Tentang Rahasia.

Setiap manusia pasti punya rahasia. Termasuk kamu, dia, saya—kita. Bagi orang lain mungkin ini hal yang biasa-biasa saja. Tapi perlu waktu agak lama bagi saya untuk mencerna ini. Untuk memahami ini.

Kabar itu datang dari seorang teman lama. Tidak perlulah disebutkan namanya. Lama tak terdengar kabar, tiba-tiba datang berita mengejutkan: bahwa selama tiga tahun terakhir ini ‘nampaknya’ dia pura-pura “sakit”. Bahwa ‘nampaknya’ bolak-balik ke rumah sakit di Penang itu hanyalah rekayasa. Dan yang lebih mengejutkan lagi: bahwa selama ini ternyata dia sudah punya anak istri. Barangkali bagi jurnalis era 2008-2009 (atau barangkali jauh sebelum itu) yang biasa liputan ekonomi, tahulah siapa yang saya bicarakan ini.

Tapi sebenarnya bukan soal dia yang mau saya bicarakan di sini. Sebenarnya saya juga nggak mau memikirkan ini, tapi kok ya kepikiran terus. Seorang teman berkata, “kita nggak tahu mana yang benar dan mana yang salah, dan nggak usah mencari tahu juga”. Memang rasa penasaran ini nggak akan bisa hilang sampai kita mendengar sendiri pernyataan (atau pembelaan?) dari yang bersangkutan. Tapi sudah saya kontak, ybs tidak membalasnya juga. Masalahnya, yang namanya jurnalis pasti kepo. Dan ini sudah kepalang atau terlanjur kepo. Nggak bisa nggak mencari tahu. Bukan untuk memuaskan siapa-siapa, tapi untuk menjawab rasa penasarannya sendiri. Karena jujur saja—saya sih penasaran.

Hingga akhirnya saya memutuskan untuk menulis ini, dengan harapan barangkali akan mengurangi frekuensi (rasa penasarannya). Tapi bukan itu sih intinya. Berita mengejutkan dari teman saya itu membangkitkan kembali fakta bahwa setiap manusia pasti punya rahasia. Nggak semua hal yang terjadi dalam hidup teman-teman saya, sahabat-sahabat saya, orangtua saya, kakak-adik saya, atau bahkan juga suami sendiri, itu diceritain ke saya. Sekali lagi, butuh waktu bagi saya untuk memahami ini—kenapa mereka merahasiakannya dari saya. Tapi sebenarnya, begitu pun sebaliknya. Tidak semua hal saya ceritakan ke semua orang. Sebagian disaring demi menjaga kebaikan bersama. Sebagian ‘dirahasiakan’ untuk menjadi cerita yang digenggam diri sendiri saja. Karena rahasia erat kaitannya dengan masa lalu. Seringkali ia lebih baik tidak diceritakan, demi menjaga masa kini dan juga masa depan. Tapi barangkali rahasia juga bisa menjadi bom waktu, yang suatu saat bisa meledak.

Cerita soal teman saya tadi pun mengingatkan saya pada film Pintu Terlarang yang disutradarai oleh Joko Anwar. Melalui film itulah, barangkali saya baru tersadar, bahwa memang dalam hidup ini semua orang punya rahasia. “Istri punya rahasia, sahabat punya rahasia”. “Pintu terlarang–setiap orang punya satu”. Terkadang, ada baiknya rahasia biarlah menjadi rahasia. Karena saat ternyata kita tahu soal rahasia itu, bisa jadi kita justru jadi merasa kecewa, sedih, atau marah. Wait–kayanya saya anaknya emang visual banget ya? Untuk memahami sesuatu itu harus ada gambarannya, contohnya, dan seringkali itu saya dapat setelah nonton film. Hahahaha.

Dan barangkali, dalam kasus teman saya ini, dia memilih untuk merahasiakannya dari kita, teman-temannya. Barangkali dia punya rahasia lain—rahasia yang lebih besar, yang dia tidak ingin kita ketahui.

 

[Jagakarsa. 24 Maret 2017]

[11.47 PM]

Advertisements

About this entry