Sisa Desember.

1.Apa yang akan kamu lakukan saat kantormu berpesta merayakan ulangtahun, tapi kamu tahu kamu ngga bisa ikutan karena kamu lagi ngga di situ? (baca: lagi ngga di Jakarta) Sadar bahwa hal itu akan terjadi, saya dan teman-teman di kantor Pekanbaru sudah mengantisipasinya. Kami merayakan hari jadi kantor kami yang ke-28 itu, satu hari lebih cepat, yaitu pada Jumat kemarin. Diawali dengan rapat pagi, dijeda dengan solat Jumat, lalu kami masuk ke acara inti: potong tumpeng dan bersama-sama dinikmati untuk santap siang. Agaknya tradisi ini memang hanya ada di Jawa. Terbukti bahwa teman-teman kami yang asli Sumatra (ada yang dari Riau dan Sumatra Utara), masih menanyakan hal-hal seperti: “ini telor atau perkedel?” hingga “ada dendeng-nya ngga ini?”. Hehehe.. ya, lauk-pauknya mungkin terlalu manis buat mereka. Bahkan ketika sisa tumpeng itu saya bawa sedikit ke kosan, anak kosan ada yang bilang “baru kali ini aku makan nasi kuning, kak..”

 Image

2.Saya tidak pernah seloyal ini sebelumnya dengan instansi/lembaga di mana saya bernaung. Saya rasa, satu-satunya hal yang saya bangga hanyalah identitas saya sebagai orang Bogor. Tapi saya tidak pernah sebegitu bangganya bahwa misalnya, saya adalah alumni SMA Negeri 1 Bogor—sekolah yang katanya nomor satu seantero Bogor. Maksudnya, saya tidak sampai bergabung dalam semacam ikatan alumni, rajin hadir di acara-acara reunian, atau bahkan ke hal-hal sederhana seperti rajin menggunakan lokasi Smansa sebagai lokasi janjian dengan sesama teman SMA. Pun begitu berlangsung hingga kuliah. Kalau ditanya orang, dulu kuliah di mana? Dengan nada biasa saya menjawab, “di Penang, Malaysia. Di USM, Universiti Sains Malaysia”. Lantas biasanya pertanyaan selanjutnya adalah “kuliah komunikasi kok di Malaysia?”, lalu “kok bisa kuliah di sana? Beasiswa atau gimana?” dan seterusnya, dan seterusnya. Perasaan biasa aja dan ngga bangga-bangga-amat ini, terus berlanjut sampai ke tempat kerja.

3.Sebelum kerja di kantor yang sekarang (baca: Bisnis Indonesia), saya kerja di koran Jurnal Nasional. Ini yang rada aneh, saya justru agak bangga pas saya cerita bahwa sebelum di Bisnis, saya kerja di Jurnas. Orang terkadang suka terlalu mengagungkan sebuah nama besar, tapi lupa menghargai bahwa sebelum bergabung dengan nama besar itu, kamu juga pasti pernah muncul sebagai newbie cupu di sebuah perusahaan dengan nama yang menurut orang-orang itu: biasa-biasa aja, atau bahkan dipandang sebelah mata. Padahal, di tempat yang ngga punya nama itulah kamu diberikan kesempatan pertama kalinya untuk merasakan dunia kerja. Kembali ke kantor yang sekarang, sense of belonging-nya memang baru berasa saat saya berada di luar Jakarta. Sama seperti saya yang baru merasa orang Indonesia saat berada di Malaysia. Buktinya cukup sederhana: dengan sadar dan sengaja, saya membubuhkan nama ‘Bisnis Indonesia’ di display BBM saya, ditambahkan dengan lokasi kota “Pekanbaru”. Padahal dulu waktu di Jakarta, saya tidak pernah memajang nama kantor di belakang nama saya. Hahahahaha..

4.Kembali ke persoalan di nomor satu, saat bangun pagi hari ini (Sabtu, 14 Desember 2013], saya tahu saya harus melakukan sesuatu. Di saat yang lain sibuk berpesta di Jakarta, saya harus bersusah-payah menghibur diri sendiri di sini. Tidak ada orang yang berusaha menghibur, atau sekedar berusaha membuat saya tersenyum hari ini (etdahh miris bett, hahahahah). Tapi saya tahu, manusia selalu punya pilihan. Dan saya memilih untuk berusaha membahagiakan diri sendiri hari ini (pathetic, yes). Maka akhirnya saya bawa motor saya ke Mal Ciputra, dan segera ke bioskop untuk nonton film Soekarno—sendirian. Sesuatu yang tadinya saya hindari untuk saya lakukan di sini, meski saya kerap melakukannya di Bogor dan Jakarta. Sayangnya, kebahagiaan itu dirusak oleh dua orang ibu-ibu di sebelah saya, yang sangat berisik mengomentari adegan demi adegan. Akhirnya saya berpindah duduk ke selang tiga kursi kosong di sebelahnya lagi, menjauh dari ibu-ibu itu. Tentang filmnya sendiri, yaa stereotype Hanung sih ya.. gambarnya sih cantik (warnanya subhanalloh banget dah), musiknya cakep, efek tembakan dan ledakannya keren, tapi tetap menurut saya sih Hanung ngga pandai bertutur/bercerita. Skenarionya, dialog-dialog para pemainnya.. tetep ngga luwes menurut saya. Tapi film ini bisa banget dijadiin bahan mata pelajaran Sejarah sekolah. Btw, ternyata ada kakak kelas saya waktu di SMA yang ikutan main di situ. Hahahahaha.. dan aktingnya lumayan lho.. Dia yang jadi temennya Fatma waktu remaja, sekaligus anak angkatnya Bung Karno. Ini adalah kejutan yang sebenarnya untuk hari ini.

 Image

5. Kalau dipikir-pikir lagi, bulan Desember ini banyak yang berulangtahun. Selain kantor saya, dua anak kosan sudah lebih dulu berulangtahun pada tanggal 11 lalu. Lalu dua sahabat saya di Bogor juga akan berulangtahun tanggal 19 dan 20 nanti. Tante saya tanggal 29-nya. Daaaann.. tanggal 30-nya gue pulang dehhh. (Hahahahaha..dari mana nyambungnya?). Oh iya, di bulan Desember ini saya lumayan rajin beli majalah lagi. Biar ada bacaan aja. Sebagian oleh-oleh (baca: batik Riau) udah saya cicil, tinggal beli makanannya. Trus packing barang-barang, trus kirim motor. Di sisa dua minggu lagi saya di Riau, pengennya sih bisa sempet ke tempat makam para Romusha, mengunjungi Dumai, dan mampir ke Batam. Dan satu lagi, pingin bisa ke Malaysiaaaa sebenernyaaaa.. Padahal paspor udah sengaja saya bawa ke sini loh.. hahahahaha (niat bettt). Sudahlah, saya sudahi tulisan menyampah ini sampai di sini.

 Image

Happy birthday, girls! ^^

Image

Waktu SMA, biasanya belinya sih Gogirl.

Image

Di Tempo edisi ARB (yang kiri), baru kali ini saya baca media yang dengan tegas menyatakan sikapnya bahwa menurut mereka, ARB tidak layak dipilih sebagai Presiden. wheewww.

Image

Oh iya lupaaa satu lagi. Slank juga berulangtahun yang ke-30 ^^

[Pekanbaru, 14 Desember 2013]

[23.05 PM]


About this entry