Hidup Selesai di Umur 25.

Kasian ya? Padahal masih banyak yang belum dicapai. Seolah-olah, berasa udah punya semuanya, berasa udah paling settle hidupnya, padahal umur baru mau masuk 25. Baru seperempat abad! Tapi justru itu, kawan.  Saya ngga masang semua hal mesti dicapai. Patokan ‘kesuksesan’ atau ‘kepuasan’ hidup masing-masing orang itu berbeda-beda, baik yang berbentuk materi atau bukan.

 

Meski baru mau masuk 25, saya rasa jalur hidup saya udah banyak berbeda dari kebanyakan orang bekerja lainnya yang sama-sama jadi karyawan suatu perusahaan. Thanks to my profession. As a journalist, you’ll never know who you’ll meet or where you’ll go.  And I have travelled so many times to beautiful yet peaceful places, either when I have to cover stories or when I go by myself (not on duty). Daaannn tiba-tiba saya bosan hidup. Kaya udah ngga ada yang mau dicapai lagi di hidup ini. Padahal, saya masih banyak dosa dan belum banyak beramal. Hal duniawinya, saya belum pernah pergi umroh dan belum jadi ibu. Tapi saya kok ya ngga pengen buru-buru jadi ibu. Saya malah jadi pengen nyusul mamah aja cepet-cepet, biar bisa cerita-cerita banyak hal di akhirat dan kumpul lagi seperti dulu.

 

Dulu, saya orangnya (pernah) ambisius. Tapi lama-kelamaan, saya nurut sama nasib dan realitas yang ada. Untuk target-target hidup tertentu, saya ikutin kata-kata mba Agnes yang bilang “aku muda, aku bisa”. Tapi untuk target-target hidup yang lain, saya ikutin kata-kata mas Bondan “ya sudahlah”. Tapi saat lagi galau begini (yes, I said it—galau is not a crime), saya kembali memutar sebuah lagu dari mas Jason Mraz berjudul Beautiful Mess. Yeah, thanks to Nichi who always introduce me to many cool songs exist on earth.

 

Paling suka itu yang liriknya ini :

“You are strong but you’re needy, humble but you’re greedy”

 

OMYGOD Jason.. why you have to be so cute? Sini sini aku cubit dulu. Ahahahah. Lagu ini selalu jadi obat mujarab untuk jadi soundtrack saat musim galau datang melanda. Btw padahal yah, di luar Jason nih, Tuhan tuh udah bilang lho, di balik kesusahan pasti ada kemudahan. Bu Kartini udah bilang, habis gelap terbitlah terang. Jadi mestinya, musim galau ini juga pasti akan ada akhirnya, kan? Kaaaannn?

 

Eh.. sebentar.. musim, lo bilang?

 

Ya, musim. Karena datangnya pasti musiman. Dan ngga ada yang lebih baik selain melampiaskannya, baik lewat twitter, tulisan sampah macam ini, atau curhat panjang kali lebar sama temen-temen deket. First think first, seorang sahabat pernah menanyakan, apakah ‘galau’ yang versi kali ini adalah yang pertama kalinya terjadi? Lalu saya pun berpikir..nooo, of course not. Karena itu saya jadi berpikir, ya ini datengnya musiman. Saya harus punya self-fulfilling prophecy bahwa saya bisa membunuh kalut ngga beralasan ini, dan ngga boleh membiarkan ini berlanjut berkepanjangan—meski suatu saat pasti akan menimpa saya lagi dengan versi galau yang lain lagi. What goes around comes around.

 

Lagi pula, hidup ini indah, yeah I know. Ngga perlu dikasih tahu lagi. Atau mungkin justru karena saya terlalu keras kepala untuk dikasih tahu orang soal ini, saya jadi bersikukuh bahwa apa yang saya yakini adalah benar. Dan saya hanya butuh pembenaran bahwa ya, hidup saya sudah bisa selesai di umur 25.

