(Bukan Review) Istirahatlah Kata-kata.

Senang rasanya baru awal tahun begini, tapi sudah ada film bagus yang bisa ditonton di bioskop. Akhirnya ada film Indonesia yang ngga ada Reza Rahardian di dalamnya. Dan ngga ada Acha Septriasa juga. Bagi saya yang hanya penonton biasa (baca: warga sipil), film ini benar-benar bertutur dengan baik. Film ini benar-benar menjalani riset yang begitu baik. Film ini berhasil membuat penonton penasaran, dan tergerak untuk mencari tahu sendiri siapa itu Wiji Thukul. Meski pencariannya tidak melulu lewat teks, tapi lewat google, wikipedia, atau youtube, ngga masalah. Karena film ini benar-benar hanya pintu masuk.

Kita jadi belajar bahwa film tentang tokoh tidak melulu harus bercerita dari sejak dia dilahirkan hingga dia wafat. Kita juga jadi belajar bahwa suasana mencekam tidak melulu harus memperlihatkan senjata. Suasana mencekam juga tidak melulu harus malam hari. Percakapan di barbershop misalnya, bagi saya itu sungguh mencekam. Atau saat Fitri—anaknya Wiji–diinterogasi oleh polisi di awal film. Apalagi saat Wiji dan Thomas dicegat sepulang beli tuak. Di film ini justru tidak ada sama sekali flash back saat Wiji memimpin demo ribuan buruh tekstil. Pun tidak ada sepenggal adegan huru-hara di Jakarta. Tapi kita paham, penonton bisa merasakan kronologisnya melalui teks di awal-awal film. Hingga akhirnya Wiji di film ini bisa kita pahami sebagai seorang pejuang demokrasi, buronan polisi yang suka nulis puisi, yang sedang ada di Pontianak. Sedangkan keluarganya ada di Solo.

Puisi Istirahatlah Kata-kata langsung dibacakan di awal film. Dibacakan oleh Gunawan Maryanto dengan nada baca yang menurut saya kerennn, meski agak sedikit cadel. Atau memang karena puisinya sendiri sudah begitu keren. Kamera seringkali hanya diam, pemainnya yang bergerak. Senang menonton film yang begini, mengingatkan saya pada film Yasmin Ahmad. Penonton seperti ‘mengintip’, ikutan ada di adegan itu. Kita bisa merasakan alur melambat di tengah-tengah, setelah begitu bersemangat di awal film. Di awal-awal kita bisa merasakan kekhawatiran Wiji yang kerap berpindah-pindah selama buron. Terutama saat dia bertanya, “Ada pintu lain ngga, seandainya perlu kabur?” —yah, lebih kurang seperti itu.

Di tengah-tengah, kita seperti diajak jeda. Bahwa dalam situasi segenting dan seserius apa pun, ada kalanya tetap ada saat-saat santai seperti saat ngobrol malam-malam di pinggir Sungai Kapuas. Bahwa seorang aktivitis kerjaannya juga tidak melulu bikin puisi. Ohiya, juga beberapa kali ada adegan mati listrik. Entah sekalian menyindir PLN atau apa. Di akhir, ini yang paling saya suka. Kita diajak memahami suasana serbasalah yang dirasakan oleh Sipon—istrinya Wiji. Baik saat Wiji di Pontianak, maupun ketika dia pulang ke Solo, tetap ada konsekuensinya, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi keluarganya. Lalu film ditutup dengan lagu yang begitu indah dan bikin saya terngiang-ngiang. Awalnya terdengar seperti suara Cholil, saya pikir ini lagunya Efek Rumah Kaca. Tapi ternyata lagu ini dinyanyikan oleh anaknya Wiji—Fajar Merah.

Film ini sama sekali tidak menggurui penonton. Film ini juga tidak terkesan ‘sok-paling-tahu’ soal kondisi pada jaman itu, atau bahkan ‘sok-paling-tahu’ soal Wiji Thukul. Soal siapa itu sosok seorang Wiji Thukul, sebetulnya hanya bisa diperoleh sepenggal, saat pikirannya ngomong sendiri sesaat sebelum difoto untuk bikin identitas baru. Film ini tidak bertabur bintang. Tapi justru di situlah bonusnya. Penonton jadi berkenalan dengan seniman teater seperti Gunawan Maryanto dan Joned Suryatmoko. Juga ada pemain baru, seperti Marissa Anita yang biasa kita lihat di Indonesia Morning Show, sebagai Sipon. Barangkali dia terlalu cakep sebagai Sipon. Tapi coba bayangkan, kalau Bunga Citra Lestari atau Dian Sastro yang jadi Sipon… barangkali lebih terasa ‘aneh’.

