tapi perempuan juga rasanya perlu melek politik. Politik yang nggak pake baper, tentunya.

[Jagakarsa. 23 April 2017]

[12.51 AM]

Advertisements

About this entry