Catatan jelang pernikahan.

Cinta pertamanya adalah Jogja. Hidup di Code adalah masa-masa saat dia lagi kasmaran—lagi lucu-lucunya. Kamu akan dengan mudah menemukan matanya begitu berbinar saat dia bicara tentang Code dan Jogja. Karena hatinya masih di sana—bahkan sampai sekarang. Mungkin saya cemburu, mungkin juga tidak. Tapi saya tidak pernah merasa saya begitu penting di hidupnya. Saya selalu merasa saya ini hanya pelengkap hidupnya, ‘sekedar’ teman hidup. Tapi tujuan utamanya tetap bukan saya.

Saya rasa dia masih punya cita-cita yang lain. Sepertinya jadi wartawan ekonomi bukanlah cita-citanya. Mungkin tidak pernah terbayangkan olehnya sebelumnya, kalau ternyata jadi wartawan ekonomi itu juga harus liputan di pengadilan. Pada dasarnya, hidup di Jakarta bukanlah kemauannya. Dia sampaikan ini kepada saya beberapa kali. Ya, orang Jogja biasanya nggak betah tinggal di Jakarta. Orang Jogja ngga suka bergelut dengan kehidupan urban Jakarta. Tapi tentu saja, pendapat ini sangatlah subjektif.

Dia pergi merantau ke Jakarta karena memang butuh penghasilan. Dan ketika dia sudah mendapatkannya, dia merasa sangat kaya, karena sekarang dia bisa makan tiga kali sehari dan bisa jalan-jalan naik motor. Dia rajin memberi ongkos pada tukang parkir, memberi uang pada pengemis, dan memberi ‘upah’ pada pengamen. Barangkali dia teringat teman-temannya di Code. Dia juga sering memberi makan pada kucing yang seringkali menghampiri saat kami berdua sedang makan di kaki lima. Dia suka minum kopi. Tapi sampai sekarang saya tetap tidak hafal jenis-jenis kopi dan tidak bisa membedakannya. Dia suka nulis blog. Blog-nya juga banyak, tidak hanya satu. Terkadang saya ‘kepo’ dan mampir ke blognya, tapi lebih sering memilih untuk sengaja tidak membaca lebih jauh. Saya takut menemukan pribadi yang sama sekali lain dari yang sudah saya kenal selama ini.

Yang saya tahu, dia suka mengerjakan hal-hal yang sederhana, hal-hal yang tentunya tidak membutuhkan banyak uang dan nggak pake stress. Dia senang sekali mancing. Dia sangat meluangkan waktu untuk membaca, terutama bukunya Haruki Murakami dan Eiji Yoshikawa. Dia nggak begitu selera sama buku-buku lokal macam yang ditulis oleh Dewi Lestari atau Andrea Hirata. Tapi dia juga suka baca bacaan kaya tipe orang berdasarkan golongan darah, tips-tips atau artikel NatGeo, sampe ke malesbanget.com. Kadang juga dia suka ngisi TTS dan main game yang ada di handphone-nya. Atau buka-buka youtube. Dia lebih suka mengerjakan hal-hal macam itu daripada harus ngobrol sama perempuan. Ngobrol sama sesama laki-laki aja mungkin jarang, apalagi ngobrol sama perempuan.

Lalu dari mana kami bisa saling jatuh cinta?

Saya pikir semakin kita dewasa, kita semakin sulit untuk jatuh cinta. Dulu begitu saya tahu dan sadar bahwa saya jatuh cinta sama orang ini, besoknya rasanya ingin langsung menikah karena merasa sudah begitu yakin bahwa saya telah menemukan jodoh saya. Saya seolah mendapat ‘jawaban’ dari kekosongan yang selama ini saya cari dari pasangan-pasangan terdahulu. Saya yakin ketika itu saya tidak mau cari pacar lagi, tapi ingin cari suami. Saya ingin hati ini bisa settle. Tapi toh ternyata memang tidak semudah itu. Pelan-pelan Tuhan menguji kesabaran saya dan waktu membantu saya untuk menyiapkan diri. Menjelang pernikahan, yang namanya ragu pasti ada. Apalagi ketika kamu masih merasa bahwa orang ini sepertinya tidak butuh pasangan, tidak butuh perempuan. Berkeluarga itu seolah bukan cita-citanya. Seperti yang saya bilang tadi, tujuan hidupnya itu bukan saya. Tapi saya tahu bahwa kami beneran saling jatuh cinta. Dan kami sama-sama ingin menikah.

Jatuh cinta itu soal selera. Ada laki-laki yang suka perempuan berjilbab. Ada yang suka perempuan berambut panjang. Ada yang suka perempuan kulit putih. Ada yang suka perempuan yang dandan. Ada juga perempuan yang suka laki-laki yang tidak merokok. Ada yang suka laki-laki berambut gondrong. Ada yang suka sama laki-laki yang lebih tua. Tapi ada juga yang lebih suka laki-laki yang lebih muda. Dan seterusnya. Tapi tentu kita sadar bahwa kalau mencari orang yang betul-betul kita inginkan, itu tidak akan pernah ketemu. Saya sendiri sering berkhayal bahwa alangkah indahnya hidup kalau punya pasangan yang campuran antara Indra Herlambang, Sandy Sandoro, dan Oka Antara. Hahahaha..

