Soal Sitok dan Ayu Utami.

“Di Salihara itu suka ada kelas-kelas kuliah gitu, sama pembacaan puisi. Kaya puisinya Sitok Srengenge. Tahu kan, Sitok Srengenge?,” kata laki-laki itu, di penghujung Juli 2010 atau 2011—tepatnya saya tidak ingat persis.

Pelan-pelan saya menggeleng. Saya bilang sama laki-laki itu kalau saya ngga tahu. Saya ngga tahu Sitok itu yang mana orangnya, dia itu siapa, dan karyanya apa-apa aja. But thanks to him, saat itulah saya pertama kali mendengar nama Sitok Srengenge.

Akhir November lalu, untuk kedua kalinya saya mendengar nama Sitok. Tapi kali ini, tetap bukan soal puisi-puisinya. Saya membaca berita kalau Sitok diduga menghamili seorang mahasiswi berumur 22 tahun. Tiba-tiba ingatan saya lari ke momen itu.

Sebentar.. Sitok ya.. rasanya pernah dengar. Ini orang bukannya idola si laki-laki itu? Laki-laki yang tidak lain dan tidak bukan adalah mantan gebetan saya, yang merupakan cucu dari penyusun kamus Bahasa Indonesia JS Badudu.

Kemudian mulailah saya kepo pada kasus Sitok ini. Setelah ditelusuri, kasus ini ternyata begitu menyedihkan—bahkan bagi saya pribadi. Dan saya rasa, perempuan mana sih yang tidak akan murka setelah mengikuti kasus ini??

Pertama, ada perempuan berusia 22 tahun di luar sana, yang diperkosa dan dihamili oleh laki-laki berusia 50 tahun—yang mungkin seumuran sama bapaknya sendiri. Janin yang dikandung perempuan itu sudah besar dan sebentar lagi akan lahir. Dan bukan, tentu ini bukan sinetron, ini nyata terjadi. Singkirkan dulu tontonan Indosiar itu.

Kedua, perempuan itu masih kuliah, di satu perguruan tinggi negeri bergengsi di Indonesia. Dia sudah berkali-kali mencoba bunuh diri akibat depresi setelah dirinya diperkosa oleh SS (fisik dan mental). Ya iyalah, umurnya masih DUA PULUH DUA TAHUN! Mau bunuh diri! Siapa yang masih berani bilang kalau kasus ini ngga serius?!

Ketiga, tapi hey coba itu lihat. SS ternyata punya istri dan anak yang sah dalam sebuah institusi pernikahan—dan anaknya perempuan lagi! Anaknya berumur 25 tahun dan kuliah di fakultas yang sama dengan perempuan yang dihamilin sama bapaknya itu. Tapi coba lihat surat terbuka yang ditulis anaknya ini..

Saya sangat kecewa kepada ayah saya. Tapi saya tidak akan membiarkan ayah saya menjadi seorang yang jahat. Saya akan dukung dia untuk terus berusaha bertanggungjawab kepada RW dan keluarganya. Dan sebisa mungkin saya akan selalu mendampingi ayah saya. Biar bagaimana pun, saya tetap bagian dari hidup ayah saya dan tak ada siapa pun yang ia miliki kecuali saya dan ibu saya.

-Sekali lagi, ini tidak mudah untuk saya dan keluarga. Semua orang berhak kecewa bahkan marah kepada ayah saya. Bahkan saya, sebagai anak, berhak seribu kali lipat lebih marah dari siapa pun. Tapi kemarahan saya tidak akan mengubah kondisi menjadi lebih baik. Setelah marah, lalu apa? Perlu disadari bahwa ada anak berumur 22 tahun sedang depresi menghadapi hidup. Ada janin yang sebentar lagi lahir. Dan ini juga pada akhirnya harus menjadi tanggung jawab saya untuk menguatkan RW dan calon adik saya.

Keempat, SS ternyata adalah penyair besar; yang pernah nulis soal isu-isu seks dan perempuan. Wah, pelakunya ternyata seseorang yang punya nama baik. Tidak lama setelah kasus ini mengemuka, SS mengundurkan diri dari Salihara. Lantas kalau sudah begini, apa masih ada anak-anak Indonesia yang menyukai sastra? Yang bercita-cita jadi penyair?

Atau jangan-jangan.. kasus serupa sebenarnya sudah sering terjadi dengan sastrawan-sastrawan besar lainnya, tapi hanya kasus SS ini saja yang mencuat ke permukaan?

Seperti yang pernah ditulis oleh perempuan ini, bahwa dunia kepenyairan memang sangat kelaki-lakian. Tapi hey, dunia bagian mana sih yang tidak kelaki-lakian?? Semuanya kelaki-lakian kok, termasuk dunia wartawan.

Dalam tulisan ini saya ngga akan melebar ke soal bagaimana masa depan dunia sastra Indonesia pasca peristiwa ini. Atau mengapa istri dan anaknya SS begitu mencintai SS dan masih saja membantu SS, padahal mereka sudah dikhianati.

