Ngelamun.

Ngelamun adalah ketika kamu menyusuri jalan protokol di sepanjang Jalan Sudirman, Pekanbaru dan memperhatikan spanduk acara di hotel demi hotel, tapi tak terasa bensin motor sudah menipis.

Atau ketika kamu selesai wawancara orang Bulog, tiba-tiba kamu membawa pulang 2kg gula pasir merek Bulog, yang entah kenapa kamu bisa begitu saja membelinya. Padahal kamu ngga butuh gula—dalam jumlah yang banyak pula.

Dan tidak hanya berakhir di gula pasir saja. Ngelamun juga adalah ketika kamu pulang ke kosan dengan menenteng sebungkus nugget siap goreng dan dua bungkus biskuit Roma Sari Gandum Cokelat hasil kunjungan ke Indomaret.

Bahkan, biskuit itu akhirnya mejeng di DP BBM-mu, lengkap dengan status “I love Roma Sari Gandum Cokelat”—yang mana amat sangat tidak penting dan tidak menyiratkan apapun.

Dan sekali lagi, tetap tidak berhenti hanya sampai di situ. Saat pikiranmu menyuruhmu pulang, tapi kamu malah membelokkan motor ke suatu kedai dan tiba-tiba membeli burger untuk makan siang—itu juga adalah ngelamun.

Sudah dua bulan saya di Pekanbaru. Bulan Oktober ini ternyata tanda-tanda bosan mulai menjangkiti secara perlahan. Saya jadi sering ngelamun dan berakhir dengan membeli berbagai barang yang sebenarnya tidak saya butuhkan.

Sejak saya kembali lagi ke sini pasca liburan Idul Adha lalu, setiap weekend saya tidak ke mana-mana. Weekend jadi nampak menyeramkan instead of menyenangkan.

Ditambah, Pekanbaru lagi sering hujan. Dan hujannya tidak main-main. Biasanya, ba’da Magrib atau ba’da Isya, hujan mulai turun. Semakin lama semakin deras dan ini berlangsung dalam jangka waktu yang lumayan lama. Bahkan pernah jam 7 pagi hujan baru berhenti.

Bulan Oktober ini saya lebih sering mengurung diri di kamar. Saya sudah mulai bosan menyaksikan acara YKS di malam hari serta acara Dahsyat di pagi hari—yang rutin disetel oleh anak-anak kosan. Setiap hari, selalu rutin begitu.

“Halo, kak.. udah lama ngga jumpa kakak..,” kata Ayu, salah satu anak kosan, waktu ketemu saya malam ini saat saya bergabung dengan mereka di ruang tengah untuk makan.

Sepertinya, anak-anak kosan juga mulai menyadari bahwa saya sekarang lebih banyak merengut, tidak banyak bicara, sengaja menghindar dengan mengurung diri di kamar. Saya keluar kamar hanya kalau mau makan atau mandi.

Kala weekend, saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur. Sebuah istirahat yang sangat mahal, yang selalu saya idam-idamkan saat berakhir pekan di rumah. Tapi di sini, saya serasa dibanjiri waktu luang. Saking luangnya sampe ngga tahu mau ngapain lagi.

Saya mencoba menghibur diri dengan menonton film demi film yang belum sempat saya tonton di Jakarta. Ya, harddisk external saya ikutan hijrah ke kota ini. Mulai dari film hantu, romantik komedi, hingga film kartun, satu demi satu saya tonton.

Dulu di Jakarta atau di Bogor, saya suka pergi nonton ke bioskop sendirian. Dan bioskopnya tidak hanya 21. Saya punya Kineforum, Jiffest, atau Goethe Institut tempat saya nonton film-film seru di luar hegemoni Hollywood.

Tapi di sini, ngga ada terbersit rasa ingin nonton di bioskop—apalagi sendirian. Selain karena harganya yang mahal (weekend Rp60.000 cuy!), nonton sendirian lebih nampak memprihatinkan sekaligus menyedihkan jika dilihat orang.

Sebentar. Jika dilihat orang, katamu? Sejak kapan kamu peduli apa pendapat orang lain?

Sejak saya di Pekanbaru, mungkin. Hahahaha.. Pada bulan Oktober inilah saya baru menyadari satu hal. Di kota ini, awalnya saya begitu bersemangat mencari berita. Berita yang beneran ‘berita’, bukan sekedar memenuhi tugas menulis.

Tapi lama-lama saya berpikir, buat apa saya bersusah-payah seperti ini? Saya mencari berita demi kebaikan warga Riau pada umumnya, dan warga Pekanbaru pada khususnya. Tapi toh, siapa yang menjamin bahwa mereka membacanya?

Kenapa saya begitu bersemangat? Padahal wartawan lokal sini bekerja seadanya dan malah keliatan saya yang lebih semangat. Kasarnya, ngapain saya bela-belain amat nulis berita bagus? Kota juga bukan kota saya.. what the hell am I doing here, actually?? Hahahahaha..

Lalu, apa kabar dengan hidupmu sendiri, Ga? Katanya mau ngambil IELTS? Katanya mau umroh? Kamu harus belajar peduli dengan hidupmu sendiri, karena ngga ada orang di luar sana yang peduli. Tidak kantormu, tidak juga keluargamu.

Sekarang udah Rabu. Sebentar lagi weekend datang (lagi). Tapi, kali ini tetap tidak ada Wuri yang bisa diajak jalan dan belanja bareng. Tidak ada Nana dan Feni yang bisa diajak makan bareng. Tidak ada pacar yang… sebentar. Pacar, katamu?

Ahh. Saya bahkan udah lupa rasanya pacaran.

Begini ternyata rasanya kesepian. Satu bulan pertama saat September lalu rasanya masih baik-baik saja, semua terasa menyenangkan. Tapi masuk bulan kedua pada Oktober ini, rasa sepi sendirian ini rasanya udah mencapai klimaksnya.

Tapi hey, coba liat itu kalender. Apah? Masih ada dua bulan lagi di sinih?? #dankemudianhening.

[Pekanbaru, 30 Oktober 2013]

[11.04 PM]


About this entry