 

Kedua, sahabat saya itu ngasih masukan, katanya saya terlalu sering curhat dulu sama orang, baru dipikirin. Harusnya, saya settle-in konflik sama diri sendiri dulu, baru cerita sama orang kalo masih belum nemu jawabannya. Lha ini kebalik. Bahkan seharusnya, saya curhat sama Tuhan dulu, untuk bikin tentram batin. Tapi ini lah yang terlalu abstrak buat saya kadang-kadang. Curhat sama Tuhan itu kita ngga tahu ‘balasan’ atau ‘jawabannya’ yang sebenernya sedang ia sampaikan ke kita. Coba deh, masing-masing kita kalo lagi dapat rejeki lebih misalnya, pasti hanya bisa bersugesti, “Alhamdulillah, mungkin ini rejeki dari Tuhan”. Iya, kan? Kadang-kadang kita malah suka salah menafsirkan ‘pesan’ yang sedang ia sampaikan ke kita—padahal rejeki yang dimaksud di case tadi itu adalah amplop berisi uang yang ada di goodie bag yang dibagiin ke para wartawan. Tapi, saya jadi ingat kata-kata seorang teman baik yang pernah berkata, apa pun itu, berbaik sangkalah pada Tuhan.

 

Lalu, sahabat saya yang lain lagi mengingatkan, saat lagi ngga tahu mau berbuat apa biar happy, coba bikin happy orang lain dulu. Meski pun itu bukan berarti dia lagi pengen saya ngasih sesuatu untuk dia, tapi saya pikir-pikir saya udah lama juga ngga berkiriman barang sama dia. Maka saya kirimkanlah sebuah T-Shirt untuk dia yang mudah-mudahan bisa nemenin dia syuting Jalan Nyasar. Alhamdulillah, dia happy😀 Tapi, efeknya ke saya ternyata ngga serta-merta. Tapi bukan berarti cara yang ini ngga ampuh. Cara ini tetep punya keajaibannya sendiri. Kamu juga boleh coba kok. Intinya, saat kamu lagi ngga tahu apa yang bisa bikin kamu happy lagi, coba bikin orang lain happy. Dengan begitu, siapa tahu kamu jadi ketularan happy.

 

Terbiasa hidup soliter lama-lama ngga bagus juga buat kesehatan batin. Perlu digarisbawahi di sini bahwa hidup soliter itu tidak sama dengan ansos yaa –yes, antisosial. Dan sebenernya ini udah coba saya akalin dengan mengajak sahabat saya tinggal berdua di kamar kosan. Tapi sayangnya, sejak Januari saya pindah kamar, dia sendiri jarang tinggal di kosan. Alhasil, yaa ujung-ujungnya saya sendirian juga di kamar. Ahahahaha.

 

Oh iya, sebelum nulis ini, saya sudah lebih dulu memposting puisi terakhirnya Soe Hok Gie. Gie mungkin benar, beruntunglah orang yang mati muda. Karena ternyata, di umur segini aja bisa udah bosen hidup. Apalagi, apa yang ada di televisi dan apa yang ada di internet itu ternyata berisik sekali ya. Walaupun saya bekerja di industri media, tapi saya selalu beranggapan bahwa ngga semua berita harus saya yang tulis, dan ngga semua berita harus dikomentarin. Ngga semua berita saya harus tahu. Banyak tahu, malah nambah banyak pikiran dan semakin menyadari, bahwa masih banyak yang sebenarnya saya tidak tahu.

 

Dunia udah semakin gila, kawan. Udah masuk 2013 niiih, tapi masih ada aja orang yang bunuh anaknya sendiri, masih ada aja yang mutilasi orang, masih ada aja yang nyemen itu mayat biar ngga ketahuan! OMYGOD just kill me, please. Buat apa lagi hidup di jaman yang udah edan ngga karu-karuan kaya gini?

