Baru berasa perempuan.

Sudah dua minggu saya di Kota Pekanbaru. Kesan yang saya dapat sekarang, tentu berbeda dengan saat pertama mendarat di kota ini. Semakin bertambahnya hari, tentu ada memori-memori baru yang tercipta di otak. Awalnya berada di kota ini berasa menyenangkan. Tapi, semua memori menyenangkan yang tercipta tentang kota ini menjadi hancur gara-gara kejadian tadi malam. Satu kejadian yang mencederai pikiran dan perasaan saya tentang kota ini.

Sabtu pagi (14/9/2013) saya diajak liputan bareng WWF untuk diskusi soal perambahan Taman Nasional Tesso Nilo di Kerinci, sekitar satu setengah jam dari Pekanbaru. Setelah itu, kami lanjut masuk ke hutannya yang memakan waktu 3 jam. Sayangnya, panitia terlalu lamban mengatur dan memutuskan ini-itu, sehingga alhasil kami sampai di hutan Tesso Nilo di Pelalawan udah kesorean, dan akhirnya kembali ke Pekanbaru sudah larut malam.

Sebenarnya hari Jumat-nya saya udah minta tolong orang umum di kantor saya, untuk menjemput saya pagi-pagi di kosan dan mengantar saya ke kantor WWF. Malamnya, saya bisa aja minta dianterin pulang sama orang WWF. Soalnya saya ngga mau bawa motor sendiri dan nitipin di kantor WWF dalam waktu yang lama. Kalo bawa motor sendiri, ya artinya saya juga mesti bawa pulang motor sendiri. Jadilah saya pulang sendiri, jam setengah 12 malam dari kantor WWF menuju kosan.

Di tengah jalan, tepatnya di daerah Panam, di depan SPBU Pertamina, tiba-tiba ada sebuah kendaraan besar nan panjang yang nampaknya abis ngisi bahan bakar. Otomatis, motor saya pelankan. Saya beriringan dengan kendaraan besar itu, posisi saya di sebelah kanan. Tiba-tiba, ada motor lain yang mendekat dari sebelah kanan. Saya pikir dia mau menyusul saya. Tapi ternyata dia seperti menyamakan posisi sejajar dengan saya, dan tiba-tiba tangannya memegang payudara kanan saya. Saya kaget dan cuma bisa berteriak ‘HEH!’ yang entah kedengeran sama dia atau ngga. Setelah itu dia melaju dengan kencang menyusul saya, sambil menengok ke belakang sekali dan cengar-cengir melihat saya. Kemudian dia hilang.

Saya kaget luar biasa. Tapi untungnya saya masih bisa mengendalikan laju motor dan sampai ke kosan dengan selamat. Setelah motor dimasukkan tempat parkir, setelah semua pintu dikunci, saya masuk kamar dan baru di situ saya menangis. Baru berasa.. Kejadian itu benar-benar mengerikan. Bayangkan, ada laki-laki asing yang memegang bagian vital dari tubuhmu—untuk kesenangan iseng semata. Benar-benar baru kali ini saya mengalami pelecehan seksual. Dan atas kejadian ini juga, baru kali ini saya benar-benar sadar bahwa saya memang perempuan.

Saya langsung mengabari si orang itu. Orang yang dulu saya andalkan, yang saya pikir bisa melindungi saya. Tapi ternyata si orang itu udah tidur. Haha.. akhirnya saya menelepon teman saya. Bercerita kronologisnya sambil terus menangis. Saya ngga tahu apa dia paham dengan alur cerita saya. Tapi dia berusaha menenangkan. Dia bertanya atribut saya ketika membawa motor. Memang malam itu saya ngga pakai jaket, karena jarak tempuh dari kantor WWF ke kosan itu sebenarnya dekat. Lagian biar saya bisa merasakan dinginnya angin, biar ngga ngantuk. Tapi ya, itu salah saya sendiri rupanya. Pengendara lain jadi bisa dengan mudah mengenali bahwa saya perempuan.

