Mencari Rumah.

Si Gwen sudah mau 11 bulan. Sebentar lagi satu tahun. Saat ini dia masih belum bisa jalan, tapi sudah mulai berdiri, merangkak, dan mengacak-acak rumah. Bayangkan saat nanti dia betul-betul sudah bisa jalan. Kemudian lari ke sana-kemari. Dia perlu ruang gerak yang lebih besar. Dia butuh rumah baru. Lantas apa salahnya dengan rumah yang sekarang? Sebelum itu, mungkin ada baiknya menengok ke belakang sebentar.

Sudah hampir dua tahun—sejak menikah tentunya—saya dan suami hunting rumah. Berbagai pameran properti sudah kami datangi. Brosur-brosur sudah kami koleksi. Survei langsung ke lokasi juga sudah, mulai dari belum hamil, sampai pas hamil, sampai saat si Gwen sudah lahir dan besar seperti sekarang. Pencarian sempat terhenti saat Gwen harus menghadapi serangkaian operasi. Tapi kini operasi sudah selesai dan pencarian dilanjutkan lagi. Jadi dari mulai naik motor saat hamil besar, sampai naik kereta bawa-bawa si Gwen.. Bahkan pencarian lewat online juga sudah, tapi tetep belum ketemu juga jodohnya. Mencari rumah ternyata lebih sulit dari mencari jodoh..

Lantas selama ini tinggal di mana? Setahun pertama di rusun dekat kantor suami, setahun berikutnya di rumah dekat Setu Babakan. Tentu saja masih ngontrak. Menyesal? Untuk apa menyesal. Saya justru bersyukur. Bayangkan jika setahun pertama seandainya saya sudah beli rumah katakanlah di Depok, lalu saat hamil-hamil harus berdesak-desakan di kereta untuk berangkat kerja.. mau mampus saja rasanya. Setahun pertama jarak antara tempat tinggal dan kantor saya (dan kantor suami), sangat dekat. Bisa dijangkau dengan motor. Sehingga Alhamdulillah saya tidak perlu letih ‘berjuang’ untuk berangkat dan pulang kantor.

Setahun berikutnya tinggal di ‘rumah orang’—utuh ya, bukan rumah petakan. Suasananya enak, tetangganya baik. Sejauh ini sebenarnya nyaman-nyaman saja tinggal di sini. Maksudnya dari segi jarak, masih bisa dijangkau. Masih bisa naik kereta tanpa harus seletih saat harus pulang ke Bogor. Lingkungannya sudah ‘jadi’, sudah terjangkau gojek, deket sama pasar dan mall, banyak Alfamart, dan ada daycare yang bisa jadi tempat menitipkan si Gwen. Tapi.. (selalu ada tapi kan?) Tapi rumahnya sudah banyak rayapnya dan bocor di sana-sini. Dapurnya terlalu sempit. Langit-langitnya terlalu tinggi jadi susah mau pasang lampu. Jendela dan ventilasi udara-nya kurang. Sulit kalau tidak ada AC. Tapi dengan harga segini (untuk ukuran Jakarta), udah Alhamdulillah banget bisa ngontrak di rumah yang aksesnya mudah dijangkau.

Lantas sampai kapan mau ngontrak? Terus malu masih ngontrak? Untuk apa malu? Toh saya tidak menyusahkan atau merugikan orang lain (apa jangan-jangan menyusahkan diri sendiri? Haha). Dari awal saya sudah ingin mandiri sejak menikah. Setelah menikah, langsung keluar dari rumah yang di Bogor. Ingin berumah tangga berdua saja dengan suami, tanpa numpang di rumah orangtua ataupun mertua. Lagipula fisik ini rasanya sudah tidak kuat jika harus bolak-balik Bogor-Jakarta. Saya sudah pernah bercerita soal ini panjang-lebar di entri Dilema Domisili.

Kembali ke mencari rumah. Jadi setiap ditanya “sebenarnya kamu mau rumah di daerah mana?”.. saya pun bingung jawabnya. Mungkin pertanyaan pertamanya jangan itu dulu. Pertanyaan pertamanya mungkin ini: “bener kamu mau tinggal di Jakarta? Jadi warga Jakarta?”.. Lantas apa salahnya jadi warga Jakarta? Kalau kerjanya di Jakarta, ya jadi warga Jakarta ajalah sekalian. Dari kecil udah tinggal di Kota Bogor, masa iya gedenya mau degradasi tinggal di Kabupaten Bogor? Atau di Tangerang Selatan, Banten? Eh emang Bogor ama Banten lebih maju mana sekarang? Hahaha..

