“Menanti Transformasi Tesso Nilo”

Oleh: Vega Aulia Pradipta

Berkat kedatangan aktor Hollywood Harrison Ford, gajah-gajah yang ada di Taman Nasional Tesso Nilo, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, tidak lama lagi akan dikenal oleh dunia.

Kedatangan Harrison Ford ke Tesso Nilo tentu bukan dalam rangka ‘sekedar’ wisata. Kedatangannya adalah dalam rangka syuting film serial dokumenter berjudul Years of Living Dangerously yang rencananya mulai tayang April 2014.

Tesso Nilo awalnya mungkin terdengar asing, bahkan bagi warga negara Indonesia sendiri yang tinggal di luar Riau. Tapi ternyata, perambahan yang terjadi di hutan ini sudah sangat mengkhawatirkan sehingga menarik perhatian dunia, termasuk Ford.

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengatakan Ford memang secara terang-terangan complain kepadanya terkait kerusakan hutan yang terjadi di Riau. Zulkifli mengakui bahwa dunia memang cukup concern terhadap hutan dan keselamatan satwa di Indonesia.

“Ketika ada ratusan orang meninggal karena kecelakaan arus mudik, ngga ada yang demo ke Kementerian Kehutanan. Tapi kalau ada satu harimau saja mati di Riau, yang demo bisa sampai 500.000 orang,” ujarnya di depan peserta Rakernas Kadin di Pekanbaru, Senin (16/9/2013).

Dalam kawasan hutan Tesso Nilo, terdapat dua kantong habitat gajah. Selain gajah, Tesso Nilo merupakan habitat alami bagi satwa dilindungi lainnya yaitu harimau.

Kuppin Simbolon, Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) dalam diskusi “Integritas dan Akuntabilitas Pengelolaan Hutan” di kantornya di Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Sabtu pekan lalu (14/9/2013) mengatakan pamor Tesso Nilo mendadak naik pasca kedatangan Harrison Ford. Tesso Nilo kini menjadi sorotan dunia.

“Mereka mau bikin film yang nanti akan tayang di seluruh dunia, jadi ini memang penting. Kedatangan Harrison Ford itu bagus, artinya dia memberikan atensi lebih tinggi kepada Tesso Nilo,” ujarnya.

 Image

Sayangnya, melalui film itu dunia akan mengenal Tesso Nilo bukan karena keanekaragaman hayati atau harimau dan gajahnya, melainkan karena aksi perambahan oleh orang dan kelompok, yang semakin marak terjadi di dalam hutan.

Afdhal, peneliti dari WWF Riau mengatakan konteks perambahan di sini termasuk kegiatan menduduki, menguasai, dan mengusahakan kawasan hutan di kompleks hutan Tesso Nilo.

“Tesso Nilo sebenarnya di AS cukup terkenal, karena banyak yang bisa dipelajari dari sini. Tapi aksi perambahan di sini semakin marak, perambahan ini lebih sadis dari illegal logging karena ada konversi dan menduduki lahan serta melibatkan banyak orang,” ujarnya.

Kawasan hutan Tesso Nilo mencapai 167.618 hektare, meliputi kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), IUPHHK PT Hutani Sola Lestari, dan IUPHHK PT Siak Timber Raya.

Seluas 83.068 hektare di antaranya sudah ditetapkan menjadi sebuah Taman Nasional yang mencakup kawasan konservasi di antara dua kabupaten di Provinsi Riau, yakni di Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hulu.

WWF mencatat hingga 2012, area perambahan sudah mencakup 52.266 hektare di hutan Tesso Nilo dan 15.714 hektare di antaranya terjadi di kawasan Taman Nasional.

Dari jumlah 52.266 hektare itu, sebanyak 70% atau 36.353 hektare sudah dikonversi menjadi kebun sawit, sedangkan sisanya lahan terlantar atau ditanami tanaman pertanian lainnya.