 

Dan sebenernya, masih banyak hal-hal menyedihkan lainnya. Udah 2013 niiih, tapi masih ada aja yang nyopet di Kopaja, masih ada aja yang diperkosa di angkot, masih ada aja yang ketawa dengerin lawakannya si Olga, masih sering aja kejadian tabrakan di jalanan, masih ada aja orang yang belum nikmatin listrik di Pulau Maluku Utara, masih ada aja orang yang mau beli tas Louis Vuitton seharga Rp3 juta ke atas, masih ada aja orang yang yakin dengan pedenya bilang bahwa dia ngga korupsi, dan masih berjamuran aja itu reality show dari mulai X-factor, The Voice Indonesia, sampe Indonesia Mencari Bakat. Mau sampe kapan plagiat? Ke mana ide-ide kuis cemerlangnya Helmy Yahya? Kenapa isinya berganti jadi Take Me Out Indonesia? Atau kenapa jadi ada Idola Cilik? Little Miss Indonesia??

 

Oke-oke. Mungkin memang tidak seburuk itu. Kabar bagusnya niih, mungkin, salah satunya adalah sampe udah mau abis Maret ini, kita memang belum denger berita soal teroris baru, ya mudah-mudahan aja beneran berenti dan jangan sampe ada lagi. Tapi, soal perobohan tempat ibadah, ternyata masih ada aja meski orang-orang katanya pikirannya udah semakin canggih dan well-educated. Makin ke sini, orang-orang juga makin banyak yang cerai. Orang-orang juga makin banyak yang mati muda, karena serangan jantung.

 

Dunia sudah gila, kawan. Gila! Dan akar masalahnya kupikir bukan soal uang, bukan soal kesusahan ekonomi. Saya ngga peduli Indonesia masuk Investment Grade. Percuma Investment Grade kalau sineas muda Tanah Air masih susah dapetin funding buat film/festival mereka sendiri. Investasi itu semua mengucurnya di pasar modal sama di sektor riil, tapi di bidang seni, sampe sekarang pemerintah ngga pernah peduli. Apalagi, hegemoni 21 ,kini semakin mencekik kita dengan harga tiket di kala weekend yang meroket jadi Rp50.000 per orang. Kasian kan anak-anak SMP—SMA itu, mereka jadi terpaksa mikir alternatif tempat kencan selain bioskop. Dan hasilnya, yaa film-film itu akan terus sepi penonton, terutama film-film Indonesia. Efek samping lainnya, orang-orang lebih memilih mendownload-nya di internet atau menontonnya di Youtube. Hpppfhhh.

 

Oke, udah masuk halaman ketiga MS Word, single spacing. Harus ada inti dari tulisan ini. Sebagian kamu mungkin melihat dunia ini dengan pendekatan “Heal The World”-nya almarhum Michael Jackson. Sebagian lagi—termasuk saya, melihatnya lebih sinis dengan pendekatan sadis tapi ceria seperti Kesha yang dengan lantang nyanyi “We’re gonna die young”, and then “We found love in a hopeless place”, like Rihanna said. Or even The Smiths makes it clearer by singing..“Take me out tonight. Take me anywhere, I don’t care..I don’t care..I don’t care”.. hahahaha.. yeah, bawa saya ke mana saja, kawan. Terserah.

 

Manusia itu, ternyata memang hanya besar di mulut saja. Ngga heran mengapa serial “How I Met Your Mother” bisa terus bernapas sampe season 8. Tokoh seperti Ted dan Barney, mungkin ada di diri kita semua. Apa yang kita katakan kita ingin lakukan, ternyata malah bertolakbelakang dengan kenyataannya. Adults, are always like that. Karena itu, izinkan saya akhiri tulisan ini dengan.. mendengarkan kembali suara Nicholas Saputra yang membacakan puisi terakhir Gie. Selamat malam, kawan. Silakan teruskan hidup kalian, semoga beruntung. Jika ternyata hidup saya tidak selesai di umur 25, anggap saja itu nasib sial sekaligus mungkin—sekali lagi mungkiiin, adalah bentuk kesempatan kedua yang Tuhan berikan.

 

[Bogor, 25 Maret 2013]

[01.02 AM]


About this entry