Memaknai Perjalanan.

Apa arti perjalanan bagimu? Apa yang kamu cari dalam sebuah perjalanan? Seberapa sering kamu melakukan perjalanan? Perjalanan di sini bukan melulu soal traveling atau liburan. Perjalanan di sini juga tidak berarti jaraknya harus jauh, apalagi memakan ongkos yang banyak. Dan..perjalanan di sini juga tidak harus dilakukan bersama sahabat, atau even komunitas sosial lainnya.

 

Seorang teman pernah memberitahu saya, perjalananku bukan perjalananmu, begitu pun sebaliknya, perjalananmu bukan perjalananku—meskipun kita melakukannya bersama-sama, dalam satu dimensi waktu dan tempat yang sama, dan mungkin menghabiskan budget yang sama.

 

Seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang meningkat dan adanya peningkatan daya beli masyarakat, perjalanan kini bisa dilakukan dengan mudah dan murah. Saya masih ingat speech Aviliani tempo hari di acara Monex, bahwa kini naik pesawat bukanlah sesuatu yang mewah lagi, tapi sudah menjadi hal yang biasa di masyarakat kita. Lalu saya teringat Airasia—maskapai penerbangan yang mempelopori tiket pesawat murah. Berkat Airasia, kini para pelajar/mahasiswa pun sudah bisa merencanakan perjalanannya sendiri.

 

Ya, sebagian orang memang sudah terbiasa merencanakan sebuah perjalanan—termasuk saya. Sebagian lagi memilih untuk go show, memilih untuk menerima kejutan demi kejutan yang telah disediakan semesta dalam sebuah perjalanan, tanpa perlu membuat suatu rencana perjalanan.

 

Saya termasuk orang yang cukup beruntung karena diberi kesempatan oleh semesta untuk bisa menempuh berbagai macam perjalanan, baik yang direncanakan (baca: liburan), atau tidak (baca: tugas liputan). Baik yang di dalam negeri, maupun di luar negeri—even itu baru di kawasan ASEAN. Baik sendirian, maupun bersama sahabat. Mulai dari yang ber-budget rendah, hingga yang ber-budget tinggi. Baik itu menggunakan mobil, kapal feri, hingga pesawat.

 

Tapi saking seringnya, saya seperti kehilangan sense of excitement dari sebuah perjalanan. Oleh sebab itu, saya menulis tulisan ini. Saya ingin kembali memaknai sebuah perjalanan.  Atau jangan-jangan kamu juga merasakan hal yang sama? Kalo gitu, mari kita bersama-sama menelusuri apa yang seharusnya disiapkan sebelum melakukan perjalanan, serta apa yang seharusnya kita serahkan saja alurnya pada semesta.

 

1.Putuskan: mau pergi sendiri atau bersama sahabat?

Kalo dalam rangka tugas liputan, tentu kita ngga punya pilihan. Tapi orang-orang yang ikut bersama rombongan kita, tentu bisa menjadi teman baru yang menyenangkan. Tapi saat merencanakan perjalanan (di luar liputan), saya lumayan sering pergi sendiri. Saat tour de central java 2010 lalu misalnya, saya berangkat sendiri dari Jakarta dan traveling sambil mengunjungi temen-temen yang kuliah di Jogja dan Semarang. Atau pada Maret 2012 lalu saat saya ke Banda Aceh dan Sabang, saya juga berangkat sendiri. Terkadang, susah sekali mencocokkan waktu dengan para sahabat. Akhirnya saya memutuskan berangkat sendiri, karena kalo ngga gitu, nanti ngga berangkat-berangkat, hehe. Berangkat sendiri juga berpotensi bertemu kenalan baru. Misalnya: ketemu turis yang ternyata juga lagi jalan-jalan sendirian. Siapa tahu malah bisa share hostel backpacker bareng? Atau, bisa juga ketemu cowok lucu yang lagi ngelamun sendirian ngeliatin kaca bus, trus kamu malah bisa ngobrol panjang-lebar tentang tujuan traveling masing-masing? Bayangkan saja kamu dalam scene Before Sunrise dan Before Sunset. Tapi pergi sendirian bukan berarti kamu malah diem aja sepanjang perjalanan. Kalo gitu, ya kamu ngga akan dapat apa-apa—kecuali foto-foto tak bernyawa yang pada akhirnya kamu jadikan profile picture di FB-mu, twitter-mu, atau BB-mu. Tapi, merencanakan perjalanan dengan para sahabat juga tentu lebih seru. Bayangkan, kalian bisa menciptakan sejarah bersama yang bisa dikenang dengan indahnya. Seperti yang saya lakukan akhir April lalu bersama Nana dan Feni. Kita bertiga bersama-sama menjelajahi Jawa Timur, mulai dari Gresik-Surabaya sampe Jember. Mulai dari Gunung Bromo, Pantai Tanjung Papuma, Kebun Binatang, Wisata Bahari Lamongan, sampe ke Mall Tunjungan Plaza. Bukankah itu amazing? : )

 

2.Pastikan budget memadai

Ini juga penting. Setelah memutuskan mau pergi sendirian atau bersama-sama sahabat, baru rencanakan anggarannya, kapan kira-kira mau berangkat, segera cari-cari tiket murah, dan mulai booking tempat menginap. Rencanakan anggaran mulai dari tiket, akomodasi, makan, jajan, bensin, sampe oleh-oleh. Kalo emang kira-kira budget-nya tinggi, ya mulailah nabung dari sekarang.

