Tentang Kepala Keluarga. Dan Kekusutan yang Menyertainya.

1.Tulisan ini tertunda satu bulan. Sebenarnya saya sudah berniat menulisnya usai pengajian 10 tahun kepergian mamah pada 31 Januari lalu. Tapi lalu kerjaan begitu menyita energi dan pikiran. Bos yang begitu galak. Orang-orang pada cuti. Jakarta masih saja hujan. Kemudian dijeda perjalanan ke Purwokerto dan Cirebon, sampai akhirnya terlewat satu bulan.

2.Selama satu minggu yang lalu, minggu terakhir di bulan Februari, berturut-turut mulai Senin hingga Jumat, saya selalu terbangun menjelang subuh. Jam 3 lewat atau jam 4 dini hari. Tentu ini bukan terbangun gara-gara mendengar suara kokok ayam. Toh menelan CTM (meski dosisnya diperbanyak) juga ternyata tidak membantu.

3.Jadi ini masih soal kepala keluarga. Laki-laki, ternyata, bisa sebegitu super power-nya ketika ia didaulat menjadi kepala keluarga. Setir dia yang pegang. Mau dibawa ke mana keluarganya, dia yang berkuasa. Laki-laki akan tetap pada gengsinya, dan tidak akan mau mengakui bahwa dia telah gagal menjadi kepala keluarga.

4.Ketika peran istri dan ibunya anak-anak itu dipisahkan, terdapat jurang ‘kekeluargaan’ yang sangat lebar. Si kepala keluarga lantas merasa agak kikuk—meski tetap, ia tidak merasa bersalah. Karena toh tidak ada pilihan untuk ‘lebih memihak ke mana’. Meski tetap saja, ujung-ujungnya ada dua kartu keluarga di situ.

5.Mungkin tidak semua laki-laki seperti itu. Tidak semua kepala keluarga juga seperti itu. Mungkin nasibmu pun tidak akan berakhir seperti ibumu. Kamu punya garis nasib yang berbeda. Kamu sebenarnya hanya terlalu khawatir—kelewat khawatir. Lantas berimajinasi yang macam-macam. Dan ujung-ujungnya mencari pelarian.

6.Sebentar, pelarian, katamu? Ya. Wuri saja bisa langsung membacanya. “Jadi, ke Pekanbaru kemarin itu juga pelarian?”. Dan saya mengangguk pelan. Dan kini saya toh sudah kembali ke Jakarta. Tapi selama dua bulan pertama di tahun 2014 ini jelas bisa dihitung berapa kali saya pulang ke Bogor.

7.Mempunyai pasangan yang punya latar belakang yang sama (sama-sama orang Jawa dan sama-sama sudah tidak punya ibu) ternyata tidak serta-merta membuat hidup saya jadi lebih mudah. Tetap saja ada cara pandang yang berbeda. Dan cara kami menghadapi masalah masing-masing ternyata sangat berbeda.

8.Ingin rasanya bercerita sama pasangan. Tapi saya takut diberi label lagi sebagai “perempuan yang selalu bersedih”. Saya juga kerap kesal ketika ditanya “kamu kenapa?”—walaupun sebenarnya ingin mendengar seseorang menanyakan hal itu agar saya bisa cerita. Tapi toh meski saya cerita, akan berakhir pada “Ahh itu pikiranmu saja”.

9.Tapi Wuri benar. Akibatnya saya jadi menghindari orang-orang. Karena tanpa ada yang menyuruh, saya sudah mematikan facebook saya. Saya matikan whatsapp saya. Saya berhenti ngetwit. Saya menghindari eye contact. Saya malas menegur orang yang ketemu di jalan. Saya malas berbasa-basi.

10.Saya benci ketika tante-tante saya selalu berkata “Umur Dita masih panjang, panjaaaangg sayaang. Nasib Dita sama nasib mamah kan lain. Dan tidak semua laki-laki seperti bapak”. Heran. Siapa juga sih yang bilang kalau saya ingin berumur panjang? Di umur 25 ini saja saya merasa sudah sangat bosan.

11.Saya juga benci ketika tante-tante saya itu mencoba membesarkan hati saya dengan mengatakan “Tante doain, nanti Dita dapet suami yang bener-bener sayang sama Dita, yang baik, yang soleh”. Tapi saya tidak ingin mendengarnya lagi. Untuk sementara ini saya juga berhenti membaca blog atau buku tentang pernikahan.

12.Selama satu minggu terakhir di bulan Februari lalu, saya kerap bengong. Seminggu kemarin frekuensi bengong meningkat tajam. Naik lift saya bengong. Di busway bengong. Naik eskalator saya bengong. Saat bengong, terkadang doktrin atau mantra itu selalu terngiang: “kalau kamu mau terima aku apa adanya kita lanjut, kalau ngga, ya sudah”.

13.Maka event javajazz pada Jumat (28 Februari) dan Sabtu (1 Maret) kemarin adalah pelarian saya yang terakhir. Kembali pada musik. Saat otak kirimu sudah tidak jalan, setidaknya masih ada otak kanan yang bisa kamu ‘servis’ alias kamu perbaiki. Dan sekarang sudah masuk bulan Maret. Masih ada 10 bulan untuk memperbaiki tahun 2014-mu.

14.Sebagian orang menghadapi masalah dengan tidak memikirkannya. Sebagian lagi memilih untuk memikirkannya, lantas menertawakannya sebentar, lalu menyelesaikannya pelan-pelan. Saya tidak ada di keduanya. Katakanlah saya berlarut-larut dalam masalah, katakan saja! Saya tidak keberatan dengan itu.

[Kebon Sayur, 2 Maret 2014]

[09.30 pm]


About this entry