Sebelum Juni Berakhir. [1]

1.Tadi malam, saya bermimpi. Setelah sekian lama tidur saya baik-baik saja, kali ini saya bermimpi lagi. Mimpi kali ini menurut saya sangat mengerikan. Ketika saya bangun, saya masih ingat betul tentang mimpi saya itu. Seolah-olah mimpi itu benar-benar baru saja saya alami. Jadi ceritanya di mimpi itu saya terbangun di tengah malam, mendapati bahwa ada mobil tetangga di depan yang merangsek masuk menabrak pagar rumah. Beberapa orang berkumpul di depan rumah. Saya mendapati motor saya (ya, yang pemberian doorprize itu) hilang! Ada pencuriii! Ada maling masuk rumah! Tapi anehnya, motor adik saya masih ada! Orang-orang kemudian menyuruh saya mengecek harta-benda lainnya, apakah dicuri juga oleh si maling. Saya serta-merta mengambil dompet, dan ternyata uang saya sudah raib semua. Tapi anehnya lagi, kartu ATM ternyata masih ada dan ngga diambil sama si maling. Saya terbangun dengan kaget. Bertambah kaget ketika melihat jam di handphone ternyata sudah menunjukkan pukul 8 lewat. Udah jam segitu, hari Senin pula, tapi saya masih di Bogor. Masih di atas kasur.

 

2.Saya bergegas mandi dan bersiap-siap. Pintu rumah sampai pintu pagar saya cek berkali-kali, saya pastikan benar-benar sudah terkunci (mengingat ada motor saya diem di rumah). Hmm, sepertinya saya positif menderita obsessive compulsive disorder (OCD) karena saya kerap mengecek sesuatu berkali-kali, terutama memastikan pintu rumah sudah terkunci atau motor sudah dikunci stang. Di perjalanan dari rumah menuju stasiun, di angkot saya bertemu tetangga yang juga adalah Ketua RW langganan di komplek saya—berhubung nggak ada yang mau menggantikan dan waktu luang beliau saya rasa lebih banyak dibandingkan dengan bapak-bapak yang lain. Dia bertanya mengapa saya membawa begitu banyak barang. Tidak lama kemudian dia turun dan membayar ongkos angkot saya (terimakasih pak, jadi inget jaman sekolah dulu, hehe). Di sepanjang perjalanan saya masih memikirkan mimpi saya itu. Sampai-sampai di stasiun Bogor, saya mendapati pintu masuk yang di Taman Topi ternyata sudah ditutup dan saya harus berjalan memutar ke pintu utama yang di Mayor Oking. Cakep. Udah mimpi aneh, kesiangan, pagi-pagi harus jalan kaki pula. Cakeppp.

 

3.Sampai di stasiun saya laper. Akhirnya saya mampir untuk menyantap nasi kuning di kedai di dalam area stasiun. Maklum, sekarang sudah tidak diperbolehkan lagi pedagang berjualan di dalam area stasiun. Setelah sarapan, saya naik kereta. Jam 10 baru berangkat dari Bogor! Cakeppp. Selama di kereta saya duduk dan mengecek agenda liputan. Ada agenda liputan siang dan mendadak ada acara OJK. Okesip, saya ambil itu aja. Perjalanan dari Bogor awalnya biasa aja. Sampai akhirnya ketika di stasiun Pasar Minggu atau di mana ya saya tidak ingat persis, naiklah para ibu-ibu itu yang menggendong bayi-bayi mereka—entah mau ke mana. Saya tidak pernah membenci mereka karena pada akhirnya saya harus mengalah memberikan tempat duduk untuk bayi-bayi itu. Mau berangkat jam berapa pun, kereta commuter line Jabodetabek akan selalu penuh dengan ibu-ibu hamil, ibu-ibu membawa bayi, hingga nenek-nenek dan kakek-kakek yang membawa cucu-cucunya. Melihat itu semua saya hanya berdoa. Bahwa yang namanya hidup harus lebih baik dari hari ke hari. Dan saya tidak mau saat saya hamil saya masih naik kereta. Harusnya saya udah naik mobil milik saya sendiri. Atau ketika tua, saya harus memikirkan mau seperti apa saat saya menjadi nenek-nenek nanti. Saya ngga mau saat sudah menjadi nenek pun saya masih naik kereta. Hidup saya besok harus lebih baik dari hari ini.

 

4.Tapi kan, sambil mikirin soal subyek-subyek yang ada di kereta itu, saya masih juga kepikiran soal mimpi semalam. Kenapa saya bisa sebegitu khawatirnya kalau motor saya beneran hilang? Padahal motor itu juga tidak saya beli sendiri. Hmm. Saya pun mulai memikirkan berbagai kemungkinan. Mungkin saya kurang sedekah. Mungkin saya masih suka nggak ridho sama pekerjaan orang lain atau atas rezeki orang lain. Atau mungkin saya hanya terlalu nyenyak tidur. Atau..ya karena kemarinnya (hari Minggu) itu saya baru saja mengendarai motor itu untuk pergi ke makam menjenguk mamah? Jadi hari Minggu itu saya bersama adik saya, abang saya serta kakak ipar (dan juga keponakan dan temennya adik saya), bersama-sama konvoi pake motor menuju makam mamah. Sebelumnya, saya ngisi angin ban motor dulu dan mampir ke pom bensin untuk isi bensin. Oh iya, untuk pertama kalinya saya ngisi bensin Total dan ternyata setelah di-gas, ngga begitu enak juga tuh. Alias biasa ajah, sama kaya ngisi Shell dan Pertamax.

 

5.Masih di kereta, sambil berdiri saya mencoba mengingat-ingat lagi kejadian hari Minggu kemarin. Saat di makam, saya membacakan yasin yang sebenarnya saya tidak tahu itu sah atau tidak doa-nya, karena kebetulan saya sedang dalam kondisi ‘berhalangan’. Sebelum menaburkan bunga, sudah ada bunga yang lebih dulu ada di atas makam, beserta dua tangkai sedap malam. Ada yang sudah lebih dulu ke sini, dan rupanya dia adalah bapak. Setelah dari makam, saya dan adik saya menemui bapak, dan melanjutkan perjalanan ke rumah pakde dan bude. Di sana, saya kembali dinasihati tentang beberapa hal. Jadi ini masih soal bapak. Dan mereka (pakde dan bude) tidak dalam posisi membela siapa-siapa. Kupikir mereka hanya mencoba memastikan bahwa saya—kami, anak-anaknya bapak, juga harus bahagia dalam hidup kami masing-masing. Dan kami tetap tidak boleh lupa bahwa walaubagaimana pun, dia tetap bapak kami. Emosi yang kupikir tensinya sudah mereda, harus saya akui kembali naik lagi. Saya kembali bersedih. Sampai di rumah, perasaan ini masih tidak tenang, tidak nyaman. Dan kupikir di sinilah asal-muasal mimpi aneh itu. Saya kembali banyak pikiran.

 


About this entry