Surviving one year of motherhood.

Setiap perempuan pasti ‘kaget’ saat dia punya anak dan menjadi ibu. Tidak terkecuali saya. Anak pertama memang penuh kejutan. Anak pertama selalu memberikan pengalaman yang luar biasa. Di tengah kebahagiaan menyambut kehadiran anggota keluarga baru, juga terselip rasa ketidaktahuan. Bagaimana merawat dan membesarkan bayi—yang kelak akan tumbuh menjadi anak-anak dan kemudian tumbuh dewasa.

Tidak lama setelah Gwen lahir, saya ngomong sama suami saya. Selamet ya, anak kamu perempuan.. abis ini akan ada dua orang yang bilang ‘terserah’ setiap ditanya ‘mau makan apa?’ hahaha..

Gwen lahir 7 Oktober 2015. Hari Rabu sore. Ketika didiagnosa atresia ani, saya dan suami mencoba ikhlas dan sabar dalam menjalani prosesnya. Saling menguatkan satu sama lain, bahwa kami tetap bangga sebagai orangtuanya. Hingga akhirnya, seluruh proses itu selesai 28 Juni 2016 saat kontrol terakhir di RSUD Tarakan. Sembilan bulan proses yang kami alami.

Hari-hari kami berubah sejak kehadiran Gwen. Gwen memaksa kami bangun pagi. Tanpa suara kokok ayam, dia rutin bangun jam 4 lewat. Suara tangisannya lebih nyata terdengar dibandingkan suara azan subuh atau alarm handphone—yang seringkali dimatikan kembali. Sepagi apapun saya bangun, ngerjain ini-itu, masak air untuk mandi, nyiapin makanan Gwen, nyiapin sarapan.. tetap waktu terasa berlalu begitu cepat di pagi hari. Mungkin ini terdengar sangat typical ibu-ibu, bahwa bangun sepagi apapun, tetap ngerjain ini-itu berasa ngga kelar-kelar.. hahaha..

Kehadiran Gwen memaksa saya masuk dapur. Mungkin saya ini perempuan kesekian yang baru masuk dapur setelah punya anak. Setiap hari saya harus memikirkan ‘makan apa ya si Gwen hari ini’..bayangkan, selain mikir ‘bikin berita apa ya hari ini’, saya juga harus memikirkan ‘masak apa ya buat si Gwen’.. saat terpikir satu ide masakan untuk sarapan, saya kembali pusing.. lalu makan siangnya apa ya? Baru kelar sarapan, udah harus mikir buat makan siang dan makan malam. Ternyata, ini lebih susah daripada bikin berita.. Terkadang, saya mencoba eksperimen juga di dapur. Tapi yang ada, pertanyaannya bukan soal apakah masakan saya kurang garam atau justru terlalu asin. Yang ada, saya bertanya pada suami saya, “gimana? Ini bisa dimakan ngga?” Bayangkan, jangankan enak atau tidak, tapi kadang saya merasa masakan saya belum tentu layak makan.. (…..dan kemudian hening).

Mengurus si Gwen tanpa bantuan ibu kandung, mertua maupun asisten rumah tangga, memang cukup challenging. Apalagi sambil bekerja. Otomatis, peran bertambah jadi tiga: jadi ibu, istri yang tetep kudu ngerjain kerjaan rumah tangga, dan juga karyawan yang tetep mempunyai kewajiban dan tugas-tugasnya. Sebagai working mom, memang sangat melelahkan saat harus berangkat kerja pagi-pagi dan pulang disambut oleh mainan yang berantakan serta tumpukan cucian piring dan setrikaan. Stress? Pasti. Saya selalu berusaha menyakinkan ke diri sendiri bahwa saya bisa mengerjakan semuanya, tapi satu-satu, tidak bersamaan di satu waktu. Tapi tetap saja itu melelahkan. Tapi tenang, selau ada grup emak-emak kece tempat berbagi curhat dan inspirasi. Pelan-pelan, itu cukup membantu.