Survei rumah sebenernya udah sampai ke mana-mana. Daerah Serpong udah, mulai dari Nusa Loka BSD, Serpong Jaya, sampe Paradise Serpong City. Daerah Depok juga udah, mulai dari Grand Depok City, Grand Depok Residence, sampe Studio Alam TVRI. Yang daerah Jagakarsa sini juga udah, mulei dari Jalan Timbul sampe Cipedak. Terbaru, daerah Cisauk juga udaaah, tepatnya di perumahan Bale Tirtawana. Tinggal daerah Bintaro sama Cibubur nih yang belum. Pengen liat Citra Indah sama Cibubur Country.. eh pengen liat juga apartemen Podomoro Golf View.. aduhh ingin ini ingin itu banyak sekaliii..

FOKUS. Oke fokus. Pertama, mau rumah atau apartemen? Hmm. Tentunya saya masih pingin rumah (landed house). Yang ada halamannya biar si Gwen bisa bermain dengan wajar. Kedua, mau rumah di mana? Bogor, Jakarta, atau mau nyoba di tempat yang sama sekali baru? Seperti yang di Cisauk itu? Ahhh. Sebenernya rumah yang di Bale Tirta itu cakep lingkungannya, harga rumahnya juga wajar dengan luas tanah dan luas bangunan yang ditawarkan. Tapi.. tapi jauh.. keretanya masih jarang. Dan, tiap hari harus turun dan naik dari Tanah Abang.. sanggup nggak ya saya? Ketiga, mau rumah baru apa seken? Ya pinginnya sih rumah baru.. Tapi kalau rumah baru yaa tau risiko harganya kaann.. Keempat, mau rumah yang udah jadi apa indent? Yaa pinginnya sih udah bisa langsung ditempatin ya..

Kalau dari segi akses, saya pengennya kalau naik kereta mentoknya di Lenteng Agung sini. Di tengah-tengah antara Jakarta-Bogor. Daerah Jagakarsa sini udah oke sebenernya. Tapi harganya udah nggak masuk akal. Udah em-em an semua. Rata-rata udah 2 lantai. Kalau pun ada yang 1 lantai, luas tanahnya sempiiit tapi harganya di atas 500 jutaaa. Kalau dari segi model rumah, saya sebenernya pinginnya yang model komplek. Kaya Citra Indah yang di Cibubur itu. Tapi tapi tapiiii.. jauhhh.. duhhh. Ada siih yang deket sini, rumah komplek dan akses mudah dijangkau: perumahan Casasima. Tapi tapi tapiii.. semuanya 2 lantai dan harganya udah di atas 1M. ahhhh.. God, can you just make it easier for me?

Mencari rumah saya rasa wajar kalau memakan waktu lama. Toh karena memang itu bukan untuk ditinggali setahun-dua tahun. Tapi untuk 20-30 tahun ke depan. Dan pertimbangannya bukan hanya dari segi orangtua, tapi juga anak. Adakah di sekitar situ sekolah yang bagus dan mudah dijangkau untuk sekolah si Gwen nantinya? Tidak hanya itu, kalau bisa juga tidak terlalu jauh sama rumah orangtua yang di Bogor. Jadi kalau mau pulang, gampang. Tapi kalau kata suami, batasan utamanya itu justru bukan di situ. Tapi seberapa sanggup kita menyisihkan gaji untuk cicilan rumah setiap bulannya? Dengan kata lain, sebenernya kami mampunya itu beli rumah yang harganya berapa? Huhu.

Semakin lama memutuskan, harga rumah tentu semakin melambung. Dan tentu saja, si Gwen keburu makin besar. Tapi saya juga nggak mau terburu-buru memutuskan, dan kemudian tiba waktunya saya menyesal dan memutuskan ingin menjual lagi saja rumah yang baru saja dibeli.. Apalagi beli rumah itu juga butuh dana yang tidak sedikit. Sangat wajar rasanya jika harus betul-betul berhati-hati kan? Seumur hidup saya tidak pernah punya cicilan yang sampai berjuta-juta, bertahun-tahun pula. Pada dasarnya saya nggak suka nyicil. Saya nggak suka punya utang sama orang—apalagi sama bank.

Jadi kesimpulannya?

Walau bagaimanapun dan dengan alasan apapun, sebenernya saya—kami harus cepat memutuskan. Karena kontrakan ini hanya sampai Desember.. Jika belum ketemu juga rumahnya, ya mungkin terpaksa kami harus perpanjang kontraknya. Kalaupun sudah ketemu rumah yang diinginkan, proses KPR dan sebagainya rasanya juga akan butuh waktu yang lama..

 

[Jagakarsa. 4 September 2016]

[11.07 PM]

 


About this entry