Bermula dari SBS.

Seorang teman sekantor tiba-tiba ada yang menanyakan saya, hasil penilaian kinerja saya pada semester I/2013 ini apa? Apakah BS (Baik Sekali) atau SBS (Sangat Baik Sekali)? Konon katanya kalau SBS maka kita bisa dapat bonus satu kali gaji pokok. Lalu saya jawab ke dia: SBS, hasil penilaian saya SBS. Sebenarnya di data yang berisi angka-angka penilaian itu kesimpulannya tertera BS. Tapi penilai 1 dan penilai 2 mengisinya dengan SBS (yang bagi saya masih misteri apakah si penilai itu redaktur atau redpel juga ikutan). Saya senang ketika dapat kabar bahwa SBS dapat satu kali gaji pokok. Tapi ya ngga happy-happy banget juga.

Saya menggunakan ekspresi yang sama ketika menjawab pertanyaan si kawan itu: datar dan sungguh biasa—saya tidak menganggap SBS itu sebagai suatu prestasi atau pencapaian karir yang luar biasa hebat. Dapat gaji banyak-banyak pun buat apa, toh bapak saya tetep ngga mau nerima uang hasil kerja saya. Saya kepingin sih nyicil mobil, tapi ngga sekarang lah. Selama kebutuhan hidup saya (makan, ongkos, jalan-jalan) masih bisa tercukupi, saya ngga akan ngoyo soal gaji. Yang penting hidup bahagia, cukup.

Tapi ternyata, masalah SBS ini penting buat si kawan saya ini. Kebetulan si kawan saya ini lawan jenis dan hasil penilaian dia BS. Tiba-tiba dia bilang kalo dia orangnya memang kaya ‘ngga mau dikalahin’, apalagi sama cewek. ‘Dikalahinnya’ sama saya pula, yang orangnya kebetulan mungil dan sekali toyor bisa langsung jatoh. Tiba-tiba begitu mendengar jawaban saya kalo penilaian saya SBS, dia seketika kagum. Ternyata dia diam-diam mengagumi semangat saya bekerja, memperhatikan tulisan-tulisan/berita-berita saya—yang menurutnya sebenarnya masih ngga sempurna penulisannya karena masih banyak penggunaan kata yang tidak tepat.

Dan seketika saya terkejut. Hahahaha.. ada yang memperhatikan, rupanya?

Akhirnya saya bilang ke dia, saya ini cuma perempuan biasa, yang punya cita-cita jadi jurnalis, sama kaya dia. Secara profesional mungkin kita setara, bahkan menurut dia saya (sebut saja) lebih pintar dari dia. Dia yang bilang lho ya, bukan saya. Tapi secara fitrah, saya tetep perempuan, tetep subordinat. Hey kamu, yang laki-laki, tetep derajatnya di atas saya. Jadi jangan khawatir, kamu ngga akan ‘kalah’ kalau soal fitrah ini.

Percakapan berlanjut panjang—jadi melebar ke soal kesetaraan gender dan tetek bengeknya. Saya bilang ke dia, secara fitrah, self-esteem saya sebagai seorang perempuan itu rendah sekali. Meski, secara profesional, saya bisa saja lebih tinggi dari dia. Akhirnya pembicaraan menyangkut ke personal. Saya akhirnya bilang kalo saya udah ngga punya role model perempuan di rumah. Saya jadi tumbuh liar, sok jagoan padahal cengeng. Bapak saya cukup setara dan adil dalam memperlakukan anak-anaknya. Saya suka masak nasi di rumah, tapi yang nyiapin lauknya bisa saja adik saya. Kala bepergian, saya tetap disuruh bawa-bawa koper sendiri, meski itu agak berat. Akibatnya, ya seperti ini. Secara karir saya mungkin bagus, tapi sebenarnya, jauh di balik itu, secara fitrah self-esteem saya rendah sekali.

