Asmara Terindah.

Di mana ada asmara terindah? Di masa lalu, tentu saja. Masa-masa di mana tidak ada pikiran soal cicilan rumah atau cicilan kendaraan. Masa-masa di mana tidak ada pikiran soal cucian yang menumpuk atau makanan basi bekas semalam. Masa-masa di mana tidak ada kata anak-anak atau mertua dalam kamus hidup kita. Dalam asmara masa lalu, yang ada hanya kamu dan dia. Yang ada hanyalah rasa sayang yang murni, rasa bahagia yang membuncah, serta rasa rindu yang menggebu-gebu.

Asmara terindah ada di situ, saat kalian berdua mengunjungi Taman Kota di Georgetown atau bersama-sama menikmati pecal ayam sampe keringetan. Atau saat kalian berlibur di Ciwidey, diam-diam menggigil kedinginan dan tiba-tiba langsung merasa hangat saat dia meminjamkan jaketnya. Atau saat kalian snorkling bersama di Pulau Tidung, atau sekedar jalan-jalan ke Ragunan dan membersihkan kotoran burung yang jatuh di kepala.

Asmara terindah ada di situ, saat kalian telfon-telfonan sampai subuh. Tidak berpikir bahwa besok masih harus masuk kelas/kuliah. Tidak memikirkan sisa pulsa yang tinggal beberapa sen saja. Yang ada adalah kalian terus-menerus ingin dekat satu sama lain, saling menanyakan kabar, dan tidak rela melihat pasangan susah hati dan kesepian.

Asmara terindah ada di situ, saat dia mengantarmu malam-malam, persis sampai depan rumah. Atau saat dia menjagamu di Rumah Sakit, setia menjengukmu meski kamu bilang kamu sudah baikan. Atau ketika kamu berulangtahun, saat dia setia menemani dan melayani segala macam permintaanmu yang aneh-aneh, khusus di hari itu. Padahal kamu sendiri sebenarnya lupa kapan hari ulangtahunnya.

Asmara terindah juga ada di situ, saat dia tiba-tiba menghentikan taksi dan membeli setangkai bunga mawar yang dijual di jalanan, cuman buat kamu agar malam itu kamu tidak cemberut lagi. Atau saat dia merekam lagu yang dia aransemen sendiri, sebuah senandung gitar tanpa nyanyian yang bisa kamu putar menjelang tidur.

Semuanya ada di masa lalu. Tidak mungkin terulang dan memang tidak untuk diulang. Kenangan tetap kenangan. Asmara terindah tetap pada kotaknya yang sudah lama kusimpan, meski kadang sesekali aku masih suka ziarah ke sana, semacam untuk wisata hati.

Mungkin karena pada masa sekarang kita sudah lebih rasional. Dan waktu memaksa kita agar lebih mengedepankan logika. Punya pasangan jadi hanya sekedar ‘punya’. Tidak akan ada gejolak asmara seindah dulu, saat hatimu tidak begitu diracuni oleh pikiranmu terkait latar belakang pasangan, bagaimana caranya melunasi ini-itu, serta bagaimana masa depan anak-anakmu nanti (kalau dirimu benar-benar bisa menghasilkan keturunan).

Meski bukan yang terindah, asmara mungkin tetap ada di sana, di jas hujan kuning mentereng yang setia melindungimu kala hujan. Atau saat dia diam-diam menggambarmu di sebuah ujian psikotes dan diam-diam mengagumi rambutmu.

[Pekanbaru, 15 November 2013]
[02.30 PM]


About this entry