Menunggu Operasi Ketiga.

1.Saat tulisan ini ditulis, si Gwen lagi tidur. Waktu menunjukkan pukul 9 malam, dan malam ini adalah malam minggu. Suami saya lagi nyetel youtube yang memutarkan lagu-lagu Sheila on 7 dan Dewa 19 (lama-lama dia ninggalin saya tidur duluan). Pada saat yang sama, temen-temen kantor saya lagi pada outing di Bandung. Saya curi-curi waktu untuk bisa menulis (baca: mengabadikan ingatan) mumpung si Gwen lagi tidur. TV yang ‘menghibur’ itu pun dalam kondisi dimatikan. Bosan juga setiap channel isinya sama, headline soal tragedi sianida di dalam kopi yang mengingatkan kita pada salah satu kasus pembunuhan di komik Detective Conan karangan Aoyama Gosho.

2.Sekarang sudah akhir Januari. Seharusnya—ya seharusnya, bulan depan saya dan suami, sudah siap-siap untuk operasi ketiga si Gwen. Operasi pertama itu 11 Oktober 2015 dan operasi kedua adalah pada 14 Desember 2015. Jika benar-benar menunggu rentang waktu dua bulan, seharusnya pertengahan bulan depan si Gwen sudah bisa operasi yang ketiga—operasi yang terakhir. Sudah cukup lama dia menderita, dan saya tidak sanggup melihatnya menderita lebih lama. Kulitnya sudah kemerahan dan iritasi karena tertutup terus oleh plester kantong stomanya. Karena ini jugalah si Gwen belum bisa dimandikan dengan ‘normal’, mandi yang diguyur dan pakai sabun..

3.Saat kontrol hari Selasa lalu, dokternya baru bilang bahwa si Gwen operasinya Maret, menunggu berat badannya 5 kg. Saat ini si Gwen berat badannya baru 4.3 kg. Dan saya pun lemas. Masih panjang perjalanan si Gwen untuk bisa betul-betul ‘normal’. Hari Selasa lalu itu, ketika kontrol, si Gwen nangis ketika masuk ruangan. Saya nggak tahu kenapa, padahal sepanjang perjalanan dari rumah ke rumah sakit, dia sudah minum ASI. Lalu suster gendut di situ pun meminta saya menyusui si Gwen—saat itu juga, di tempat itu juga. Bilangnya kan bisa pelan-pelan ya, tapi seantero ruangan memandangi saya karena dia menyebut saya sebagai ibu yang ‘pelit ASI’..akhirnya saya susuin juga, walaupun menyusui di tempat umum itu sangat tidak nyaman buat saya. Mana hari itu adalah hari pertama saya haid.. lengkap sudah. Sampai rumah pun saya nangis..

4.Merawat anak (bayi) dengan diagnosa Malformasi Anorektal atau disebut juga Atresia Ani, ternyata cukup menguras tenaga, pikiran, emosi, dan biaya juga. Ini sama sekali tidak pernah terbayangkan oleh saya sebelumnya. Sejak hamil pun saya seneng-seneng aja, berusaha berpikir positif. Berulangkali suami mengingatkan saya untuk sabar, jadikan ini sebagai tabungan pahala untuk orangtuanya. Tapi berulangkali juga saya menceramahi diri sendiri, bahwa saya sama sekali tidak mengharapkan pahala dari ini. Karena yaa ini sudah menjadi tanggungjawab orangtuanya.. tanggungjawab!! dan itu MUTLAK!! Tidak bisa ditawar dan nggak boleh ada alasan!! Saya ibunya, dan saya wajib merawatnya. Ohiya tulisan soal diagnosa ini akan saya tulis di satu entri sendiri—nanti, tidak sekarang.

5.Ini bukan mengeluh, ini hanya ‘curhat’. Ada teman yang bilang, ‘walaupun lo nggak bilang, tapi gw tahu lo depresi, Ga’.. yah, apapun itu, lebih baik diluahkan daripada dipendam sendiri. Makanya saya menulis ini. Tapi si Gwen lahir dalam kondisi apapun, saya tetap bangga jadi orangtuanya. Suami pun berulangkali mengingatkan, kita harus tetap bangga karena si Gwen punya semangat juang yang tinggi. Semangat untuk survive. Bahkan dia nampak lebih kuat dari orangtuanya. Buktinya nangisnya tetap kencang. Menyusunya lahap sekali. Saat ini si Gwen bibirnya lagi ada putih-putihnya, macam lagi sariawan. Tapi dia seperti tidak menghiraukannya, dia tetap menyusu dengan lahap.

