“Dari Kimchi sampai Cabe Rawit Merah”

Oleh: Vega Aulia Pradipta

Siapa sangka cabe rawit merah bisa menjadi pencair suasana dalam dinner antara dua perusahaan besar, PT Pertamina (Persero) dan Hyundai Heavy Industries Co Ltd?

Hal itu benar-benar terjadi di sebuah restoran di Kota Ulsan, Korea Selatan pada Senin malam (19/8/2013). Hyundai menjamu kedatangan rombongan dari Pertamina yang akan menghadiri acara penamaan (naming ceremony) kapal pengangkut elpiji terbesar (Very Large Gas Carrier/VLGC) pada Selasa keesokan harinya (20/8/2013).

Sebelumnya, rombongan (termasuk penulis yang diundang ke sana) berangkat Minggu malam (18/8/2013) dari Jakarta dan tiba di bandara internasional Incheon, Seoul pada Senin pagi sekitar pukul 9 waktu setempat.

Kemudian, kami melanjutkan perjalanan darat ke bandara domestik Gimpo, dan lanjut naik pesawat kurang lebih 1 jam menuju Ulsan. Setibanya di Ulsan, kami disambut pemandangan berupa deretan beratus-ratus mobil Hyundai yang siap dimasukkan ke dalam kapal untuk segera dikirim ke berbagai negara tujuan.

Kota Ulsan ternyata biasa disebut “Hyundai Kingdom”. Pasalnya, di sini bukan hanya ada pabrik kendaraan bermotor serta galangan kapal saja, melainkan juga ada Hotel Hyundai, Ulsan University Hospital, Hyundai Department Store, hingga pusat kesenian (Hyundai Arts Center).

Di jalanan Senin sore itu terlihat hampir seluruh penduduk di Kota Ulsan memakai mobil merek Hyundai. Ada juga yang memakai merek lain yang masih produksi Korea, yaitu KIA. Tapi tidak ada yang menggunakan mobil merek Jepang. Hanya ada beberapa mobil Eropa seperti Audi dan Mercedez-Benz. Ya, Hyundai memang menjadi kebanggaan warga Ulsan.

Bahkan ketika malam tiba dan kami dinner bersama, tim dari Hyundai masih memakai seragam bekerja. Setelah kami duduk di sebuah ruangan di restoran itu, keluarlah satu demi satu hidangan khas Korea.

Mulai dari beraneka jenis Kimchi, potongan demi potongan daging yang siap dipanggang di atas meja, potongan ikan mentah, hingga beraneka jenis sayuran. Kebanyakan makanan rasanya asam dan asin, tidak ada yang pedas. Sampai sini, suasana masih terasa datar.

Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya kemudian meminta Pratomo Setyohadi, New Ships Project Coordinator Shipping Pertamina, untuk mengeluarkan cabe rawit merah dari tasnya, dan ditunjukkan ke tim Hyundai. Ternyata, cabe tersebut memang biasa Pratomo bawa ke mana-mana untuk membangkitkan selera makan.

Dia pun mempersilakan tim Hyundai untuk mencobanya. J. C. Bae, Senior Vice President Customer Service of Shipbuilding Division Hyundai Heavy Industries Co Ltd terlihat sangat kepedesan saat mengigit cabe tersebut. Akhirnya dia tidak berani memakannya sampai habis. Gelak tawa spontan merebak dalam ruangan. Suasana seketika cair.

Persoalan bisnis tentu tidak dibahas dalam dinner kali ini. Sebelumnya, Pertamina telah memesan satu kapal VLGC terbesar di dunia yang harganya mencapai US$76,21 juta.

Pertamina sudah memesannya ke Hyundai sejak tahun lalu. Pada acara Selasa (20/8/2013), hanya tinggal penamaan kapal VLGC-nya saja. Kapal tersebut merupakan kapal VLGC pertama milik Pertamina, yang diresmikan oleh Hanung dengan nama Gas Pertamina 1.

President & COO Hyundai Heavy Industries Co Ltd Oi-Hyun Kim mengatakan kontrak pembangunan kapal Gas Pertamina 1 ini ditandatangani pada 26 Januari 2012. Selain naming ceremony Pertamina, Hyundai sudah sering menggelar acara naming ceremony seperti ini.

Yang Giu Ban, General Manager Contract Management Department Hyundai Heavy Industries Co Ltd mengatakan dalam setahun, acara seperti ini bisa digelar hingga 50 kali.

Turut hadir dalam acara ini, Stenly J. Solang, New Building Manager & Tank Coatings Coordinator PT Jotun Indonesia dan Darmadi, Presiden Direktur PT Soechi Lines. Kapal gas Pertamina 1 ini menggunakan cat dari Jotun. Kapal tersebut akan menjadi kapal milik Pertamina yang ke-57 dari total 187 kapal yang dioperasikan oleh perseroan.

Kapal VLGC terbesar berkapasitas 84.000 meter kubik ini siap datang ke Indonesia pada bulan depan. Hanung mengatakan perseroan sudah memesan kapal kedua yang diharapkan datang pada April 2014.

“Setelah kami negosiasi, untuk harga kapal kedua berhasil diturunkan harganya. Harga kapal kedua lebih rendah US$3 juta dari harga kapal yang pertama dan Pertamina mendapatkan fasilitas tambahan berupa training karyawan dan suku cadang senilai US$500.000,” ujarnya.

Hanung mengatakan selama ini perseroan menyewa VLGC milik pihak ketiga. Kini dengan memiliki VLGC sendiri, Hanung mengklaim Pertamina bisa menghemat sekitar US$30.000—US$40.000 per hari.

Menurutnya, dalam tiga tahun terakhir konsumsi LPG nasional meningkat 12% per tahun. Konsumsi LPG nasional melonjak luar biasa hingga 6 kali lipat dibandingkan dengan tujuh tahun yang lalu.

“Tujuh tahun yang lalu konsumsi LPG Indonesia 1,1 juta metrik ton. Tahun ini, diperkirakan 5,7 juta metrik ton dan tahun depan 6,2—6,3 juta metrik ton. Dengan demikian, kita perlu infrastruktur baik di darat maupun di laut,” ujar Hanung.

Acara penamaan kapal berlangsung tertib dan sangat terstruktur. Pada saat acara berlangsung, kami diminta memakai sarung tangan. Tempat kami duduk di podium sudah diatur sedemikian rupa, lengkap dengan gambar posisi duduk serta nama dan jabatan orang yang duduk di situ.

“Lihat kan bagaimana mereka menyiapkan semuanya? Sangat detail dan rapi. Kita harus belajar dari mereka,” ujar Hanung.

Usai acara, kami dipersilakan masuk ke dalam kapal untuk touring melihat-lihat isi kapal. Saat kami memasuki ruang makan dan dapur di dalam kapal, ternyata ada banyak cabe merah besar di dalam kulkas. Hahahaha.. Semua orang yang melihatnya spontan langsung tergelak, mengingat kejadian tadi malam. Nampaknya kini orang Korea dan orang Indonesia sudah mulai akrab. Setidaknya hubungan itu sudah terjalin antara Pertamina dan Hyundai.


About this entry