Dalam kondisi tanpa bantuan seperti ini, rasanya bantuan sekecil apa pun sangat berharga. Misalnya saat saya dan suami lagi makan di restoran padang, bapak-bapak yang jual menawarkan diri untuk menggendong Gwen sambil bilang ‘biar mama papanya makan dulu’.. Duh Gwen, mama langsung terenyuh.. bantuan-bantuan kecil seperti ini ternyata sangat berarti. Sama seperti saat mama membawa begitu banyak bawaan ketika kamu dirawat di rumah sakit. Waktu mau naik lift, ada ibu-ibu yang nyamperin sambil bilang ‘bawaannya banyak amat bu, sini saya bantuin bawa’.. Duh Gwen, rasanya itu lega luar biasa. Mama jadi inget scene ketika Charlotte di film S*x and the City dibilangin temennya kalau suaminya bisa jadi ada main sama nanny-nya karena nanny-nya sangat seksi. Tapi yang ada di pikiran dia adalah: “But I can’t lose the nanny!” hahahaha.. saking butuhnya ibu-ibu sama helper yang baik dan setia.. Tapi akhirnya happy ending kok karena si nanny-nya ternyata is a lesbian, jadi ngga mungkin ada main sama suaminya. Err..

Kehadiran Gwen membuat saya dan suami lebih banyak ngobrol dibandingkan saat kami masih berdua saja. Tidak jarang juga kami berdua bertengkar. Kamu kan hanya bisa menangis ya Gwen, jadi kami harus belajar memahami dan menerjemahkan arti dari tangisan kamu.. kadang-kadang mama kesel sama papamu, saat dia sok tahu bilang ‘ini lapar ni ma..’.. atau ‘ini ngantuk ni ma..’.. padahal, papamu bukan sok tahu, dia hanya menebak dan belum tentu itu benar. Saat pertengkaran mulai agak panjang, akhirnya keluarlah kalimat-kalimat absurd dari mulut mama, seperti ‘ya maaf paaa..aku ngga tahuu.. aku kan belum pernah punya anak sebelumnyaa..’ ahahahaha.. Dan kemudian papamu pun bengong dan bales bilang ‘lha kamu pikir aku udah pernah punya??’.. hahahaha..

Soal naluri, ini juga penting. Papamu sering bilang sama mama, coba gunakan nalurimu sebagai ibu. Padahal, naluri ini seringkali salah. Awalnya saja saat mama masih hamil, naluri mama bilang anak ini kayanya laki-laki deh. Dannn ternyata salah kan? ini juga yang menjadi kekhawatiran sebenarnya. Bagaimana jika saat dewasa nanti, kamu minta pendapat mama, trus kamu ngikutin kata mama, dan ternyata pilihan itu salah? Atau bukan salah, tapi bagaimana jika ternyata pilihan yang satu lagilah yang sebenarnya lebih baik? Kalau kata papamu, kita harus bisa membiasakan Gwen membuat keputusannya sendiri, sedari kecil. Jadi dia bisa mengambil pelajaran sendiri dari setiap pilihannya itu. Tapi menurutku, sudah naluri seorang anak untuk selalu minta ‘petunjuk’ atau ‘arahan’ dari orangtuanya, terutama ibunya. Ridho Allah katanya ada di ridho-nya orangtua. Dan surga katanya ada di telapak kaki ibu. Buat saya, justru ini bikin deg-degan..

Kehadiran Gwen tentu menyedot banyak waktu, pikiran, dan tenaga. Kalo kata orang-orang, setelah punya anak, anak itu akan jadi nomor satu. Waktu juga tidak akan terulang. Gwen yang masih bayi, tidak akan terulang lagi. Orang bilang, kamu akan selamanya jadi ibu, tapi anak-anakmu tidak selamanya jadi anak kecil. Walaupun kadang perlu diakui bahwa mama ingin punya waktu sendiri. Saat lagi cuci piring, kadang mama berpikir, kayanya waktu itu bisa mama manfaatkan untuk ngerjain hal lain yang lebih produktif dari sekadar cuci piring: baca novel misalnya. Maksudnya, walau sudah jadi ibu, tapi kan tetep perlu waktu untuk bisa tetap mengembangkan diri juga.