 

3.Pastikan kondisi jiwa-raga sedang dalam kondisi prima

Ini juga mahapenting. Jangan sekali-sekali menjadikan urusan hati (misal: baru putus atau lari dari pacar) menjadi satu-satunya alasan kamu melakukan perjalanan. Itu sih namanya pelarian. Ngga salah sih..Tapi percayalah kawan, itu hanya akan membuat kamu semakin ngga tenang dan ngga bisa menikmati perjalanan karena sesungguhnya kamu hanya sedang dalam masa denial. Jangan juga menjadikan ‘rehat’ dari urusan kerja, menjadi alasan kamu mengambil cuti lalu liburan. Saya termasuk yang ngga percaya, bahwa liburan adalah pelarian yang tepat dari urusan kerjaan. Kalo gitu sih, emang kamunya aja yang ngga suka sama kerjaan kamu kali? Hehe. Oiya, kondisi fisik juga harus dijaga. Jangan sampe di tengah-tengah perjalanan malah sakit, karena itu akan menentukan nasib perjalanan itu ke depannya—mau diterusin apa pulang aja?

 

4.Pastikan kamu sudah menemukan alasan sebenarnya dari maksud perjalanan kamu

Misal: waktu saya ke Bromo kemarin itu ya memang udah diniatin, dan kita bertiga memang bermaksud menciptakan kenangan indah bersama. Trus waktu saya sama Wuri (dan anak-anak ESDM lainnya) ke Sawarna awal Desember lalu, itu juga untuk menciptakan kenangan bersama. Terkadang, memang ngga penting kita ke mana, karena yang lebih penting itu perginya sama siapa? Hehe. Tapi lain ceritanya ketika saya pergi ke Sabang waktu itu. Saya memang udah berniat pingin ke tugu Nol Kilometer dan snorkeling di Pulau Weh. Jadi, meski cuaca tidak mendukung karena saat itu hujan, saya tetap menjalankan rencana saya untuk snorkeling. Agak nekat memang. Tapi kalo bukan sekarang, kapan lagi? Ini juga yang jadi pegangan saya, ngga usah peduliin cuaca, hajar aja. Karena itu hanya akan membuat mood jadi jelek dan meruntuhkan ekspektasi kita. Serahkan semuanya sama semesta. Kalau emang jodoh kamu sampe ke tempat itu, insyaallah ada jalannya. Tuhan juga tahu kok niat kita ke sana itu mau ngapain. Ada juga yang alasannya karena memang lagi ada event di tempat itu; sehingga itu jadi satu-satunya alasan saya melakukan perjalanan. Misal: waktu saya menyaksikan acara Waisak di Borobudur Mei tahun lalu. Atau saat saya kembali ke Penang untuk menyaksikan acara wisuda adik saya. Oh iya satu lagi, ada juga yang alasannya karena sedang menyambut kedatangan temen dari jauh. Misalnya waktu si Syefa dateng ke Jakarta awal tahun 2011 lalu, yang akhirnya sekalian aja saya ajak ke Bandung.

 

5.Jangan cepet bosen

Ada sebagian orang yang sudah beberapa kali pergi ke Lembang, Bandung. Ada yang sudah sering bolak-balik Jakarta-Singapura. Ada juga yang udah pernah menginjakkan kaki ke Pulau Morotai, Maluku Utara. Tapi ada sebagian orang yang belum pernah ke Makassar, bahkan ke Bali. Ada juga yang sampe sekarang belum kesampean juga untuk pergi ke Papua. Semakin banyaknya destinasi pariwisata, tentu semakin menggairahkan orang untuk ingin mengunjunginya. Meski tempatnya sebenarnya sama (misal: kalo Kuta ya pantainya pasti di situ-situ aja), pasti adaaaa aja hal-hal baru yang bisa dijelajahi. Dan buat saya pribadi, terus terang saya juga masih belajar biar ngga cepet bosen. Waktu saya ke Singapura bulan lalu misalnya. Meski ini udah kunjungan kali ketiga, tapi toh saya tetep bisa ke tempat baru karena dulu Marina Bay Sands itu belum ada. Hahahaha.

 

Okeiii, saya rasa cukup sekian. So, gimana? Selamat memaknai kembali perjalanan kamu yah : )

 

[Bogor, 5 Mei 2013]

[01.44 AM]


About this entry