Sampai akhirnya Senin sore tadi (29/7), sekitar jam 5 saya dapat telpon dari sekred. Saya diminta bertemu wapemred jam 7 malam. Akibatnya, rencana saya mau taraweh lagi di Istiqlal malem ini, terpaksa dibatalkan. Habis mengunyah takjil berupa gorengan, saya langsung melengos ke kantor, tanpa makan nasi terlebih dahulu. Saya udah kadung penasaran, apa ya yang akan disampaikan wapemred?

Akhirnya saya beritahu si kawan saya ini, kalo saya dipanggil wapemred. Saya khawatir, jangan-jangan saya mau dikasih SP1 karena jarang ke kantor (lagi) dan buku penilaian reporter itu baru dapet dua tandatangan. Habislah saya. Tapi si kawan ini dengan yakinnya bilang kalau itu pasti berita baik. Apa pun itu, pasti berita baik. Bahkan dia berani menjamin, kalau itu ternyata berita buruk, dia mau traktir saya makan malam ini.

Dan setelah menemui wapemred.. ternyata soal SBS itu. Wapemred tiba-tiba mengucapkan selamat ke saya, karena saya ternyata adalah reporter satu-satunya yang dapat SBS. Spontan saya ngga percaya dan menanyakan berkali-kali padanya, “Ahh masa iya sih? Salah kali pak,” ujar saya. Tapi menurutnya itu cukup fair—yang dibuktikan bahwa ngga ada yang protes tuh kalo si Vega ini dapat SBS. Kemudian dia menanyakan, apakah saya ada niatan untuk resign karena dia mendengar isu seperti itu. Dengan polos dan jujur (dan tololnya) saya bilang bahwa iya, memang ada tawaran dari tempat lain. Di ‘TV sebelah’. Tapi jangankan interview, mengirim CV saja saya belum. Lalu dia menyarankan, jika benar-benar ingin pindah, pindahlah ke tempat yang udah settle, seperti Kompas atau BBC (di mana ada beberapa kawan yang sudah pindah ke sana). Tapi jika memang bener-bener ingin pindah, dia bilang paling tidak jangan dalam waktu 6 bulan ini. Jika saya menyanggupi, saya bakal dikasih ‘jalan-jalan’ gratis ke Australia selama empat hari pada awal September mendatang, liputan soal pariwisata. Hmm. Bunyinya tentu semacam sogokan. Tapi tak apalah, akhirnya saya menyanggupinya juga. Dia bilang, jalan-jalan semacam ini biasanya dikasih ke redpel.

Soal kepindahan ke tempat baru itu, awalnya saya sudah 60% yakin ingin pindah. Tapi seperti biasa, saya kebanyakan mikir. Tapi ya ngga apa-apa, ada sebagian orang yang mengambil tawaran pekerjaan tanpa pikir panjang, tapi ada yang mikirnya kelamaan—seperti saya salah satunya. Waktu ditawarin Reuters dulu itu saya juga bimbang, pertama banget saya nanya ke pasangan, lalu ke sahabat, dan tentu ke bapak. Meski akhirnya tawaran itu saya tolak, tapi saya tidak menyesal. Untuk tawaran kedua ini, agak rancu karena bersamaan dengan keinginan saya untuk ngambil IELTS dan rencana umroh. Khawatir di tempat baru ngga akan diizinin kalau mau izin buat tes IELTS atau kalo mau cuti umroh—yang pastinya bakal makan waktu lama. Tapi kalau saya tetap di tempat yang sekarang, saya confirm dapat jatah cuti dan soal izin tes, bisa nego baik-baik lah sama redaktur. Saya juga belum kebagian jatah rolling ke daerah, yang sudah saya mantapkan bahwa saya ingin ke Pekanbaru (sekalian praktekin lagi Bahasa Melayu saya, hahaha..).

