Si Gwen dan Februari yang dingin.

1. Belum genap sebulan, kami kembali membawa si Gwen ke dokter. Kali ini penyakit lama kembali datang: diare dan muntah-muntah. Ini bukan kali pertama si Gwen diare dan muntah-muntah. Kami juga (masih) tidak tahu pasti penyebabnya. Kami hanya bisa menduga, barangkali ini berasal dari bakteri karena si Gwen kerap megang aneka macam benda dan kemudian masukin tangannya ke mulut. Obat yang diberikan kali ini banyak sekali. Ditambah obat pilek dan obat mual/muntah. Ditambah oralit yang sebetulnya bisa kami racik sendiri.

2. Penyembuhan cenderung lambat karena sekarang si Gwen bukan cuma susah makan, melainkan juga nggak mau minum obat. Dia dengan tegas menolaknya. Bukan hanya menggelengkan kepala, tapi juga menepis tangan saya kuat-kuat. Hingga akhirnya saya terpaksa harus membuka mulutnya dan memaksanya minum obat. Meski tidak semua terminum karena obatnya jadi tumpah-tumpahan, tapi setidaknya ada sedikit yang tertelan. Sedih rasanya melihat ini. Dia menangis meraung-raung—nampak merana sekali.

3. Pup-nya berwarna kuning—udah bukan encer lagi tapi memang bentuknya air. Sehari dia pup bisa sampai 4-5 kali, dengan jeda yang pendek. Pantatnya agak lecet, berwarna kemerahan, bahkan sampai ke punggung. Saya menduga barangkali ini ada kaitannya dengan popok baru yang kami coba—merknya Sensi. Biasanya kami pakai Merries, tapi kami tergoda mencoba Sensi karena harganya yang murah. Berat badannya pun kini menyusut. Dokter bilang seharusnya berat badannya udah 11 kg, tapi sekarang dari 9 kg malah semakin menyusut ke 8.7 kg. Selintas memang terlihat si Gwen bertambah tinggi saja, tapi tidak bertambah gemuk.

4. Sebenarnya sudah hampir sebulan ini dia susah makan. Susah buka mulut—lebih tepatnya. Entah apakah ini yang disebut dengan GTM alias Gerakan Tutup Mulut. Kata orang-orang sih memang ada periodenya, periode di mana ada kalanya anak susah makan. Entah karena dia bosan atau memang karena dia sekarang lebih senang bermain daripada makan. Yang jelas, saya jadi agak malas untuk menyiapkan makanan buat si Gwen karena sayang daripada dibikin tapi nggak dimakan dan lantas akhirnya dibuang. Untuk mengakalinya pun kami buatkan dia kentang goreng, kukus ubi, dan biskuit-biskuit bayi.

5. Pertengahan bulan ini si Gwen sempat ada bercak-bercak merah di badannya. Awalnya saya menduga ini campak. Tapi tidak disertai demam, karena demamnya sudah muncul beberapa hari sebelumnya. Bercak-bercak merah ini pun tidak gatal karena si Gwen nampak tidak terganggu dengan kehadirannya, dan nggak garuk-garukin badan juga. Dulu si Gwen pernah begini juga, tapi dulu benar-benar wujudnya itu bintik-bintik. Yang sekarang ini lebih mirip kaligata karena alergi. Tapi ternyata bukan. Kata dokternya, bisa jadi ini rubella atau roseola. Terkadang, kita pergi ke dokter itu biar hati ini merasa tenang saja “yang penting udah ke dokter”. Walaupun sebenarnya barangkali nggak perlu-perlu amat ke dokter. Ternyata penyakit ini menular, hingga akhirnya daycare pun menolak dititipkan si Gwen.

6. Bulan Februari ini hujan kerap turun dengan sangat deras. Dan bagi saya yang tinggal di perkotaan, hujan identik dengan permasalahan klasik yang timbul setelahnya: mulai dari genangan di mana-mana, kereta yang kemudian bermasalah, jalanan macet, hingga berbagai penyakit ikutannya. Antibodi kita lantas diuji level bertahannya. Dopping vitamin C pun ditenggak. Jaket pun kembali dipakai. Dan akhirnya panadol pun diminum demi menjaga kestabilan tubuh yang mulai oleng karena demam dan sakit kepala. Hujan pun kini tidak lagi punya efek romantis dibandingkan ketika jaman kita muda dulu. Barangkali kini saya cenderung membenci hujan—terutama ketika hujan menghambat saya saat hendak keluar cari makan.

