Cerita Pemuda Tanggung.

Sudah lama rasanya saya tidak menulis soal tokoh di blog ini. Seingat saya, baru ada dua tulisan soal tokoh, yang pertama adalah Chan Siang Ling dan kedua adalah Rany Octaria. Tulisan soal tokoh adalah sangat subjektif; benar-benar murni pendapat saya pribadi tentang orang tersebut. Orang yang kepribadiannya begitu unik, baik hati, dan dekat dengan kehidupan saya. Mereka adalah orang-orang yang membuat saya percaya bahwa masih ada sisi baik dari makhluk bernama manusia. Mereka mengingatkan saya tentang optimisme dalam hidup. Meski mereka tidak merasa telah menginspirasi saya sedemikian rupa, itu tidak mengurangi rasa kagum saya terhadap mereka. Dan meski saya telah menulis tentang mereka, dan mereka juga sudah membacanya, mereka juga tidak akan merasa tersanjung karena mereka tetap merasa sebagai manusia biasa.

Di entri kali ini, saya ingin menulis untuk edisi tokoh berikutnya. Perkenalkan, tulisan tokoh ketiga dalam blog ini: Muhamad Taufikul Basari.

Ada Muhamad di awal nama, pastinya memberatkan siapa pun yang sudah ditakdirkan orangtuanya agar menyandang nama tersebut. Tapi Taufikul atau sebut saja dia Ikul, berusaha lebih santai menghadapi ekspektasi orang-orang. Nama Muhamad-nya pun tercetak berbeda-beda di antara KTP, Paspor, Akte Kelahiran, dan catatan sipil lainnya. Ada yang m-nya satu, ada yang m-nya dua. Ikul tidak pernah merasa ada yang salah dengan namanya. Sampai pada Kamis malam (24/1), dirinya sempat ditahan oleh imigrasi Singapura saat mendarat di negara itu untuk pertama kalinya. Ya, model nama seperti itu mungkin selintas seperti nama teroris. Apalagi Ikul mukanya ndeso dan Jawa banget. Ahahahahhaha.. Ya wajar lah jika petugas imigrasi curiga. Beruntung, dengan segala upaya penjelasan pake Bahasa Inggris standar, dia berhasil lolos dari jeratan imigrasi.

Saya baru mengenalnya saat usianya sudah hampir memasuki tiga dekade. Kami berdua sama-sama karyawan Bisnis Indonesia. Dia masuk lebih dulu sebelum saya. Sebelum jadi wartawan, dia sudah lebih dulu bekerja sebagai analis di BIIU (Bisnis Indonesia Intelligence Unit), baru kemudian pindah ke bagian redaksi. Sempat diragukan antara mau diangkat jadi karyawan tetap atau tidak, akhirnya sarjana komunikasi UGM ini diterima jadi bagian keluarga besar Bisnis Indonesia.

Pertama kali mengenalnya lewat Rika, teman saya wartawan Bisnis Indonesia juga. Katanya, mas Ikul ini kakak kelasnya di UGM dulu. Tapi kami bertiga ngga sempat ngobrol banyak, karena memang Ikul orangnya lebih banyak diam. Tapi saat sudah mengenalnya agak lama (baca: agak intens komunikasi), misteri pemuda nanggung asal Boyolali ini lama-lama terbuka.

Sebagai anak laki-laki pertama di keluarganya, mungkin Ikul merasa punya tanggung jawab yang besar terhadap keluarga. Kakak perempuan satu-satunya sudah menikah dan punya dua anak. Tinggal adiknya 2 orang, yang satu masih berupaya bekerja dan yang satu lagi masih SMP kelas 2. Adik-adiknya tinggal bersama sang bapak yang sendirian di rumah; sejak ditinggal pergi istrinya yang meninggal karena kanker payudara pertengahan tahun lalu. Melihat kondisi rumahnya di Boyolali (rumahnya yang sekarang setelah di Kalimantan dan di Ampel), sebenernya agak miris jika tidak ingin menggunakan kata tragis.

