Asuransi oh (asu)ransi.

1.Seumur-umur, saya belum pernah dirawat inap di rumah sakit. Kalo nginep aja sih sering, waktu nemenin almarhum ibu dan almarhum nenek yang di Tasik. Dan kini, sebentar lagi saya akan merasakannya juga, di saat saya sendiri yang akan jadi pasien. Ya, detik-detik menjelang persalinan terasa semakin dekat sekarang. Padahal, perkiraan tanggal melahirkan masih satu bulan lagi. Ada dokter yang bilang 31 Oktober, ada juga yang bilang awal-awal November.

2.Lalu apa hubungannya dengan judul di entri kali ini? Sabar dulu. Rawat inap di rumah sakit tentu perlu biaya. Dan biayanya biasanya tidak sedikit. Biaya menginap semalam saja sudah seperti satu malam menginap di hotel. Memang, tergantung kelasnya juga. Tapi intinya bukan itu. Saat saya benar-benar akan rawat inap di rumah sakit, saat itulah saya baru sadar betapa pentingnya asuransi. Ya, tentunya agar kamu tidak perlu membayar segala pengeluaran selama rawat inap.

3.Tapi tiba-tiba pemerintah punya program jaminan kesehatan melalui BPJS Kesehatan. Pemerintah mewajibkan setiap perusahaan untuk menjaminkan karyawannya. Hal ini membuat banyak perusahaan memutus kontrak dengan provider asuransi swasta, biar nggak mesti dobel bayar preminya. Tapi di kantor saya, kami tetap memakai provider swasta, yang preminya dipotong dari gaji karyawan. Sialnya, benefit-nya ternyata tidak mencakup maternity alias tidak cover untuk kehamilan dan persalinan.

4.Lalu buat apa ada asuransi swasta, mesti bayar premi setiap bulan, jika ternyata saya tetap tidak mendapatkan “benefit”-nya? Saya tidak pernah punya riwayat sakit yang aneh-aneh, dan saya yakin saya juga tidak sedang dalam kondisi obesitas atau diabetes, kolesterol… atau apapun penyakit yang ke depannya memang membutuhkan asuransi. Saat yang saya butuhkan adalah cover persalinan, tapi asuransi swasta itu tidak bisa memenuhinya, saya merasa lalu buat apa kami punya asuransi??

5.Di sisi lain, kantor suami saya pun akan memutus kontrak dengan provider asuransi swasta, karena sudah ada BPJS Kesehatan—seperti halnya kantor-kantor yang lain. But guess what?? Kontrak akan diputus mulai 1 Oktober, sementara saya akan melahirkan di bulan itu.. seandainya saja saya melahirkan pada bulan September ini, biaya melahirkan masih bisa ditanggung oleh asuransi.. Sungguh nyesek, bukan? Kalo tiba-tiba hal ini muncul lagi di pikiran, saya suka pusing dan stress sendiri..

6.Lalu apa salahnya dengan BPJS Kesehatan? Memangnya mereka tidak menanggung biaya melahirkan? BPJS menanggung biaya melahirkan, dengan syarat-syarat tertentu, pastinya. Bidan di puskesmas dekat rumah bilang, mereka stand by 24 jam untuk persalinan normal. Kalau mau biayanya gratis, persalinan normal harus di puskesmas. Puskesmas baru akan merujuk ke rumah sakit kalau ada kondisi tertentu yang mengharuskan operasi sesar. Operasi sesar bisa gratis juga, tapii.. dengan syarat tertentu pastinya.

7.Sebelum ke persalinan, mari kita review sebentar saat saya cek kehamilan di puskesmas, menggunakan BPJS. Waktu saya sekali-kalinya cek kehamilan di sana, ibu-ibu yang mengantri lumayan banyak. Bidan yang bertugas hanya satu. Peralatan benar-benar seadanya. Tidak ada USG. Tempat tidur yang kaku dan tidak nyaman. Tidak ada AC. Dan sebelum pulang, saya hanya diberi vitamin C. Vitamin C sodara-sodaraaaaa.. Memang saat periksa, saya tidak mengeluarkan biaya sama sekali alias gratis.

8.Tapi apakah memang BPJS Kesehatan seburuk itu? Saya tidak tahu, karena saya baru sekali-kalinya pakai BPJS waktu cek kehamilan di puskesmas. Yang jelas, urusan asuransi ini sungguh membuat pusing. Satu hal yang pasti, anak saya harus lahir dengan damai ke dunia—mau itu lahir di puskesmas atau rumah sakit. Mau itu pakai asuransi atau tidak. Melahirkan harusnya menjadi peristiwa yang membahagiakan, bukan malah memusingkan dan bikin stress hanya gara-gara urusan biaya..

9.Akhirnya, pilihan tengah-tengah jatuh pada rumah bersalin. Sudah dua kali saya cek kehamilan di RB Nuraida, yang kebetulan lokasinya dekat dengan rumah. Insyaallah, nanti melahirkannya di sana juga. Kenapa rumah bersalin? Pertama, biayanya tidak semahal rumah sakit, tapi fasilitas dan tenaga medisnya lebih memadai daripada puskesmas. Kedua, setidaknya saat saya mesti satu kamar dengan pasien lain, pasien lain itu tentunya juga sama-sama mau/habis melahirkan.. hehehe..

10.Ternyata di jaman sekarang ini, banyak sekali pertimbangan yang dibuat oleh para calon orangtua (terutama ibu) dalam memilih dokter, tempat dia cek kehamilan dan calon tempat bersalin. Dokter yang terbaik tidak lagi menjadi parameter yang utama, karena toh kalo mau sama dokter yang sudah terkenal bagus, kita juga harus siap-siap ngantriiii panjanggg.. Rumah sakit juga bukan lagi parameter utama, karena kembali lagi, perlu dipastikan apakah rumah sakit tersebut menerima asuransi kita atau tidak.

11.Melahirkan tinggal sebulan lagi. Seharusnya saya nggak boleh stress, karena itu bisa mempengaruhi janin juga. Di trimester akhir ini saya jadi jarang ngajak ngobrol si Gwen.. Gwen juga sudah jarang dibacakan cerita lagi. Saya jadi kurang bersemangat mau senam hamil. Makan pun jadi berantakan, akibatnya saya jadi diare lagi..Perkara asuransi ini ternyata memang benar-benar asuuu.. Tapi saya nggak boleh nyerah. Ibunya tetap harus sehat dan kuat!!

 

[Karet Tengsin, 24 September 2015]

[11.50 PM]


About this entry