Tentang Jilbab.

1.Empat bulan di Riau mengembalikan suasana saat saya kuliah tiga tahun di Penang, Malaysia. Sama seperti ketika saya di Malaysia, di Riau pun banyak perempuan berjilbab di sekitar saya. Di Malaysia sendiri, hanya ada beberapa teman saya yang orang Malaysia (dan yang berbangsa melayu), yang belum memakai jilbab. Biasanya, mereka orangnya memang lebih terbuka dan lebih berpikiran ‘maju’ dibandingkan dengan mereka yang berjilbab. Dan mereka bukannya tidak pernah memakai jilbab sama sekali. Di Malaysia, sampai SMA itu kalau dia sekolahnya negeri, muslimah wajib pakai jilbab. Ada teman saya yang dulunya pakai, tapi ketika masuk kuliah lalu dilepas. Dan si teman saya ini diminta oleh orangtuanya (terutama bapaknya) untuk tetap pakai jilbab. Tapi dia dengan pendiriannya merasa tidak perlu pakai—apalagi jika itu hanya untuk menjaga kehormatan bapaknya yang sudah haji. Di Riau, saya satu kosan dengan banyak mahasiswi Unri. Mereka memakai jilbab saat masuk kelas. Meski kemudian dilepas lagi saat weekend atau saat pacaran. Wajar jika terkadang mereka masih ingin menunjukkan rambutnya yang sudah mahal-mahal diwarnai, diluruskan, atau sekedar menunjukkan rambut hitamnya yang aduhai panjangnya.

2.Di Riau, diskusi soal jilbab sudah berkembang menjadi “kalau motif jilbabnya kaya gini, bagusnya dipadukan dengan baju apa ya?”. Atau “ehh lucu tuh jilbabnya, beli di mana? Ada warna apa aja?”. Tidak seperti di Jawa, di mana diskusi masih saja soal jilbab yang dinilai hanya merupakan budaya Arab. Di Jawa, masih saja beredar gossip-gossip klasik seperti pernyataan “benerin dulu akhlaknya, benerin dulu solatnya, baru berjilbab”. Dan masih banyak omongan-omongan sumbang lainnya seperti “buat apa berjilbab kalau bajunya masih menunjukkan lekuk tubuh”, “buat apa berjilbab kalau masih boncengan dempet-dempetan sama pacarnya”, dan sebagainya, dan sebagainya.

3.Tetapi, seiring berkembangnya budaya masyarakat yang saya amati, sungguh memang tidak ada korelasinya antara jilbab dan tingkah laku. Dan sebenarnya, itu bukan urusan kita juga karena tingkah laku seseorang itu urusan dia dan Tuhannya. Seperti di Malaysia, berdasarkan pengamatan saya, di Indonesia kini masyarakat sudah memandang bahwa kalau perempuan itu Islam, maka dia harus berjilbab. Yang penting jilbab-nya dipake dulu. Jilbab kini dipandang sebagai the way of dressing, cara berpakaian. Kalau dia muslimah, ya wajib berjilbab. Soal perilaku dan sebagainya, itu urusan belakangan; itu urusan yang lain lagi. Sungguh memang tidak ada korelasi antara jilbab dan perilaku.

4.Saya sendiri tidak tahu persis apa bedanya hijab, jilbab, dan kerudung. Yang saya tahu, memang ada ayat di Al-Quran yang mewajibkan perempuan menutup tubuhnya. Saya jadi ingat, saya pernah nonton di Youtube, waktu itu ada Quraish Shihab, Alwi Shihab, dan Najwa Shihab, berdiskusi soal jilbab. Quraish Shihab (bapaknya Najwa Shihab) mengatakan bahwa sebenarnya yang penting itu perempuan berpakaian yang sopan, yang menunjukkan kehormatannya. Bukan jilbabnya. Sementara Alwi Shibab mengatakan penutup bagi perempuan penting di usia remaja menjelang dewasa. “Kalau perempuan itu sudah tua, siapa juga yang masih mau melihatnya?,” ujarnya sambil setengah berseloroh. Dan sekarang, Najwa Shihab yang setahu saya sudah menjabat sebagai Wakil Pemimpin Redaksi MetroTV, meski tidak berjilbab tapi dia selalu menjaga kehormatannya dengan berpakaian rapi dan sopan. Tidak hanya saat tampil di TV, tapi juga saat menjadi cover majalah.