Tiba-tiba saya merasa jadi kaya SBY—plin-plan. Ngga langsung action. Saya ngegantungin tawaran di tempat baru, tapi juga ngga memberi kepastian di tempat yang sekarang. Tapi sepertinya wapemred sudah menangkap sinyal bahwa saya setelah 6 bulan itu memang berencana hengkang (yang artinya adalah tahun depan). Dan soal ke Australia.. saya fikir awalnya itu adalah semacam short course, tapi ternyata bukan. Sebenarnya, saya ingin ikutan tes IELTS untuk nyoba-nyoba daftar short course ke Belanda, seperti teman saya. Jika itu sudah terlaksana, kayanya cita-cita saya jadi jurnalis lengkap sudah. Saya memang tidak ingin berkarir lama-lama di sini. Ngga perlu lama-lama ‘bermain sambil belajar’ di profesi ini. Semua pengalaman yang saya dapet, akan saya transfer seluruhnya untuk anak-anak saya kelak. Bukan buat diri saya sendiri.

Karena sesungguhnya, segala pengalaman sebagai wartawan itu tidak membuat derajat saya secara fitrah lebih tinggi. Di usia sekarang ini, saya ingin dikembalikan ke fitrahnya, saya ingin merasa jadi ‘perempuan’. Segala short course itu tentu akan sangat berguna. Jalan-jalan ke Australia itu juga mungkin suatu saat akan berguna. Tapi ingin rasanya saya bilang ke wapemred, bahwa yang saya butuhkan sekarang adalah kursus mengemudi, kursus memasak, dan kursus menjahit. Ahahahahaa.. ini yang membuat saya kadang merasa rendah diri di hadapan pasangan, dan merasa bahwa pasangan deserve yang lebih baik dari saya. Tapi menurut mereka, saya ini bercanda dan hanya berusaha menghibur mereka. Padahal ya, saya ngga yakin apa yang saya kerjakan sekarang ini akan bermanfaat untuk mereka. Tentu calon mertua nanti juga ngga akan bangga kalo saya bilang saya pernah wawancara Samin Tan atau Mahfud MD—yang sekarang maen iklan jamu Bejo antimasuk angin itu.

Kembali ke teman saya itu, ketika saya ceritakan soal pertemuan saya dengan wapemred, dia kembali merasa ‘dikalahkan’, tapi sambil tetap memberikan saya ucapan selamat. Tiba-tiba dia bilang dia mengakui kalau saya wartawan hebat. Dia ngga habis pikir kenapa saya merasa self-esteem saya sangat rendah sebagai perempuan. Dia berusaha membangun kembali semangat saya. Dan saya jadi ketawa sendiri, kenapa malah dia yang jadi ngebela kaum perempuan? Ahahahaha..

Saya akhirnya jadi cerita ke dia, bahwa di lingkungan keluarga di rumah, saya dikelilingi oleh para laki-laki. Yang membuat saya merasa sebagai perempuan itu hanyalah force majeur yang harus saya alami setiap satu bulan sekali. Saya pikir saya cukup mengerti kegelisahan laki-laki, soal bagaimana cara nyicil rumah buat keluarga kelak, soal bagaimana jika tidak bisa mempertanggungjawabkan masa depan ke si calon mertua, sampai ke soal repotnya menyiapkan kedatangan bayi. Memang yang mengandung itu si perempuan, tapi ya udah, dia tinggal bawa-bawa itu janin ke mana-mana sambil tetap menjaganya. Tapi yang repot menjaga piskologis si istri, menjaga agar makanan yang dimakan senantiasa bergizi, dan sebagainya—itu adalah si suami. Ahhh sudahlah. Saya jadi meracau.

Intinya, perempuan itu cuman figuran. Pelengkap. Tapi si teman saya ini tetap tidak mau mempercayainya. Meski begitu, toh barusan saya sudah mendaftar untuk liputan ke Australia. Saya tetap punya berbagai rencana untuk bisa terus berkembang sebagai manusia—meski saya cuman perempuan.

 

[Kebon Sirih, 30 Juli 2013]

[00.51 AM]


About this entry