Film ini barangkali tidak ‘sekumplit’ GIE. Di film seperti GIE, penonton bisa dapet satu paket; dapet pelajaran sejarahnya, puisinya, lagu-lagunya, hingga dapet Nicholas Saputra-nya (dan juga Wulan Guritno-nya). Kita juga punya film lainnya soal tokoh, seperti Soegija (karya Garin Nugroho), Habibie & Ainun (Faozan Rizal), Athirah (Riri Riza), hingga Soekarno (Hanung Bramantyo). Setelah nonton Soegija, entah kenapa saya tidak begitu tergerak untuk mengetahui lebih lanjut soal tokoh itu. Sedangkan Habibie & Ainun memang lebih ke film drama daripada film soal tokoh. Athirah tayang akhir 2016 tapi saya belum sempet nontonnya. Dan Soekarno.. entahlah. Saya terlalu kecewa dengan film-film Hanung sebelumnya. Barangkali Soekarno itu film terakhir Hanung yang saya tonton. Padahal filmnya kolosal, bertabur bintang, durasi panjang, setting dan wardrobe-nya oke.. Tapi mungkin saya terlalu kecewa karena saya tetap merasa ngga dapet pesannya. Ngga menikmati filmnya. Hingga akhirnya saya memutuskan ngga nonton Rudy Habibie dan Kartini yang tahun ini bakal tayang. Btw, kenapa Kartini harus dibikin sama Hanung? Kenapa??

Okesip, balik lagi ke Istirahatlah Kata-kata. Sayangnya film ini tidak tayang di mana-mana. Bahkan belakangan harus dibikin semacam sayembara terbuka kepada publik, “jika film ini ingin ditayangkan di kotamu”. Film ini tayang perdana di bioskop Indonesia pada 19 Januari tapi hanya di beberapa kota besar. Di Jakarta pun awalnya hanya ada di Plaza Senayan, TIM, dan Blok M Square. Kemudian bertambah Gading dan Cipinang. Itu pun untuk yang 21 aja ya. Di Bogor, awalnya ngga ada, tapi hari Sabtu minggu lalu ternyata ada di Bogor Trade Mall. Agak sedih sebenernya, karena Bogor Trade Mall itu lebih kurang macam ITC, kastanya di bawah Botani Square. Di sini, film ini jam tayangnya hanya tiga kali dalam sehari. Sabtu itu yang nonton sepi sekali, barangkali tidak sampai 20 orang. Beberapa dari mereka bahkan datang sendirian. Pada saat yang bersamaan, film Indonesia lainnya yang juga sedang tayang ada Cek Toko Sebelah dan Hangout. Film asingnya ada La La Land dan XXX yang terbaru. Sedangkan di Jakarta, ada juga serangkaian film Djenar Maesa Ayu yang sedang tayang di Kineforum.

Seneng banget akhirnya ada film soal Wiji Thukul—apalagi karena kemarin itu saya ngga sempet baca majalah Tempo yang mengulas soal beliau. Saya ngga kenal sama sutradara film ini, apalagi para pemainnya. Saya hanya ‘kenal’ satu nama, mbak Okky Madasari, salah satu eksekutif produser film ini yang dulu juga wartawan Jurnas. Saya ngga menjamin setelah nonton film ini kamu akan berasa lebih keren. Tapi rasanya sejarah bukan soal keren-ngga keren. Percayalah, film Indonesia soal tokoh (dan sejarah) belum ada yang benar-benar bisa bertutur sekeren ini. Meski mungkin tema yang diangkat terdengar usang, tapi film ini bisa mengangkatnya jadi kekinian. Tontonlah sebelum film ini ngga tayang lagi di bioskop.

 

[Jagakarsa. 29 Januari 2017]

[10.32 PM]

Advertisements

About this entry