“Kebun sawit di dalam kompleks hutan Tesso Nilo dikuasai dan dikelola oleh individu dan kelompok. Anehnya, rata-rata kebun yang dimiliki oleh individu adalah 50 hektare, jauh lebih besar dari rata-rata kebun yang dimiliki oleh petani. Petani itu paling 2 hektare. Jadi, ini mengindikasikan adanya modal yang besar,” jelas Afdhal.

Dua perusahaan global yakni Asian Agri dan Wilmar diindikasikan tidak dengan cermat menyaring masuknya Tandan Buah Segar (TBS), yang membuka peluang masuknya TBS yang ditanam dari Taman Nasional. Adapun Asian Agri diwakili oleh PT Inti Indo Sawit Subur dan PT Mitra Unggul, sementara Wilmar diwakili oleh PT Citra Riau Sarana.

 Image

 Tesso Nilo, 14 September 2013.

Image

Harrison Ford, yang paling kanan.

//Butuh Parit Sebagai Batas//

Sementara itu Kuppin berpendapat, masyarakat tidak bisa sepenuhnya disalahkan atas perambahan. Pasalnya, adanya akses jalan memudahkan orang untuk masuk kawasan Taman Nasional. Perambah diduga kebanyakan adalah pendatang dari Sumatra Utara.

“Perambah memang salah tapi sebenarnya bukan karena mereka juga. Ada sistem yang bermain sehingga membuka peluang kepada mereka. Pak Kuntoro [Kepala UKP4] banyak menyampaikan ke saya, benahi peta, rapikan TNTN tapi tidak menyakiti hati rakyat. Harus didahului penyuluhan, anda [perambah] itu berada di tempat yang keliru,” jelasnya.

Oleh sebab itu, untuk tahap awal menurutnya perlu dibangun parit sebagai pertanda batasan kawasan Taman Nasional. Setelah parit dibangun, baru mulai membenahi kapasitas pengelola Taman Nasional dengan menambah jumlah penyidik dan polisi kehutanan.

“Kami penyidik cuma satu, paling tidak harus ada 6. Polisi kehutanan juga cuma 14 orang, ngga cukup. Sementara perkiraan kami ada 7.000 orang perambah yang masuk kawasan hutan. Kami juga ngga mau jadi pahlawan kesiangan, keselamatan petugas kami tetap yang utama. Yang bertugas menindak harus aparat, tim yang terpadu,” jelasnya.

Selain lahan hutan sudah dikonversi menjadi kebun sawit, Kuppin mengatakan di dalam kawasan hutan bahkan sudah ada perumahan, lengkap dengan mesjid dan gereja.

//Seperti Taman Nasional Komodo//

Selain memikirkan bagaimana mengatasi perambahan yang terjadi di dalam kawasan hutan, pihak Balai TNTN juga terus mematangkan konsep TNTN sebagai destinasi ekowisata yang baru, layaknya Taman Nasional Komodo.

“Tesso Nilo sebenarnya bisa menjadi ekowisata yang menarik. Taman Nasional Komodo, dulu itu biasa-biasa saja. Tapi sekarang sudah disulap jadi mewah karena ribuan turisnya dan investor domestiknya sudah banyak. TNTN bisa menjadi seperti itu kalau kita semua bergandengan tangan,” ujar Kuppin.

Di Kabupaten Pelalawan sendiri, lanjutnya, saat ini sedang dikembangkan destinasi wisata di Bono sebagai surganya turis untuk surfing. Setelah Bono, baru selanjutnya akan didorong di Tesso Nilo. Namun nampaknya, masyarakat masih harus banyak bersabar menunggu transformasi Tesso Nilo yang diharapkan bisa seperti Taman Nasional Komodo.

Sementara itu Junjung Daulai, salah satu karyawan WWF yang bertugas memelihara gajah-gajah di TNTN mengatakan kegiatan wisata sebenarnya sudah dimulai, tapi memang belum banyak wisatawan yang datang.

“Wisata di sini, pengunjung bisa naik gajah dan ikut patroli. Tapi di sini gajah yang kami pelihara tinggal 8, kalau yang liar masih ada sekitar 80—100 ekor di dalam hutan. Selain naik gajah, bisa juga trekking dan menyusuri Sungai Nilo,” jelasnya.

Image


About this entry