Lima Tahun.

1.Bekerja menjadi wartawan adalah pilihan saya sendiri. Wartawan atau jurnalis, adalah cita-cita saya dari jaman sekolah dulu. Tentu, cita-cita ini adalah efek dari menonton berita di televisi saat melihat reporter melakukan reportase—ditambah sedikit keyakinan bahwa saya berbakat menulis. Pada tahun 2014 ini, ternyata saya sudah lima tahun jadi wartawan. Saya mulai bekerja pada bulan Juli 2009. Tapi tanggalnya saya lupa, nanti saya cek lagi deh ya.

2.Ada yang bilang, suka menulis tidak harus jadi wartawan. Terbukti, beberapa teman memutuskan resign dan ada yang alih profesi menjadi penulis novel bahkan menjadi guru yang mengajar anak-anak. Sebagian yang lain tetap jadi wartawan, tapi ganti bidang. Misalnya dulu dia menulis berita ekonomi, kini pindah kantor dan menulis soal gaya hidup dan review restoran. Ada juga yang resign karena masalah kesehatan atau perkara klasik: kawin.

3.Saya bekerja satu tahun di Jurnal Nasional dan empat tahun di Bisnis Indonesia. Pada awal-awal bekerja, saya sempat ingin menyerah sementara dan lanjut kuliah S2. Mungkin karena saya terlalu muda saat itu, baru 21 tahun. Bolak-balik dari Rawamangun-Sudirman ternyata sangat menyita energi saya ketika itu. Tapi toh Jurnas begitu berjasa karena mau memberikan pengalaman pertama bekerja kepada saya selaku seorang pelamar pekerjaan ketika itu.

4.Lalu empat tahun di Bisnis Indonesia, semakin memperkaya pengalaman saya. Ini yang saya suka menjadi wartawan, kamu tidak hanya belajar soal bagaimana menulis berita atau menilai siapa yang layak menjadi narasumber. Dengan menjadi wartawan, kamu akan banyak belajar soal kehidupan, bagaimana menjadi orang yang lebih baik dari hari ke hari. Menjadi wartawan itu menambah teman, dan kamu akan banyak belajar soal sifat-sifat orang.

5.Tapi setelah lima tahun jadi wartawan, saya tetap merasa pengetahuan yang saya miliki itu masiiiiihh sangat minim. Lima tahun itu belum apa-apa. Sekali lagi, belum apa-apa. Meski di satu sisi turn over wartawan itu sangat tinggi, tapi di sisi lain sebenarnya periode lima tahun itu juga belum matang-matang amat. Kalau dilihat-lihat, saya juga belum meninggalkan jejak di karier saya seperti Metta Dharmasaputra yang sudah menerbitkan buku ‘Saksi Kunci’.

6.Menjadi wartawan di Indonesia itu sebenarnya sangat beruntung. Selalu ada hal yang bisa ditulis. Indonesia itu negara besar dan banyak problematikanya. Jadi sebenarnya, mustahil saat ada wartawan yang bilang “duhh gue nggak punya beritaaa”—padahal saya sendiri kadang-kadang juga masih suka begitu. Hahahaha. Seperti layaknya polisi, pemadam kebakaran, sampai dokter, jadi wartawan itu juga sebenarnya melekat 24 jam.

7.Sebenarnya kamu tidak perlu punya gelar Sarjana Komunikasi untuk bisa jadi wartawan di Indonesia. Ada beberapa teman saya yang bahkan gelar pendidikannya itu Sarjana Teknik dan Sarjana Pertanian. Biasanya, perusahaan media mensyaratkan minimal kamu pernah bergabung dengan pers kampus atau ada artikelmu yang pernah tayang di media. Perusahaan media yang bagus, biasanya suka menggelar pelatihan jurnalistik untuk calon wartawannya.