Saya juga ngga akan bahas perdebatan soal pemerkosaan, yang memang maknanya luas—tidak sebatas pemerkosaan fisik semata. Atau kenapa polisi lama sekali untuk akhirnya mau menerima laporan soal kasus pemerkosaan ini.

Saya hanya penasaran pada satu hal: apa komentar Ayu Utami soal ini ya? Soal isu seks dan perempuan, hal-hal yang ia sangat concern; yang ternyata dilakukan oleh temannya sendiri sekaligus rekan sejawatnya di Salihara.

Berita soal kasus ini pun terus berkembang. Minggu ini muncul hasil wawancara dengan pengacara korban yang akhirnya angkat bicara. Oh iya btw, saya tidak memantau perkembangan yang ada di sosial media, mengingat saya sudah berhenti ngetwit.

Meski demikian, akun-nya masih aktif. Maka akhirnya dengan sangat terpaksa, saya kembali masuk ke twitter dan langsung menuju ke akun-nya Ayu Utami. Dan benar saja, ternyata dia memang pernah menulis soal kasus SS ini.

Lagi-lagi, saya setuju dengan apa yang dikatakannya. Terutama yang ini:

-Tubuh lelaki memang tidak membawa jejak persetubuhan. Ejakulasinya melepaskan jejak itu dari tubuhnya. Maka alamiah jika pria lebih mudah lupa pada―atau terlepas dari―hubungan seks yang ia lakukan. Tapi kita tidak boleh menjadikannya norma, justru karena kita adalah manusia.

-Justru kita harus juga melihatnya dari perspektif perempuan. Tubuh perempuan membawa jejak persetubuhan lebih lama. Bahkan bisa selama-lamanya. Ia bisa menerima benih dan menjadi hamil. Maka alamiah juga jika perempuan lebih tidak cepat lupa. Ia lebih sulit terlepas dari jejak hubungan seks, secara fisik maupun psikologis. Pengalaman inilah yang perlu betul-betul kita pertimbangkan.

-Jadi, dengan menimbang pengalaman perempuan yang dimensinya sering lebih luas dari pengalaman lelaki, kita tidak bisa lagi memakai kacamata sempit, melihat hubungan seks hanya pada peristiwa. Hubungan seks harus dimaknai lebih panjang. Di dalamnya termasuk bagaimana kedua pihak menyelesaikan jejak emosional dan psikologis peristiwa dengan cara yang beradab dan manusiawi.

Ejakulasi dini bukan hanya ejakulasi fisik yang dini, tapi juga lelaki yang pergi sebelum hubungan emosional dan psikologis diselesaikan dengan pantas.

Saya selalu mengagumi Ayu Utami. Dia semacam guru buat saya; tempat di mana saya mencari tahu soal sifat-sifat perempuan, apa yang seharusnya/tidak seharusnya perempuan lakukan, dan tentunya soal kesetaraan gender.

Saya selalu setuju dengan pernyataan Butet Kertaradjasa soal Ayu Utami: “Indonesia harus bangga punya perempuan yang mampu menelanjangi laki-laki dengan begitu sopannya”—yeah, kurang lebih seperti itu.

Sebenarnya saya juga penasaran dengan apa kata Goenawan Mohamad atau Sahal—yang juga temannya Ayu Utami, soal kasus SS ini. Dan saya juga penasaran dengan apa kata Sudjiwo Tedjo.

Tapi saya terlanjur malas mencari tahu karena itu berarti saya harus masuk ke twitter lagi.. (mengingat GM, Sahal, dan Sudjiwo Tedjo lumayan aktif ngetwit). Atau jangan-jangan sebenarnya kasus SS ini sudah pernah dibahas di Majalah Tempo? Ahh, saya belum cek.

Tapi yah, soal kasus Sitok. Mau dilihat dari sudut pandang manapun, atas dasar argumen apapun, saya hanya bisa berkesimpulan: Karena Sitok juga laki-laki. As simple as that.

Dan sekarang perempuan korban pemerkosaan itu sudah mulai menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya. Tapi baru sampai pertanyaan ketiga yang diajukan penyidik, korban sudah tidak kuat sehingga pemeriksaan disetop.

Tentu saja, perempuan itu sudah tidak sudi dinikahi oleh Sitok. Saya sendiri tidak berani membayangkan solusi terbaik apa yang sebaiknya dilakukan untuk menyelesaikan kasus ini. Sama seperti saya yang tidak kenal Sitok, saya juga tidak kenal perempuan itu.

Saya hanya bisa berdoa, semoga perempuan itu masih mau makan, menjaga kondisi badannya. Semoga bayinya nanti lahir sehat, tidak kurang suatu apa pun. Setelah itu, lalu apa? Bayinya dititipkan di panti asuhan? Atau perempuan itu sebaiknya terus menjalankan hidup seperti biasa bersama bayi itu, seolah tidak pernah terjadi apa-apa?

Sungguh, saya tidak punya bayangan dan tidak berani membayangkan..

[Pekanbaru, 13 Desember 2013]

[12.44 PM]


About this entry