Ulangtahun Perak.

Yeah! Happy birthday to me! Akhirnya, saya nyampe juga di umur 25. Seperempat abad, sodara-sodara! Umur yang menurut saya hidup akan berakhir di usia ini—silakan cek entri sebelumnya. Karena setelah melalui umur ini, saya menduga hidup tidak lagi menyenangkan dan saya tidak akan lebih bahagia. Hidup hanya tinggal ‘menjalani hidup’; menjadi sebuah rutinitas. Saya sudah dituntut menjadi perempuan dewasa. And you know what, perempuan dewasa itu menyebalkan.

Di umur segini, ibu saya sudah menikah dan punya anak satu. Wajar, toh beliau menikah di umur 23. Tapi ya ngga apa-apa, toh beliau juga menemukan jodohnya lebih cepat. Sementara saya, kini saya tidak ingin dilibatkan lagi dalam pembicaraan jodoh, kapanpun di manapun, dalam situasi apapun. Semesta sudah terlalu kejam karena menciptakan stereotipe demikian rupa; sehingga perempuan dihakimi agar segera menikah dan punya anak. Fungsional—katanya. Sementara saya, memahami tubuh sendiri pun saya tidak mampu. Untungnya, bapak saya sudah tidak pernah menyinggung-nyinggung apapun lagi soal jodoh dan pernikahan. Meskipun saya tahu beliau sebenarnya khawatir—karena saya sempat bilang bahwa mungkin saya akan menikahi duda tiga anak saja nanti.

Well, back to topic. Menyambut bulan Juli selalu menyenangkan buat saya. Di bulan inilah, saya akan berulangtahun—untuk ke-berapapun itu. Angkanya sebenernya ngga masalah. Karena yang lebih penting, di bulan inilah, SEKALI dalam SETAHUN, saya bisa membahagiakan keluarga dan sahabat-sahabat dekat saya. Dan saya bersyukur untuk itu. Mungkin saya telah kehilangan kemampuan untuk mencintai pasangan. Tapi saya tahu, saya masih punya energi untuk mencintai keluarga saya, sahabat-sahabat saya. Terutama bapak, mumpung beliau masih hidup.

Kemudian ucapan-ucapan selamat ulangtahun pun berdatangan sejak sahur—terutama lewat twitter dan wall facebook. Tidak apa-apa, setidaknya twitter dan facebook kita rame setahun sekali. Hanya mereka yang benar-benar peduli yang akan rela mampir sebentar dan mengucapkan selamat ulangtahun. Ada yang lewat telepon. Ada juga yang lewat sms dan BBM. Rata-rata isi ucapannya berdoa semoga saya senantiasa senang, sehat, dan sukses selalu. Tapi yang paling juara itu sms dari bapaknya si Nichi. Isinya gini:

“Tak perlu seseorang yang sempurna, cukup temukan orang yang membuatmu bahagia dan membuatmu lebih berarti dari siapa pun. Selamat Ulangtahun, Vega.”

Ngerasa pernah denger kalimat di atas ngga? Yup, itu adalah kata-kata bijaknya Pak Habibie soal Ibu Ainun. Di satu sisi saya senang karena ‘diingatkan’ tentang ‘tips’ utama mencari pasangan. Tapi di sisi lain saya sedih, karena kok sepertinya banyak sekali yang khawatir ya karena saya belum juga menikah? Hahahahaa..

Ingin rasanya saya bilang ke bapaknya Nichi, saya pernah kok Oom, berkeinginan menikah dan memberanikan diri untuk MAU menikah. Tapi yaudah, munculnya cuman sekali ajah dan sekarang semangat itu sudah sama sekali padam.

Yang paling menyebalkan dari sebuah hubungan adalah karena itu membutuhkan dua pihak untuk menjalaninya. Tapi sekarang saya juga mulai belajar banyak tentang hubungan. Ketika saya jatuh cinta, saya ternyata cepat sekali menyimpulkan bahwa saya telah menemukan jodoh saya.

