Melahirkan Gwen.

Hari ini hari Selasa, 10 November 2015. Nak, hari ini usiamu sudah 1 bulan 3 hari. Seharusnya, usiamu baru beberapa hari saja karena menurut prediksi dokter, “seharusnya” kamu lahir akhir Oktober atau awal November. Tapi Tuhan berkehendak lain. Kamu sudah lahir pada 7 Oktober lalu. Hari Rabu sore. Hari yang tidak mungkin saya lupakan.

Kamu mau tahu cerita soal detik-detik kamu dilahirkan? Sini mama ceritakan.

Hari itu hari Senin, 5 Oktober. Hari kerja seperti weekdays biasanya. Mama dan petinggi di kantor baru saja membicarakan soal rencana cuti melahirkan, yang rencananya akan mama ambil lebih awal. Mungkin pertengahan Oktober. Karena ternyata mamamu ini sudah agak kepayahan dengan kondisi hamil tua. Lagipula Oktober memang sudah masuk bulan kesembilan dan sudah seharusnya mama istirahat untuk bersiap melahirkan kamu di Bogor, Nak.

Sepulang kerja, mama makan di rusun sambil menunggu papamu pulang. Papamu pulang agak larut hari itu. Akhirnya mama kirim pesan lewat whatsapp, ngasih kabar kalau mama agak curiga karena mama tidak merasakan kamu bergerak-gerak di dalam perut. Biasanya kamu selalu bergerak, Nak, apalagi malam hari—pasti lebih aktif. Lantas saat papamu pulang, perut mama didengarkan musik tapi kamu tetap tidak bergerak. Seharusnya, mama tidak menganggap sepele “pertanda” ini.

Dini harinya, jam 3 lewat, mama terbangun. Merasa ada yang merembes di kasur dan meminta papamu menyalakan lampu kamar. Ternyata, mama pendarahan.. Papamu panik. Tidak lama kemudian, ada air yang keluar dari jalan lahir—banyak sekali. Kasur jadi basah dan penuh dengan darah. Mama sendiri takut, Nak.. Papamu pun semakin panik.. Tidak ada ambulans yang bisa dimintai tolong ketika itu. Akhirnya papamu keluar manggil taksi, sementara mama menyiapkan barang dan baju seadanya, untuk dibawa ke rumah sakit. Akhirnya kami langsung pergi ke RS Jakarta—tempat di mana mama biasa kontrol kehamilan saat di Jakarta.

Lalu mama dibawa ke IGD. Lalu pindah ruangan. Dan infus dipasang. Lalu mama disuntik di sana sini, diperiksa apakah memang mama benar-benar sudah akan melahirkan. Mama menangis, Nak. Mama tidak suka disuntik. Menjelang pagi, air yang keluar dari jalan lahir—yang memang ternyata adalah air ketuban, terus keluar. Dokter akhirnya datang dan mama di-USG lagi. Dia bilang beratmu hanya sekitar 2,6 kg dan usia kehamilan baru sekitar 35-36 minggu. Artinya, belum cukup umur untuk lahir alias prematur. Tapi air ketuban masih cukup banyak sehingga masih dimungkinkan untuk melahirkan secara normal. Setelah itu waktu terasa berjalan begitu lambat dan mama semakin deg-degan.

Jpeg

Tengah harinya (sekarang sudah hari Selasa, 6 Oktober), mama dipindah ke ruang tindakan dan mulai diinduksi untuk merangsang mules agar mama bisa melahirkan secara normal. Pelan-pelan mama mulai mules tapi setelah dicek, pembukaan tidak kunjung bertambah. Masih saja pembukaan satu. Tapi kala itu mama masih nafsu makan dan masih bisa ngobrol sama papamu dan juga bidan yang jaga di situ. Papamu juga sudah mengabari keluarga dan sejumlah kerabat dekat. Oiya Om Ariel juga sudah datang dari Bogor, membawakan tas yang berisi bajumu dan perlengkapan bersalin lainnya. Mama mulai sedikit tenang. Malam harinya, dosis induksi ditingkatkan karena hasil CTG tidak begitu banyak perubahan. Nak, induksi itu dialirkan obat lewat infus dan mama tetap tidak ngerasa mules yang hebat. Akhirnya, malam pertama di rumah sakit pun berlalu.

induksi

Besoknya, hari Rabu tanggal 7 Oktober. Paginya mama sarapan seperti biasa. Menjelang tengah hari mama dan papa dijelaskan soal macam-macam bius. Edukasi-lah intinya. Sampai akhirnya air infus induksi kedua sudah habis dan ada seorang bidan yang berbicara dengan dokter lewat telefon dan dokter juga sudah bicara dengan papamu. Disimpulkan bahwa induksi gagal karena pembukaan tidak juga bertambah dan mama harus segera operasi sesar hari itu juga. Seketika mama pun menangis.