Kedua, dia bertanya apa saya lihat plat nomor si pelaku. Haha.. udah malem begitu, mana keliatan lagi. Mukanya juga udah ngga jelas lagi di memori. Mungkin dia tahu saya ini pendatang, keliatan dari plat nomor F yang melekat di motor saya. Mungkin dengan begitu, dia sendiri bisa jadi sama-sama pendatang juga, iseng sama pendatang lain. Tapi bisa juga dia betul-betul warga asli Riau, yang iseng sama pendatang. Yang lagi bete sama istrinya di rumah, atau murni jejaka mesum yang lagi kesepian. Mungkin juga dia bagian dari geng motor, yang setelah melakukan pelecehan itu ke saya, lalu membanggakannya di depan teman-temannya. “Eh gue tadi abis megang tetek perempuan! Lambat kali dia bawa motor! Tapi tahu ngga? Teteknya ternyata kecil! Apes gue!”

Saya ngga ngerti kenapa laki-laki begitu tergila-gila sama payudara. Saya juga ngga abis pikir, tentu sebenarnya mereka paham betul bahwa ibunya juga punya payudara, kakak atau adek perempuannya juga punya payudara. Tapi saya, yang punya payudara aja ngga merasa itu ‘barang’ berharga, kecuali untuk menyusui anak saya nanti. Apalagi memang payudara saya juga ngga gede-gede amat. Ngga perlu dibangga-banggain (baca: pakai baju seksi yang menonjolkan lekuk tubuh), dan ngga perlu ditutup-tutupin juga (baca: pakai baju panjang, rapat, dan tertutup). Saya merasa ngga perlu khawatir dengan pandangan laki-laki terhadap tubuh saya secara keseluruhan. Karena sebenarnya, justru saya cenderung tidak percaya diri atas tubuh saya yang kecil ini.

Tapi kejadian malam tadi betul-betul mengingatkan saya sendiri bahwa saya ini memang perempuan. Mau sekecil apa pun tubuh saya, mau saya pede sama tubuh sendiri atau ngga, perempuan tetap perempuan. Perempuan memang sebaiknya ngga keluar malam-malam sendirian. Padahal, saya biasa pulang malam setiap mau ke Bogor. Tapi setidaknya itu bareng-bareng penumpang lain yang ada di kereta, dan saya ngga bener-bener pulang ‘sendiri’. Tiga tahun di Malaysia juga baik-baik aja, ngga ada kejadian menyeramkan kaya gini. Dulu bapak saya concern banget, dia sebenernya ngga ngasih saya kuliah di Bandung, Jogja, apalagi Jakarta. Melihat pergaulan anak-anak dari temennya yang kuliah di kota besar, dia ngga mau saya jadi kaya gitu. Setelah saya pikir-pikir, mungkin ada benarnya juga. Kalo saya beneran kuliah di Bandung atau di Jogja, mungkin di tengah-tengah kuliah saya malah hamil duluan.

Dan sampai sekarang, bayangan tentang kejadian tadi malam masih belum bisa hilang. Efek psikologisnya tentu mudah ditebak. Saya jadi takut keluar rumah. Saya jadi malas liputan. Kalau keluar rumah untuk liputan, jadi pingin cepat-cepat pulang. Saya jadi takut melihat laki-laki di sini. Mereka menjadi sangat asing bagi saya. Dan saya jadi takut bawa motor, saat tiba-tiba ada yang menyusul dari kanan atau kiri. Takut tiba-tiba mereka mendekati motor saya lagi, dan melakukan hal yang sama seperti yang laki-laki itu lakukan. Saya masih ngga bisa lupa saat laki-laki itu tertawa saat dia menoleh ke belakang menengok saya, sementara saya tidak bisa melakukan apa-apa.

[Pekanbaru, 15 September 2013]

[08.57 PM]


About this entry