Memang [Bukan] Jodoh.

Namanya Bian. Anak SMA 8 Jakarta yang sempat kuliah sebentar di ITB (Institut Teknologi Bandung), lalu meneruskan kuliah di UTP (Universiti Teknologi Petronas) karena mendapatkan beasiswa. Saya pertama kali bertemu dengannya waktu 2007. Kami, saya dan beberapa teman lainnya dari USM (Universiti Sains Malaysia) datang dari Penang ke Tronoh, Perak, untuk memenuhi undangan dari PPI-UTP (Persatuan Pelajar Indonesia UTP). Waktu itu ada acara pelatihan soal blogging. Dan Bian adalah Ketua PPI-UTP ketika itu.

UTP-1

 

Saya tidak bisa memungkiri bahwa ketika itu, saya tertarik dengannya. Kesan pertama nampaknya begitu menancap di benak saya karena saya tidak henti-hentinya tersenyum. Aura gembira itu pun nampaknya ditangkap oleh teman-teman saya, yang mulai menggoda saya hingga sekembalinya ke Penang. Okay, saya menyerah. Saya tidak bisa menyembunyikan bahwa ketika itu, saya officially menjadikan Bian adalah gebetan baru saya. Hahahaha.

 

Tapi toh gebetan tinggal gebetan. Saya hanya bisa mengaguminya dari jauh. Tidak ada kontak, tidak ada komunikasi lagi setelah 2007 itu. Saya kemudian menjalani magang di Kuala Lumpur, dan lulus duluan pada 2009, dan otomatis pulang ke Indonesia juga duluan. Bian lulus setahun atau dua tahun kemudian—saya tidak ingat persis. Lalu Bian melanjutkan magang di Singapura. Ya, pelan-pelan dan diam-diam sebenarnya saya masih memantau juga.

 

Sampai akhirnya tibalah masanya saya ditugaskan di Pekanbaru pada akhir 2013 lalu. Dan ternyata Bian juga melanjutkan kerja di Chevron. Tentu, ini adalah hasil pemantauan di Facebook. Akhirnya kami pernah ketemu sekali di Pekanbaru, dan sekali di Duri. Keduanya waktu saya masih di Riau. Enam tahun berlalu sejak 2007, pesonanya tetap tidak berubah. Bian tetap soleh dan tidak merokok. Meski sekarang agak gemukan dan kawat giginya sudah dilepas.

Duri

 

Selang lebih dari 7 bulan kemudian, sampai akhirnya pada Jumat, 27 Juni kemarin. Saya ketemu lagi sama Bian. Di Senayan City, saat saya mau menemui sahabat saya yang lagi ulangtahun. YA ASTAGAAA. TUHAAAAN. Saya kaget bukan kepalang. Praktis kami tidak pernah komunikasi via sosial media apa pun. Facebook saya pun kini sudah mati. Pasca saya kembali ke Jakarta awal Januari, saya benar-benar tidak tahu lagi kabarnya Bian—dan kali ini memang tidak ingin mencari tahu juga.

 

Waktu ketemu Bian di Sency, ada sahabat saya juga di situ. Dia pun bertanya, “Itu tadi siapa? Kenapa lo kayanya girang banget, Ga?” Hahahahaha. Rupanya saya memang tidak bisa menyembunyikannya. Tapi ekspresi girang tadi itu lebih ke kaget sebenernya. Dan agak sedikit kesal sama nasib. Maksud gue gini loh. Udah enam tahun berlalu, dan tetap tidak ada getaran, tapi kenapa sih masih saja dipertemukan??

 

Awalnya saya memang sempet pengen ngegebet, tapi toh saya ini termasuk tipe cewek minderan—jadi saya urung untuk mendekatinya. Bian itu hanya proyeksi calon pasangan sekaligus calon menantu ideal di pikiran saya. Tapi saya tahu dia bukan jodoh saya, dan bukan dia yang saya mau. Saya tidak jatuh cinta sama dia. Upaya ngobrol sama dia di beberapa kesempatan pun gagal, karena saya tidak menjadi diri sendiri. Saya ingin terlihat bagus di depan dia—yang padahal dia sendiri mungkin merasa dirinya itu ngga segitu bagusnya juga seperti yang saya pikirkan.

 

Lebih tepatnya mungkin saya ini penasaran sama dia. Dan yang saya sayangkan sama Tuhan, please laah. Kalau emang udah ngga jodoh, ya saya ngga usah dipertemukan melulu sama diaaa. Di sisi lain, saya pun sudah menetapkan pilihan. Jadi udah laaah. Saya jangan digoda-godain lagi kaya giniiih.

 

Waktu ketemu ngga sengaja di Sency itu pun Bian bilang kalau dia mau menikah tahun ini. Jadi, Tuhan, tolonglah. Jangan ciptakan pertemuan demi pertemuan lagi di antara kami. Jangan pelihara rasa penasaran ini lagi di dalam diri gue. Saya tahu saya tidak berjodoh dengannya.

 

Perempuan sekarang, saya pikir juga udah banyak pake logika. Mau segimana bagusnya si Bian ini pun, toh tetap tidak ada getaran di antara kami. Dia juga toh nggak peduli mau gue sakit atau nggak, mau kerjaan gue beres atau nggak. Bukan dia juga yang setia menjemput kalau gue pulang malem. Kupikir ujung-ujungnya perempuan akan lebih menghargai laki-laki yang memang mencintainya, mengasihinya, dan selalu ada untuknya.

 

Di sisi lain, saya meyakini kami tidak berjodoh karena Bian rasanya tidak melirik perempuan macam saya. Saya jadi teringat waktu saya bilang ke salah satu mantan bahwa saya ini bukan perempuan baik-baik, he called me bitch for that reason. Mantan saya ini menganggap bahwa saya sedang mengolok-olok dirinya karena pas putus saya bilang ke dia bahwa dia terlalu bagus buat saya, dan dia bisa mendapatkan yang lebih baik dari saya. And yes, he called me bitch for that reason. Sengaja saya ulang dua kali karena kata-katanya begitu mengena.

 

Pertemuan saya dengan Bian di Sency, rasanya mirip dengan scene di Sex and The City 2, waktu Carrie tiba-tiba ketemu sama Aidan di Abu Dhabi. Waktu itu Carrie merasa pasti ada maksud di balik pertemuan antara dia dan Aidan, setelah mereka sudah lama tidak saling bertemu dan Tadaaa! Mereka tiba-tiba bertemu di Abu Dhabi. Beruntung, waktu itu Charlotte mengingatkan Carrie bahwa pertemuan dia dengan Aidan itu tidak ada artinya, alias kebetulan biasa. Carrie hampir saja mempertaruhkan pernikahannya dengan Big, hanya gara-gara pertemuan singkat antara dia dan Aidan itu.

 

Charlotte bilang ke Carrie: “It means nothing”. Sama seperti kejadian yang gue alamin di Sency, Jumat malam itu. Pertemuan dengan Bian itu juga tidak ada artinya. It means nothing.

 

[Bogor, 30 Juni 2014]

[00.30 AM]


About this entry