5.Saya juga jadi ingat waktu SMP, setelah mendengarkan penjelasan ibu guru mata pelajaran agama Islam, saya jadi tertarik memakai jilbab. Saya utarakan keinginan itu pertama kali ke ibu saya. Ibu saya memang tidak memakai jilbab, tapi saya tahu beliau lebih rajin solatnya daripada bapak. Ketika itu ibu saya hanya bilang, jangan dulu. Mungkin karena beliau tahu, di umur segitu anak-anak memang masih labil. Dan benar saja. Keinginan itu menguap begitu saja beberapa hari kemudian. Dari sisi bapak saya, beliau juga tidak pernah mewajibkan saya memakai jilbab—meski saya adalah anak perempuan satu-satunya. Beliau hanya khawatir kalau saya ini jelek, berjerawat, gendut, kulitnya kusam, atau hal-hal lainnya yang bisa membuat saya tidak didekati cowok-cowok.

6.Tapi sekarang, di dalam genk (baca:sahabat SMA) saya, ternyata tinggal saya yang belum berjilbab. Di antara kami berenam, lima di antaranya sudah mengenakan jilbab, ada yang mulai sejak SMA, ada yang mulai pas kuliah. Sementara saya, sampai sudah bekerja dan umur 25 pun masih begini-begini aja. Nichi udah berjilbab pasca menikah. Wuri juga udah, resolusi 2014 kayanya. Di keluarga ibu juga semua tante udah berjilbab. Di keluarga bapak, sepupu-sepupu yang perempuan juga udah kerudungan semua. Kakak iparku juga udah. Jadi, di dalam keluarga dan di antara para sahabat, betul-betul tinggal saya yang belum mengenakan jilbab. Gejala apakah ini? Hahahahaha..

7.Lalu, pertanyaan intinya adalah, kenapa saya masih belum mengenakan jilbab? Terus terang, lama-lama saya terpengaruh lingkungan juga. Bagaimana tidak? Saat datang ke kondangan misalnya, teman-teman saya rata-rata sudah memakai jilbab. Saat kumpul keluarga, semua sepupu dan tante memakai jilbab. Tapi btw, intermezzo aja niiih. Waktu di Pekanbaru, saya pernah mencoba mengenakan jilbab saat kondangan. Waktu itu ada anak kosan yang abangnya menikah di Pekanbaru, dan kami diundang. Dan waktu itu, saya hanya tahan memakainya selama 4 jam saja. Bayangkan! 4 jam saja! Hahahahaha.. saya tidak tahan dengan panasnya karena ketika itu saya harus mengendarai motor. Memakai jilbab ditambah helm ternyata luar biasa membuat kepala berkeringat. Hahahaha.. ya, ini alasan saya saja sebenarnya. Padahal, mau dilihat dari segi manapun, jilbab jelas memberikan banyak manfaat buat perempuan.

8.Saya jadi teringat perkataan Ippho Santosa waktu dia ngasih seminar motivasi di Pekanbaru. Dia nanya ke hadirin, apakah saat sedekah itu kita langsung ikhlas? Apalagi saat sedekahnya dalam nominal yang besar. Tapi menurutnya itu ngga apa-apa, awalnya memang ngga ikhlas, tapi lama-lama insyaallah akan ikhlas. Saya rasa, memakai jilbab pun tidak harus langsung setiap hari. Toh waktu SMA pun udah belajar memakainya saban hari Jumat. Dan sekarang, di 2014 ini, mungkin saya juga tidak harus langsung memakai jilbab. Perubahan itu akan saya mulai dengan memakai pakaian yang tertutup. Setiap melihat-lihat baju di toko, meski ada baju yang lucu banget dan sangat menggoda untuk dibeli, tapi saya urung membelinya karena baju itu berlengan pendek. Saya ingin memulai 2014 ini dengan baju lengan panjang serta tentu, celana panjang. Soal jilbabnya, yah, mudah-mudahan sih segera menyusul. Tapi yah, saya sendiri mengaku belum siap memakainya. Selain karena panas itu tadi, saya males ribet saat nanti mesti keujanan dan males ribet pas mau berenang. Hahahaha.. tentu, ini hanya alasan saya saja, bukan?

[Kebon Sayur, 12 Januari 2014]

[01.20 PM]


About this entry