Saya tidak bisa membedakan mana yang benar-benar tulus, mana yang tidak. Saya terlalu cepat buntu ketika terjadi perbenturan suku atau usia yang agak jauh. Ketika jatuh cinta, bahayanya adalah saya tidak fokus ke mana-mana lagi, kecuali ke orang itu. Saya langsung jadi tidak waras. Saya akan merasa sangat bersalah jika tidak bisa memenuhi kebutuhannya, tidak bisa membahagiakannya, tidak bisa selalu menemaninya. Tapi ketika kemudian saya menemukan orang itu tidak sesemangat saya, saya terlalu cepat menghakimi bahwa saya-lah yang lebih mencintai, sementara dia tidak. Saya terlalu mendominasi. Saya terlalu buta ketika jatuh cinta. Sampai akhirnya saya menemukan buku demi buku, film demi film yang membuat saya kembali ‘waras’. Saya pikir saya perlu jeda. Saya selalu lelah justru ketika hati ini ada isinya. Saat dia kosong, saya tidak lagi dibelenggu harapan-harapan palsu bahwa dengan ada pasangan maka hidup saya akan lebih bahagia. Buat apa punya pasangan, tapi tetep ngerasa sendirian?

Ternyata, kita emang ngga bisa maksa orang lain untuk memahami sejarah hidup kita hanya dalam waktu singkat. Kita ngga bisa maksa orang lain untuk benar-benar peduli sama kita. Kita ngga bisa bikin mereka langsung memahami kita, bahkan ketika kita sudah menceritakan panjang-lebar tentang latar belakang keluarga kita, tentang hal-hal apa saja yang kita suka dan kita ngga suka, sampe ke urusan cita-cita dalam berkeluarga.

Ok, kembali ke ulangtahun. Saya sudah berniat untuk mengajak bapak sama si Ariel untuk makan-makan di Hanamasa. Dan saya tahu, saat saya lagi sesemangat ini, maka rencana ini harus bisa terealisasi. Menyenangkan rasanya saat melihat si Ariel dan bapak bersantap buka puasa dengan lahap. Meski ini hanya momen satu kali dalam setahun, tapi ini membuat saya bahagia. Setidaknya, saya pikir bapak bisa berbahagia karena ternyata tidak sia-sia dirinya menyekolahkan anak gadisnya jauh-jauh sampe Malaysia. Anak gadisnya memang bertekad melakukan ini. Sebelum anak gadisnya ini berujung menjadi ibu rumah tangga biasa. Sebelum anak gadisnya ini diambil orang lain untuk diperistri.

Meski yeah—anak gadisnya itu pulang-pulang dari Malaysia ternyata dia cuman jadi wartawan. Perempuan satu-satunya tapi instead of tampil cantik, justru sehari-hari liputan malah dekil, sekarang keliatan makin kurus, dan sangat tidak menarik bagi lawan jenis.

Dan—ooh! Si Ariel membawakan saya kado! Haha. Dia dan pacarnya bahkan sebegitu pedulinya sama saya..aargghhh.. inilah yang membuat saya semakin berat jika suatu saat saya benar-benar harus meninggalkan rumah nantinya. Btw, sebenarnya saya ajak si aa sama istrinya juga. Tapi berhubung anak mereka lagi tumbuh gigi, jadinya lagi rewel dan ngga bisa diajak ke Bogor.. hiks. Ngga apa-apa, masih ada tahun depan. Semoga.

So, apa rencana selanjutnya, Ga? Di umur 25? Hmm.. segini aja dulu deh:

1.bikin SIM motor dulu, baru abis itu mobil

2.ngambil IELTS

3.umroh 2014. Bismillah.

Image

 I love youuuuu ^^

Image

I love when Ariel called me as ‘supersister’. I love when my Dad called me as ‘my love’ ^^

with Samin Tan

Oh iya, Kamis malamnya (11/7) saya berkesempatan wawancara Pak Samin Tan, owner-nya PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) dan juga Pak Alexander Ramlie (Dirutnya). Foto ini adalah hadiah dari saya buat diri saya sendiri. Ahahahahaha.. Akhirnya saya bisa wawancara beliau langsung! Uhuy!

[Kebon Sirih, 15 Juli 2013]

[10.44 PM]


About this entry