Menjadi Perempuan Dewasa.

Kamis kemarin, menstruasi saya datang. Seharusnya ini jadi hal yang sangat biasa. Toh setiap bulan saya pasti akan mengalaminya. Dan ini sudah saya alami sejak saya kelas 2 SMP. Bahkan, anak-anak sekarang banyak yang sudah mengalaminya sejak SD.

Tapi Kamis kemarin saya kecolongan. Saya tidak menyangka menstruasi saya datang hari itu. Rabu malamnya, saya memang terlalu letih karena baru saja pulang dari Pangkalan Kerinci menuju Pekanbaru. Kamis paginya, saya sudah harus bangun untuk liputan seminar ekonomi.

Di acara seminar itu, saya memang merasa sakit perut. Tapi saya pikir itu sakit perut biasa, karena lapar belum sarapan. Tapi apa yang terjadi? Ketika saya berdiri, di kursi yang saya duduki terlihat ada bercak-bercak merah. Kursi itu dilapisi kain putih. Bercak darah nyata terlihat di sana.

Untungnya, saya duduk di barisan paling belakang sehingga memang hampir tak ada yang menyadarinya. Apalagi, saat itu sudah lewat jam makan siang. Sudah jam setengah 2. Orang-orang sudah langsung menyerbu prasmanan untuk mengambil makanan.

Merasa ada yang salah, saya langsung lari ke toilet sebelum ada yang benar-benar melihat. Saya cukup lama di toilet. Membersihkan apa yang bisa dibersihkan, menutupi celana sebisa mungkin. Setelah itu, saya langsung turun ke parkiran dan langsung menuju kosan untuk ganti celana.

Saya langsung menghubungi rekan kerja saya dan meminta tolong padanya untuk wawancara narasumber di seminar itu. Saya jelaskan situasinya sebisa mungkin, sambil menahan malu. Wajar, rekan kerja saya ini laki-laki. Meski dia pun saya pikir paham, tapi tetap saja saya malu.

Setelah ganti celana di kosan, saya bergegas menuju kantor dengan ekspresi muka datar, wajar, seolah tidak ada apa-apa. Ya, saya memang ahli di bidang kepura-puraan, bukan? Setelah itu, tidak lama kemudian rekan kerja saya itu juga datang ke kantor. Untungnya, dia tidak lagi mengungkit soal apa yang baru saja terjadi. Dan saya tidak jadi bertambah malu.

Tapi saya kesel sama diri saya sendiri. Mengapa kejadian ini tidak bisa diantisipasi sebelumnya? Kenapa saya tidak bawa spare pembalut di tas, seperti yang biasa saya lakukan di Jakarta? Kenapa kali ini saya tidak bisa membedakan, mana yang sakit perut karena lapar, mana sakit perut karena ingin buang air, dan mana yang sakit perut karena mau menstruasi?

Kenapa saya masih tidak bisa memahami tubuh sendiri? Kenapaaaaa??

Setiap saya bertanya ke orang-orang “tanggal berapa sekarang?”, banyak yang mengira saya menanyakan soal tanggal gajian. Ya, kadang ada benarnya. Tapi sesungguhnya di balik itu adalah saya mengecek dan mencoba mengingat-ingat, apakah sudah waktunya menstruasi saya datang?

Meski dia datang setiap bulan, tapi tidak pernah selalu di tanggal yang sama. Kadang dia datang terlalu cepat, kadang dia datang terlalu lambat—bahkan pernah selama satu bulan saya tidak mens sama sekali. Jadi ternyata, di umur 25 tahun pun saya masih suka kecolongan soal hal satu ini.

Dan tentu saja, pikiran soal ini jadi melebar ke mana-mana. Bukan si Vega namanya kalo ngga banyak pikiran. Semuanyaaaa dipikirin. Dari mulai hal kecil sampe ke hal yang lebih kecil—tapi terus dibesar-besarin. Dan ujung-ujungnya pikirannya pasti negatif. Salah satu hasilnya yaaa tulisan ini.

Tiba-tiba saya jadi ingat sepotong adegan dalam film Armageddon. Waktu Liv Tyler bilang di depan bapaknya, bahwa dari teman bapaknya-lah dia belajar cara make pembalut wanita. Tapi tentu, nasib saya tidak separah itu.

Saya jadi ingat ketika saya masih kecil (entah umur berapa, tapi kayanya masih SD). Waktu saya lihat iklan Laurier di TV dan bersikeras bertanya pada orangtua, benda apa itu sebenarnya? Buat apa? Kenapa perempuan harus pake itu?

Saya bersikeras bertanya sampe akhirnya saya dimarahi bapak, dan kemudian saya menangis. Bapak tidak memberi saya jawaban, dia hanya bilang ‘itu urusan orang dewasa’. Akhirnya, nenek saya yang ketika itu juga ada di sana, mengajak saya ke kamar dan menjelaskan sebisa dia. Barulah akhirnya saya diam ketika diberitahu bahwa suatu saat, saya juga akan mengalaminya sendiri.

Buntut dari kejadian Kamis kemarin itu adalah, saya membatalkan niat bekerja di majalah atau tabloid perempuan. Ahahahahahaha.. Ya, tadinya saya sempat berkeinginan untuk masuk ke sana karena saya pikir saya bisa belajar menjadi perempuan yang baik dan benar; karena dikelilingi oleh perempuan yang memang ‘perempuan’, dan ke depannya saya harap bisa belajar jadi ibu yang baik dan benar—dengan cara bergaul sama mereka.

Tapi akhirnya, saya batalkan niat itu. Saya pikir, saya ini sebenarnya adalah perempuan yang hobi sinis dan nyinyir sama perempuan lain. Dan sebenarnya ngga terlalu suka juga sama perempuan yang make up-nya ketebelan, sama mereka yang kecentilan di depan laki-laki, sama mereka yang berisik baik di dunia nyata maupun ngoceh di dunia maya—demi sebuah eksistensi diri.

Mungkin bener kata orang. Saat kita kecil, kita selalu ingin cepet gede. Giliran udah gede, kita pengen kembali ke masa kecil. Apalagi, saat waktu memaksa kita memasuki usia dewasa. Yang ada hanyalah denial berkepanjangan.

Dan kini saat waktu sudah memaksa saya menjadi perempuan dewasa, biarlah saya mencari tahu sendiri bagaimana caranya menjadi perempuan dewasa. Biarlah saya memilih sendiri mau jadi perempuan seperti apa saya di masa tua nanti.

Nanti akan ada waktunya ketika saya harus memahami hal-hal baru yang menyangkut tubuh saya—seperti soal kehamilan, fungsi payudara, sampe soal alat kontrasepsi. Akan ada waktunya saat saya harus belajar soal menopause, belajar menerima saat ternyata rambut mulai memutih, dan kulit sudah mengkerut dan keriput. Akan ada waktunya, kan? Iya, kaaan?

[Pekanbaru, 26 Oktober 2013]
[00.19 AM]


About this entry