Jika kita menggunakan standar MDGs atau sensus BPS, rumah itu tidak masuk kategori layak karena belum semua berubin. Dindingnya pun masih bata dan belum semuanya diratain atau diplester. Langit-langitnya juga masih ditutup terpal, belom pake triplek dan genteng. Tapi TV di rumah udah pake Indovision, demi menghadirkan satu-satunya hiburan sekaligus teman di rumah itu. Ehhh..tapi ngga satu-satunya ding. Di sudut ruang tamu ada sumber ilmu pengetahuan. Ada rak buku yang penuh dengan buku-buku pelajaran dan aneka novel. Dari Andrea Hirata, penulis Jepang (lupa namanya siapa), sampe Oliver Twist. Rumah itu mungkin bernyamuk dan berisik sama suara ayam di pekarangan. Tapi Ikul menghadirkan segala sesuatu yang dia mampu, demi membantu orangtua dan adik-adiknya. Dan itu sama sekali bukan beban, tapi sebuah kebahagiaan.

Selintas buat kamu yang pertama kali ketemu Ikul, pasti ngga akan tertarik dengan Ikul. Apalagi buat perempuan. Tampang nanggung, jalan yang kurang tegak, dan model rambut yang saya yakin ngga banyak berubah dari dulu, sama sekali tidak mencuri perhatian. Style berpakaian yang itu-itu saja, hanya mengandalkan BB dalam hal gadget, ke mana-mana dia jalan tanpa earphone yang menancap di telinga dan mendengarkan lagu kesukaan (seperti yang dilakukan anak muda pada umumnya).. Ikul juga tidak merokok, tapi tetap saja, Ikul bukan cowok jaman sekarang. Ikul juga bukan anak muda jaman sekarang yang bekerja seadanya, yang ngga pernah idup susah, yang nyetirin mobil buat pacarnya, yang ngga pernah bantuin orangtua, yang fitness usai jam kerja.. dan masih banyak hal lainnya.

Tapi Ikul juga sebenernya ngga sesemangat itu untuk sekolah. Dia bukan sosok seperti Lintang di drama populer Laskar Pelangi yang begitu bersemangat dan cemerlang di sekolah. Tapi Ikul tetap ingin menjadi wartawan, sesuai cita-citanya. Akhirnya, Ikul lulus juga setelah 7 tahun kuliah. Meski kuliahnya juga bukan beasiswa, tapi tetap penuh perjuangan. Masa-masa kuliah Ikul di Jogja ngga senyaman dan setentram anak-anak kuliah sekarang. Anak-anak kuliah sekarang mungkin bisa nyaman tidur di kosannya yang ber-AC, bukan di pinggiran Kali Code. Ikul mungkin ngga pernah nonton konser Jason Mraz atau bahkan Sheila on 7. Tapi Ikul tidak merasa sedih karenanya. Dia bisa tetap bahagia dan bersyukur masih bisa kuliah.

Saya dikelilingi kerabat dan teman-teman yang beragam. Sesungguhnya, saya ngga bener-bener tau adat Sunda dan Jawa itu seperti apa. Lain dengan Ikul, Ikul lahir dan tumbuh di keluarga Jawa. Komunikasi dengan keluarganya masih pake Bahasa Jawa sampe sekarang. Saya ngga tau ini masuk filosofi Jawa atau bukan, tapi sosok Ikul yang menjalani hidup apa adanya, tapi tetap berusaha menggapai hidup yang lebih baik, buat saya itu ‘Jawa’ banget. Ahahahahhaha.. Orangnya ‘nrimo’, keliatan sok polos (padahal ngga), tapi tetap well-knowledge dan siap diajak debat dan diskusi.

Ketika dihadapkan soal apa pun, Ikul selalu membatasi diri. Jika seandainya dia ngga diterima di Bisnis pun, tentu masih banyak pekerjaan lain. Dan dia sudah menyatakan kalo dia siap bekerja apa aja. Begitu pun soal jodoh. Kalo ngga jodoh sama satu perempuan, ya ngapain dikejar-kejar. “Hidup itu bukan sekedar cari pasangan,” katanya. Ya, tentu alangkah meruginya kita sebagai manusia, jika seumur hidup waktu dihabiskan hanya untuk mencari pasangan. Memasuki 2013 ini, Ikul ngga akan banyak berubah dari Ikul yang dulu (kecuali perlu pake kacamata karena sudah rabun). Dia juga ngga pernah punya banyak keinginan. Selama bisa makan dan buang air besar dengan lancar, selama masih bisa ngetwit dan menertawakan hidup, Ikul akan selalu bahagia. Selama Farhat Abbas masih hidup, selama masih ada Roy Suryo, selama ibukota masih belum pindah ke Jogja, Ikul akan selalu bahagia.

Pay on Marina Bay Sands

[Bandara Soekarno-Hatta, 26 Januari 2013]
[08.01 PM]


About this entry