7. Barangkali hujan turun deras karena akhir Januari lalu baru saja Chinese New Year. Dan disusul kemudian Cap Go Meh. Katanya hujan itu tanda berkah—barangkali ini bisa lebih saya resapi maknanya kalau saya tidak tinggal di kota. Atau ketika tidak harus bekerja keluar rumah dan menempuh transportasi umum. Yang jelas, hujan membuat jemuran numpuk nggak kering-kering sampai tiga hari. Hujan juga membuat rumah bocor.

8. Oh iya, si Gwen diare itu ketika weekend kemarin kita abis dari Bogor. Saya heran, setiap abis dari Bogor pasti si Gwen sakit. Entah karena ngga cocok sama udaranya, atau apa. Tapi memang kalau diperhatikan, si Gwen kerap sakit setiap abis dari Bogor. Padahal di Bogor juga ngga lama-lama, cuma nginep satu hari. Oh iya waktu dia demam tempo hari itu saya sempat menduga dia mau tumbuh gigi. Tapi ternyata bukan, karena beberapa hari kemudian muncul bercak-bercak merah di tubuhnya. Oh iya (lagi), bulan Februari dan Agustus itu bulan vitamin A, si Gwen juga udah minum vitamin A di puskesmas. Tapi tentu ini tidak mencegahnya dari berbagai penyakit tadi, bukan?

9. Kembali ke si Gwen. Belum genap umur dia dua tahun tapi kami sudah kerap bertengkar. Jelas sekali dia sekarang keras kepala dan ngga mau nurut kalo disuruh makan. Saya jadi seperti bercermin—kok dia mirip sama saya ya? Hahaha.. Dia lebih sering nangis ketika sama saya, dibandingkan saat bersama bapaknya. Ketika bersama bapaknya, dia lebih sering tertawa.

10. Anyway, Februari ini suhu politik sedang panas. Pilkada serentak sukses dilaksanakan pada 15 Februari lalu. Terimakasih pak Presiden, karena berkat pilkada akhirnya kita bisa libur satu hari. Tapi ternyata pilkada Jakarta yang berisik ini masih harus kita ‘hadapi’ hingga April mendatang. Oh iya, akhir bulan ini kita juga disuguhi kabar kedatangan Raja Arab yang bikin heboh karena membawa ribuan orang dalam rombongannya. Dan ternyata dia mau datang ke Bogor juga. Yah, mudah-mudahan abis dari Bogor ngga sakit ya pak..

11. Februari ini sebenarnya bulan yang sangat singkat. Tahun ini saja bulan ini hanya ada 28 hari. Tapi ternyata cukup banyak kejadian di bulan yang sangat singkat ini. Oh iya, di bulan ini juga kami kembali ke toko buku. Saya dan suami membeli beberapa buku dan saya (akhirnya) kembali membaca buku!! Hahahaha. Senangnya akhirnya bisa kembali baca buku, sedikit melepaskan tangan dari godaan megang hape dan kemudian buka instagram atau facebook. Saya pikir dulu itu saat kita mau beli buku, kita punya waktunya (untuk baca) tapi ngga punya uangnya (untuk beli bukunya). Sekarang kebalikannya, kita punya uangnya tapi ngga punya waktunya..

12. Oh iya, hari Sabtu kemarin kami kembali menengok rumah. Tiang listrik sudah ada, tinggal dimasukin ke setiap rumah. Rumah pun sudah dikunci karena di dalamnya sudah dibersihkan. Sebagian jalan sudah dicor untuk kemudian diaspal. Kolam renang di dalam komplek sudah mulai dibangun. Ahh tidak sabar rasanya untuk pindaaahh. Hehehe. Insyaallah bulan Mei kita sudah bisa menempati rumah baru. Mudah-mudahan sebelum mulai puasa. Mudah-mudahan juga si Gwen cocok tinggal di Bogor..

 

 

[Jagakarsa. 28 Februari 2017]

[11.36 PM] 

Advertisements

About this entry