Tidak pernah terbayang sama sekali kalau mama harus operasi. Mama sudah bertekad bahwa mama bisa melahirkan normal, semua perempuan bisa melahirkan normal. Mama sudah menyiapkan lahiran di Bogor, sudah senam hamil..Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, Nak. Sore itu juga, mama masuk ruang operasi. Dengan mata yang masih sembab habis menangis, dokter-dokter itu tidak menunggu sampai mama sedikit tenang atau setidaknya beri sedikit waktu agar mama bisa menguasai diri.

Di ruang operasi banyak orang, Nak. Tidak hanya dokter kandungan, tapi juga ada dokter anastesi dan dokter anak. Serta beberapa orang asisten. Sebelum operasi, mama diajak berdoa sama dokter anastesinya. Sesungguhnya, mama sudah pasrah, Nak. Kalaupun saat itu mama harus mati setelah melahirkan kamu, mama pasrah. Mama takut sekali. Baru sekarang mama menyadari bahwa mama sangat amat takut disuntik. Ada seorang perempuan berkata pada mama, “tenang bu, saya melahirkan tiga-tiganya sesar, bu”. Mungkin maksudnya biar mama sedikit lebih tenang menjalani operasi.

Operasi pun dimulai. Dokter menyuntikkan obat bius di dekat tulang belakang mama. Seketika mama tidak bisa merasakan kaki mama, seperti mati rasa dan lepas dari kaki. Tapi mama masih sadar. Mama masih bisa mendengar percakapan para dokter itu yang membicarakan soal gojek yang kini punya layanan baru go-massage. Mama lagi semaput di bawah, ehh dokter-dokter itu malah ngobrol soal gojek.. itu tuh rasanya.. ah sudahlah, haha. Saat perut mama ‘dibelah’, mama tidak merasa sakit tapi ada rasa seperti ditarik-tarik ke kanan dan ke kiri. Lalu tidak lama kemudian ada suara bayi menangis.

Dari situ mama tahu kamu sudah lahir, Nak. Pukul 16.28 WIB. Berat 2,42 kg dan panjang 45 cm.

gwen lahir

Seorang perempuan membawa bayi pada mama dan memperlihatkan bayinya dari depan dan belakang, menunjukkan bahwa bayinya perempuan. “Dicium dulu bu anaknya,” ujar perempuan itu. Mama pun mengecupmu untuk pertama kalinya. Setelah mama selesai dijahit, mama dikeluarkan dari ruang operasi dan kamu diletakkan di dada mama untuk memulai proses Inisiasi Menyusui Dini atau IMD. Kamu sudah menempel di dada dan mama sudah memegangmu, Nak, tapi ASI belum bisa keluar. Akhirnya mama dibawa kembali ke ruangan rawat inap. Mama masih merasa sangat lemas dan mengantuk. Antara sadar dan tidak sadar.

Sampai akhirnya bapak (kakekmu) duduk di samping tempat tidur mama dan memberitahu bahwa kamu harus dioperasi dan dirujuk ke rumah sakit lain. Seketika air mata kembali pecah. Seorang bidan membawamu ke ruangan dan mama hanya sempat memegangmu sebentar, lalu kamu dibawa keluar ruangan. Malam itu, beberapa jam setelah mama melahirkanmu, kita langsung berpisah, Nak. Belakangan papamu baru memberitahu bahwa dokter mendiagnosa ada kelainan bawaan bernama: Atresia Ani. Nanti mama ceritakan di entri selanjutnya aja ya soal ini.

Yang jelas, pengalaman melahirkanmu, mau tidak mau, sadar tidak sadar, menciptakan sedikit trauma. Darah, jarum suntik, rumah sakit.. mama benci semua itu. Tapi saat menggendongmu, ada rasa damai dan bahagia yang luar biasa. Dunia pasti akan berubah setelah ini. Tapi apapun itu, mama dan papamu akan terus berusaha melindungimu. We love you, Gwen Mahira Basari.

gwen inkubatorgwen gendong 3

gwen gendong 2

gwen gendong 1

[Istana Harmoni. 10 November 2015]

[08.32 PM]


About this entry