Saya dan orang ini sebenarnya begitu berbeda. Saya pernah menanyakan, apa betul kamu sanggup mau hidup bersama perempuan hedon kaya saya ini? Saya sendiri pernah menanyakan ke diri saya sendiri, apa bener saya bakal sanggup hidup sederhana, hidup dengan segala perbedaan yang ada. Kalau dia lebih seneng baca buku, saya lebih suka nonton film. Kalau dia suka dengerin lagu Didi Kempot, saya lebih suka lagu-lagu American Top 40. Hahahaha.. tapi rasanya ada satu hal yang kami sama-sama suka: kami sama-sama lebih suka tidur daripada keluar rumah, kalo emang kondisinya lagi capek banget (terutama gara-gara kerjaan), ya pinginnya istirahat aja.

Jatuh cinta itu satu hal, menikah itu hal yang lain lagi—apalagi kami sadar betul bahwa kami satu kantor. Saat kami menjalin hubungan, tidak banyak teman yang tahu. Bisa dibilang kami memang merahasiakannya. Bukannya apa-apa. Buat saya sendiri, saya ingin membiarkan saya sendiri yang merasakannya dan saya sendiri yang memutuskan, apakah saya ingin lanjut sama orang ini atau tidak. Saya ingin dengar kata hati saya sendiri, tidak mau campur tangan atau pendapat orang lain.

Ketika kami memutuskan ingin menikah, banyak hal yang harus dikerjakan, terutama: mencari pekerjaan baru. Setelah dapat, baru kabar bahagia ini disebarkan. Banyak yang kaget dan sama sekali tidak menyangka bahwa ternyata selama ini kami berdua menjalin hubungan. Ya, wajar saja. Toh memang kami jarang sekali terlihat sedang jalan berdua (baca: emang pacarannya juga jarang kok). Dan ketika saya sedang menjalin hubungan, di saat yang bersamaan saya ingin tetap mengerjakan hal-hal yang biasa saya lakukan. Saya ingin tetap berkumpul bersama teman-teman saya, saya ingin tetap karoke bareng sama mereka, menjenguk teman yang sakit, termasuk tetap ngobrol sama laki-laki lain.

Dulu saya suka merasa kasihan sama teman perempuan yang begitu dia punya pacar, seolah dia nggak punya temen lagi. Maksudnya, seolah dia lupa sama temen-temennya dan temen-temennya pun males untuk ‘nemenin’ dia lagi. Saya tidak mau jadi orang seperti itu. Tapi belakangan, saya lebih sering menghabiskan waktu sama orang ini karena harus mengurus pernikahan. Dia orangnya pendiam, dan pelan-pelan itu nular juga ke saya. Sekarang saya juga jadi lebih banyak diam dan males untuk ngobrol atau membuka pembicaraan baru sama orang.

Dulu saya nggak suka sama laki-laki pendiam, tapi sekarang malah saya dapet yang pendiam. Dulu saya nggak suka sama orang Jawa, ehh dapetnya malah orang Jawa. Hahahaha.. Dulu persepsi saya itu, orang Jawa itu terlalu woles hidupnya, santai, ngomongnya pelan, dan nggak bersemangat. Tapi sebenarnya bapak saya sendiri orang Jawa, dan dia tidak seperti itu. Bapak juga sekarang kayanya seneng banget karena dapat mantu orang Jawa—sesuai keinginan dia.

Oh iya ngomongin soal bapak, menjelang pernikahan ini juga sebenernya saya agak sedih karena harus ‘meninggalkan’ bapak. Cukup sulit dan butuh waktu bagi saya, dari yang awalnya nurut sama bapak, jadi harus nurut sama suami. Nanti saya akan punya rumah tangga sendiri, dan saya punya ‘komandan’ baru yang harus saya ikuti. Siap tidak siap, mungkin memang ‘sudah waktunya’ saya menikah. Cepat atau lambat, momen ini pasti datang. Sebentar lagi, saya akan keluar dari rumah, dan nikah sama orang ini.

Orang ini namanya Muhamad Taufikul Basari. Orang yang baru saya kenal efektif mungkin satu tahun. Dan 6 Desember nanti saya bakal jadi istrinya. Bayangkan, si Vega jadi istri orang!

Saya berusaha melihat sisi baiknya saja. Setelah menikah, ada kehidupan baru yang mudah-mudahan bisa membuat saya kembali bersemangat menjalani hidup. Setidaknya, nanti ada yang nganterin saat saya harus ke rumah sakit. Setidaknya, saat saya bengong kini saya sadar bahwa saya tidak sendirian. Dan saat saya mati nanti, saya tahu saya tidak sendirian.

Di sisi lain, saya harus lebih banyak belajar bagaimana mengurus dan memperhatikan orang lain—karena saya tidak hidup sendiri lagi. Punya pasangan itu selalu lebih baik daripada sendirian. Sendirian itu bikin kita egois dan tidak terbiasa peduli sama orang lain. Kalau punya pasangan, kita akan belajar bagaimana harus kompromi dan terus berusaha sehat agar tidak menyusahkan orang lain. Kalau punya pasangan, kita tidak ingin banyak hal lagi di hidup ini. Kita cuma ingin sehat dan melihat pasangan kita bahagia. Itu aja.

 

[Kebon Sirih, 30 November 2014]

[11.46 PM]


About this entry