Oh iya Gwen. Kehadiranmu membuat mama mengaktifkan kembali sosmed, hahaha. Entah itu fesbuk atau instagram, rasanya mama perlu ruang untuk meng-upload foto-fotomu biar tidak berakhir hanya di handphone mama saja. Sekalian ngasih kabar ke sodara-sodara dan para sahabat. Kehadiranmu juga membuat mama mulai membuka diri untuk sharing pengalaman, bertanya dan meminta saran kepada sesama teman-teman mama yang juga udah pada punya anak. Pengalaman mereka belum tentu benar, tapi tidak salah juga untuk dicoba. Karena saat orang memberimu saran, sebenarnya dia sedang menasehati dirinya sendiri di masa lalu.

Kehadiran Gwen memaksa kami memasuki lorong ‘kebutuhan bayi’ di setiap supermarket atau minimarket yang kami masuki. Atau saat belanja online. Kamu tahu Gwen, ada tiga merek besar yang bertengger di rak perlengkapan bayi di minimarket. Ada Cussons, Johnson & Johnson, dan Zwitsal. Ada juga Pigeon.. tapi itu mahal. Hahaha.. tapi kalau perlengkapan makan, kayanya udah default gitu ya pakai yang Pigeon. Setiap mau nyuapin kamu pakai mangkok Pigeon, itu mama suka senyum-senyum sendiri. Abisnya di tengah mangkoknya ada tulisan ‘little coro’.. kamu tahu Gwen, coro itu kalo bahasa sunda artinya kecoak.. jadi kecoak kecil di mangkok.. itu kan menggelikan, Gwennnn..hahahaha..  Untuk popok juga seperti itu, ada Mamypoko, Merries, Pampers.. juga ada Goon, Sweety.. ah, nanti kamu juga tahu sendiri Gwen, saat giliranmu yang jadi ibu.

Well, tulisan ini sebenarnya udah ditulis sejak ulangtahun si Gwen yang pertama dan baru sempet diterusin sekarang. Maap kalo tulisannya ngga mengalir, alias loncat-loncat. Karena sekarang sudah Desember dan beberapa menit lagi itu tahun baru, jadi sebenarnya saya udah jadi ibu lebih dari satu tahun. Saya ngga kenal siapa itu Kiki Barkiah, bu Elly Risman, Ayah Edi.. atau nama-nama ahli parenting lainnya.. dari siapapun itu, ambil saja yang baiknya, yang kira-kira masuk akal untuk dijalankan. Menurut saya tidak ada orangtua yang lebih benar dari orangtua lainnya. Tidak ada ibu yang lebih hebat dari ibu lainnya. Semua ibu itu hebat. Mereka spesial dengan kondisinya masing-masing. Lewat mereka-lah Allah menitipkan generasi penerus.

Mama bukan ibu yang sempurna, Gwen. Kadang mama masih egois, benar kata papamu. Terkadang mama tetap bersikeras ingin tetap ngantor untuk sejenak ‘lari’ darimu, ‘lari’ dari urusan rumah tangga. Tapi mama akan terus berusaha menjadi ibu yang baik. Kita sama-sama belajar ya, Gwen. Mama berusaha tetap mendampingimu dari kamu belajar jalan, masuk sekolah, saat kamu mulai punya gebetan, saat kamu patah hati, saat kamu wisuda, saat kamu menikah.. ahh kejauhan. Mama dan papa akan terus berusaha memberikan yang terbaik yang kami bisa ya, Gwen. Bukan sekedar materi. Tapi yang lebih penting, semoga kami juga bisa memberikan contoh yang baik. Karena sejak jadi orangtua, kehadiranmu memaksa kami menjadi versi yang lebih baik dari diri kami yang sebelumnya.

[Jagakarsa, 31 Desember 2016]

[11.59 PM]

Advertisements

About this entry