8.Tidak jarang orang bertanya kepada saya, kenapa harus jauh-jauh kuliah di Malaysia untuk sekedar belajar soal jurnalistik? Pertanyaan seperti ini justru menimbulkan dua pertanyaan baru bagi saya. Apakah pendidikannya yang ‘ketinggian’ atau profesinya yang dianggap terlalu ‘rendah’? Jauh-jauh kuliah di Malaysia kok cuma jadi wartawan, atau kalau cuma mau jadi wartawan, kenapa mesti jauh-jauh kuliah di Malaysia? Yang mana yang sebenarnya ditanyakan?

9.Wartawan di Indonesia itu mungkin bisa dibedakan jadi dua, antara yang masih suka itung-itungan dan yang pikiran dan hatinya sudah merdeka dari hal-hal semacam itu. Yang masih suka itung-itungan itu masuknya wartawan kelas karyawan—termasuk saya. Jadi menganggap wartawan itu sebagai pekerjaan. Jadi ya harus jelas berapa kompensasi ganti pulsa, internet, sama ongkos transportasinya (jangan ditiru ya teman-teman).

10.Kalau wartawan yang pikiran dan hatinya sudah merdeka, menurut saya itu kaya mbak Desi Fitriani, yang tiap hasil liputannya selalu kerennnn. Mbak Desi itu dulu wartawan MetroTV spesialis daerah konflik. Jiwanya itu udah wartawan banget, udah jadi gaya hidup. Jadi dia udah selesai sama urusan dia sebagai karyawan, mulai dari urusan KPI (Key Performance Indicator), klaim-klaiman, jatah dinas luar kota, sampai ke urusan absensi.

11.Suka merhatiin nggak sih, kalau jumlah media di Indonesia itu banyak loh. Dan sekarang teruuuus bertambah banyak. Mulai dari media online, TV, beraneka genre majalah, sampai koran. Koran meenn!! Koran yang dianggap banyak orang sebagai media cetak yang tidak akan bertahan lama lagi. Majalah juga makin menjamur, mulai dari majalah masakan, majalah khusus wanita, sampai majalah travel dan majalah ekonomi berlisensi asing.

12.Tapi apa kemudian dengan persaingan yang ada, membuat tayangan atau produk jurnalistik di Indonesia jadi semakin bagus? Dua TV berita yang ada aja, (iya yang itu, yang merah dan yang biru), jelas banget keberpihakannya waktu pilpres kemarin. Saya pengen deh Indonesia punya tayangan keren kaya Eat Street di channel Nat Geo People. Dan itu, coba kalau tayangan infotainment yang bejibun itu dikemas kaya E! Channel, pasti jadinya ‘mendingan’.

13.Terus, kapan ya di Indonesia ada film seri kaya The Newsroom? Tokoh jurnalistik yang menginspirasi itu memang kebanyakkan muncul dari film ya, atau dari berita di televisi. Dulu tuh saya nge-fans banget sama Bayu Sutiyono. Tapi Bayu udah nggak di SCTV lagi sekarang. Belakangan saya nge-fans sama Cheryl Tanzil, ehh tapi dia juga udah nggak di MetroTV lagi sekarang (hiks). Padahal mbak Cheryl itu suaranya kerennnnn bangett.

14.Saya jadi ingat sama film All the President’s Men, yang jadi bahan pelajaran waktu kuliah dulu. Wartawan dulu itu nggak pake perekam suara ya, cuman modal pulpen, notes, sama mesin tik. Coba lihat wartawan sekarang yang masih pada muda-muda. Ngetiknya udah di iPad, tablet..handphone-nya canggih-canggih. Perekam suaranya juga (nada sirik nih). Tapi, tetep ada yang masih mainstream ngetik di BB (termasuk saya).

15.Kalau kamu jadi wartawan, kamu pasti pernah mendapat ‘request-request’ sampingan. Mulai dari diminta isi pertanyaan yang jadi bahan skripsi anak komunikasi semester akhir, bahan tesis mahasiswa S2, diminta isi survei/kuesioner lembaga tertentu, diminta sumbang ide/masukan sama konsultan komunikasi, sampai diminta partisipasi di acara media gathering macem undangan main futsal atau main bowling bareng.

 

[Kebon Sirih, 31 Agustus 2014]

[01.03 AM]


About this entry