Tentang Hubungan.

1.Rasanya kini aku mengerti mengapa aku selalu tidak pernah bertahan lama dalam sebuah hubungan. Karna aku tidak pernah puas dengan cinta yang sudah diberikan oleh pasangan. Karna aku selalu beranggapan bahwa akulah yang paling mencintai, sementara dia (si pasangan) tidak. Aku mengklaim secara sepihak bahwa aku sudah memberikan segalanya, berusaha mencintai semaksimal mungkin. Selalu berkeyakinan bahwa aku kerja keras, berusaha membuat dia menjadi laki-laki paling bahagia di dunia. Dia tidak boleh merasa sedih. Dia tidak boleh kekurangan suatu apa pun. Aku harus bisa memenuhi semua kebutuhannya (bukan keinginannya). Dan aku akan sangat marah jika ternyata pasangan bisa-bisanya menyukai perempuan lain—atau bahkan menyebut nama perempuan lain. Karna aku yakin akulah juaranya. Tidak ada orang yang punya kemampuan mencintai pasangan seperti kemampuan yang aku miliki ini. Jadi ketika aku tidak mendapatkan kebahagiaan dari pasangan seperti yang aku inginkan, maka ya sudah. Aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan. Tentu, secara sepihak. Dan ini jelas tidak bagus.

2.Seolah-olah, cinta jadi semacam kompetisi. Siapa yang lebih mencintai, dia yang menang. Dia yang boleh memutuskan mau dibawa ke mana arah hubungan ini. Apakah mau lanjut? Atau sudah berakhir sampai di sini saja. Tidak ada kesempatan kedua, tidak ada perpanjangan waktu. Jika aku merasa tidak lebih bahagia (padahal sedang menjalani hubungan dengan seseorang), maka aku lebih baik sendiri. Ya lebih baik ngga usah punya pacar sekalian. Prinsip yang sebenarnya sangat salah. Dan sangat menyakiti hati pasangan. Karna kini aku baru sadar bahwa walau bagaimanapun, berdua itu selalu lebih baik. Berjamaah akan selalu lebih baik. Justru itulah Tuhan (konon) menciptakan manusia berpasang-pasangan. Agar manusia tidak merasa sendirian, agar manusia merasa tenteram hidupnya.

3.Sebentar..Tidak merasa sendirian, katamu? Sebagai anak perempuan satu-satunya di keluarga, jelas aku merasa sendirian. Aku tahu bapakku pun bingung harus bersikap bagaimana terhadap anak perempuannya yang sudah beranjak dewasa ini. Entah bapak bisa melihat atau tidak, bahwa aku selalu merasa sendirian, kesepian. Makanya aku rajin mencari perhatian di luar rumah. Dan ini sebenarnya kentara sekali. Saat ngobrol sama teman-teman misalnya, aku selalu menganggap masalahku lebih penting, lebih darurat, paling rumit, dibandingkan dengan masalah yang sedang dihadapi mereka saat ini. Padahal semua orang pasti punya masalah, kan? Tapi aku selalu ingin jadi pusat perhatian. Aku tidak butuh mereka memberi kado ini-itu saat aku ulangtahun, misalnya. Aku hanya ingin perhatian mereka, kasih sayang mereka. Aku ingin mereka selalu ada untukku, selayaknya aku ada untuk mereka. Dan sepertinya sikap ini menular ke hubunganku dengan pasangan. Aku ingin pasangan menempatkanku dalam prioritas utama di hidupnya.

4.Karna memang sesungguhnya, yang aku butuhkan dari pasangan bukan gajinya, bukan gantengnya, bukan jabatannya. Aku bisa beli bajuku sendiri, aku bisa bayar makananku sendiri, aku bisa bayar tempat tinggalku sendiri, aku bisa beli gadget-ku sendiri, dan kebutuhan lainnya—apalagi kalau cuman sepasang kaos kaki. Aku juga sudah menyiapkan tabungan kalau-kalau tulang belakangku makin parah dan butuh biaya rumah sakit atau dokter. Sesungguhnya, setiap aku punya pasangan, yang aku minta itu cuma cintanya. Sekali lagi yah, cintanyaaaaahh! Bayangkan, aku pernah berkata seperti ini ke pasangan: “Apa yang bisa kamu tawarkan, kalau mencintai orang lain saja kamu ngga bisa?”. Dan aku baru sadar, betapa menyakitkannya kalimat itu. Tapi sungguh, padahal aku tidak pernah mengganggu waktunya saat bekerja, saat dia sedang membaca buku, atau bahkan saat dia twitter-an (hal yang kini sudah aku tinggalkan dan aku mendapat ketenangan karnanya).

5.Tapi mungkin sebenarnya setiap hubungan tidaklah seburuk itu. Tentu saja pasangan itu juga mencintai, akunya saja yang tidak bisa melihatnya. Sebuah hubungan tentu tidak perlu berakhir hanya karena pasangan makan duluan, padahal kalian order makanan bareng-bareng dan kamu hanya meninggalkan meja sebentar untuk cuci tangan. Hubungan juga tidak perlu berakhir hanya karena dia tidak hati-hati membawa motor, sehingga baju putihmu terciprat motor yang ada di depan. Hubungan juga tidak perlu berakhir hanya karena dia mengantuk dan kedinginan, sehingga meminta cepat pulang. Aahh aku juga sebenarnya tidak ingin mengingat-ingat hal-hal sampai sedetail iniii. Aku tidak ingin mempermasalahkannya. Tapi rupanya aku ini tipikal observer, pemerhati. Aku juga orang yang well-prepared. Aku tipikal orang yang mempersiapkan segalanya, selalu berjaga-jaga.

6.Dan aku sudah sampai pada satu kesimpulan bahwa: ya sudahlah. Kalau orangtua dan saudara kandung saja ngga bisa dibawa mati, maka suami dan anak-anak juga ngga bisa dibawa mati, kan? Kupikir aku sudah mempersiapkan diri untuk itu. Pasangan, keluarga, semuanya bersifat duniawi. Tapi jangan pernah sekalipun menjanjikan kebahagiaan di akhirat (kepada pasangan), kalau memberikan kebahagiaan untuknya di dunia saja kamu ngga bisa. Well, ngomong-ngomong soal akhirat yang wujudnya saja aku ngga tahu, aku sendiri sadar bahwa aku ini bukan perempuan yang baik-baik amat. Maka beruntunglah mereka (baca: mantan) yang sudah berhasil lepas. Kalian bebas dari aku selama di dunia, dan tentu kalian juga akan bebas di akhirat. Percayalah, kalian tidak akan menemukan perempuan—di belahan bumi mana pun—yang lebih sulit dari aku. Tapi kesimpulannya sekarang, aku masih terus menjaga semangatku dalam mencintai pasangan. Aku tahu aku lebih dari mampu.

[Kebon Sayur, 20 Januari 2014]
[11.52 PM]


About this entry