6.Sambil menunggu operasi terakhir, kondisi dalam rumah kadang-kadang tidak sehat. Saya dan suami, terus terang, mulai berantem untuk hal-hal kecil bin sepele. Misalnya soal sampah, naro barang, bahkan jemuran. Bukan berkelahi lho ya, kalau kelahi itu kok kesannya main fisik.. Ini mah berantemnya berantem mulut gitu, ambek-ambekan.. hehe.. Tentu saja berantemnya nggak pake lama, kami tahu kami hanya punya satu sama lain, kami bergantung satu sama lain. Dan Gwen butuh orangtuanya. Saat kami berantem, si Gwen kadang nangis, kaya yang ngerti gitu dan ‘protes’ kenapa sih orangtuanya malah berantem untuk hal-hal yang nggak penting? Hahahaha..

7.Suami juga seringkali mengingatkan, ‘jangan dimarahin Gwen-nya..’. Kadang si Gwen menyusu dengan napsu sekali, sehingga saya jadi merasa nyeri. Kadang saya marahin ‘dek, yang bener dong nyusunya mama sakit nih..’. Padahal sayalah yang harusnya bisa mengubah posisi atau mengarahkan dia, karena dianya mah nggak tahu apa-apa kan, wong masih bayi. Dan ini betul-betul seperti menegaskan karakter kami berdua, yang sama-sama keras. Kadang saya suka berpikir, kenapa dari awal seolah ini sudah menyiratkan bahwa saya dan si Gwen nggak akur karena sama-sama berwatak keras? Mudah-mudahan nggak begitu ya.. mungkin saya memang orangnya nggak sabaran, gampang panik, dan emosian.. tapi Gwen, kamu harus bersyukur punya bapak yang luar biasa sabar..

8.Saya bilang sama suami, dokter di rumah sakit itu laki-laki sih ya, jadi dia tidak mengerti suasana batin ibunya. Bayangkan, ini anak pertama. Perempuan. Sejak lahir saya dan si Gwen sudah dipisah, dan di usianya yang baru empat hari, si Gwen sudah harus operasi, merasakan jarum suntik dan dinginnya ruang operasi. Selang dua bulan, si Gwen sudah harus operasi lagi. Dan sekarang kami masih harus menunggu sampai Maret untuk operasi terakhir..belum lagi jarak yang jauh dari rumah ke rumah sakit (Jagakarsa ke Cideng). Belum lagi ibunya ini hampir saja resign demi merawat sendiri anak pertamanya, darah dagingnya (saya nggak percaya jika Gwen dipegang orang lain, bahkan saudara sekalipun). Belum lagi tabungan yang terkuras untuk beli ini itu, alat-alat kesehatan, obat-obatan, kantong stomanya.. Tentu saja dokter tidak mikir ke situ bukan? Suami pun menegaskan, justru bagus kalau dokter hanya bertindak berdasarkan alasan medis dan tidak melibatkan emosi. Kalau dia nurutin ibunya (saya maksudnya), yaudah dia akan buru-buru operasi tanpa mengikuti prosedur yang seharusnya. Ya abisnya waktu dokternya bilang ‘ojo kesusu, bu..’, rasanya ingin saya luapkan kondisi-kondisi tadi.

9.Dan karena si Gwen ini juga masih bayi, saya tetap harus memperhatikan jadwal imunisasinya. Seringkali yang ada di otak itu hanya jadwal kontrol dokter dan operasi. Kadang saya lupa bahwa si Gwen ini tetaplah bayi yang umurnya juga terus bertambah. Saya juga harus tetap memperhatikan perkembangannya dari bulan ke bulan, karena usianya itu tidak akan pernah bisa diulang. Memasuki usia hampir empat bulan, si Gwen sekarang udah bisa bereaksi dan ketawa kalau diajak ngomong, udah bisa tengkurep sendiri, dari tengkurep udah bisa balik badan sendiri, udah rajin gigit-gigitin tangannya.. pokoknya udah nggak bisa ditinggal dikit. Ibunya meleng sedikit aja tahu-tahu dia udah hampir mau jatuh dari kasur..

10.Jadi yang penting sekarang.. saya hanya perlu fokus ke ASI, bagaimana caranya nambah berat badan si Gwen dengan cepat. Soal ASI ini pun drama yang lain lagi. Suami bilang saya selalu beralasan kalau disuruh makan. Omongan seperti makan yang banyak, makan sayur, coba sering ngemil, banyakin makan buah, banyakin air putih.. itu sudah berkali-kali dikatakan suami saya dan dia bilang saya selalu beralasan nggak sempetlah, inilah, itulah.. disuruh makan alesannya nggak sempet, tapi kenapa selalu ada waktu buat baca wasap, buka fesbuk.. hadehh. Suami selalu bilang, fokus utama saya cukup di ASI dan menyusui. Soal pekerjaan rumah yang lain bisa dia kerjakan, karena kalau menyusui katanya dia nggak bisa.. hahahaha. Gwen, beruntung kau Nak, punya bapak yang luar biasa sabar..

 

 

[Jagakarsa, 30 Januari 2016]

[11.01 PM]

 


About this entry