Ketika harus melepas teman yang menikah.

Saat mendengar ada teman atau sahabat kita yang punya pacar baru, tentu kita ngga merasa kaget. Kita seneng dengernya. Ke depannya, kita akan dicurhatin soal hobi-hobi yang mereka lakukan bersama, sampai ke soal pertengkaran kecil mereka. Tapi saat mendengar ada teman atau sahabat yang berencana menikah, buat saya, itu sangat berbeda. Karena seketika suasana galau datang melanda. Mereka tentu ngga akan curhat ke kita lagi soal kehidupan rumah tangganya nanti. Rasanya itu antara senang, bercampur sedih.

Saya sudah pernah melalui ‘ujian’ pertama, saat abang saya memutuskan untuk menikah. Masih jelas di ingatan saya betapa hebatnya saya menangis selepas akad, dan kemudian berpelukan sama bapak dan si adek. Untungnya, saya masih punya saudara kandung satu lagi, jadi saya masih punya ‘temen’ dan ngga ngerasa bener-bener ditinggalin sendirian.

Kini, saya harus menghadapi ‘ujian’ selanjutnya, saat ada beberapa sahabat yang memutuskan untuk menikah. Adalah sahabat saya bernama Nafiah Maula yang biasa kami panggil ‘Teteh’, yang baru saja menikah 15 November lalu. Sebelumnya, saya dan teman-teman dekat lainnya udah tau siapa calonnya. Tapi kami ngga menyangka, ternyata secepat ini acara pernikahannya. Buat saya pribadi, jujur agak sedih karena saya ngga dikasih kesempatan buat bantu-bantu. Tiba-tiba, acaranya sudah di depan mata. Dan kini, sesuai prediksi saya, kami tidak saling berkabaran lagi setelah dia menikah. Resepsi adalah momen terakhir saya bertemu dengannya, sambil menunggu momen-momen berikutnya datang : acara kelahiran anaknya atau ulangtahun hari pernikahan mereka.

Mungkin ini terdengar bodoh. Tapi menurut saya menikah adalah memutus silaturahmi dengan teman-teman yang masih sendiri. Hahahahaha.. Di satu sisi saya senang karena sahabat saya sudah menemukan jodohnya. Dan dia kelihatan bahagia, hidupnya seolah telah lengkap. Tapi di sisi lain saya sedih. Karena saya tahu setelah pernikahan ini, dia akan fokus pada suaminya, dan meninggalkan kami-kami ini yang masih sendiri. Bukan berarti dia sudah tidak peduli lagi sama kami. Tapi tentu saja porsi kami di hatinya, di pikirannya, sudah jauh berkurang. Dan tentu, sama sekali tidak ada yang salah di situ. Semuanya normal, malah sangat normal.

Saat ada teman atau sahabat kita yang menikah, saya yakin masing-masing dari kita pasti akan berusaha datang ke acara akad dan resepsinya. Buat saya, peristiwa itu seakan prosesi mengantar si teman atau sahabat, ke jenjang baru.

Gampangnya misalnya gini deh. Dia itu temen saya, saya kenal dia dari jaman SMP, dari jaman kita masih sama-sama bocah. Saya ‘mengikuti’ perjalanan hidupnya, menjadi saksi sejarah hidupnya. Saya pernah ngeliat dia waktu nangis, saya tahu apa yang bisa bikin dia ketawa lagi, kami saling memberi kado saat ulangtahun, kami mengerjakan PR bersama, saya nyaksiin semua perjuangannya waktu kita sama-sama mau ulangan Fisika atau Matematika. Saya tahu ambisinya saat dia ikutan ekskul Pandawa. Saya tahu kapan saat dia jatuh cinta, model lelaki mana yang dia suka, lelaki mana yang deketin dia, sampe saat dia harus mengikhlaskan kepergian lelaki yang memilih perempuan lain. SAYA PERNAH ADA DI SANA. Sekali lagi, saya ‘mengikuti’ perjalanan hidupnya.

Jadi saat dia memutuskan menikah, saya juga ingin hadir di sana. Hadir untuk ‘pamitan’, hadir untuk yang terakhir kali, mengantar dia ke jenjang kehidupan yang baru. Yakinlah, saat ada teman atau sahabat kita yang menikah, kita udah ngga bakalan mentingin lagi kita ke sana mau ngasih kado apa atau mau pake baju apa. Kita juga udah ngga bakalan mentingin lagi soal makanannya, yang penting bisa nyicip ala kadarnya, bukan buat makan beneran. Pertanyaannya cuma dua : acaranya di mana dan jam berapa? Nanti kita juga udah ngga bakalan ‘ngeh’ sama detail make-up dan baju pengantinnya, apalagi soal dekorasi atau band pengiringnya. Tujuan kita hadir di sana adalah untuk melihat teman atau sahabat kita itu berdiri berdampingan suaminya di pelaminan, tersenyum bahagia. Kita hadir di sana, untuk menyaksikan momen indah itu.

Dan kini saat ada sahabat saya, Rany Octaria alias Nichi yang juga berencana menikah, yakinlah Chi, saya dan Wuri akan berada di sana, membantu sebisa kami, karena kami memang ingin terlibat. Kau yang tenanglah di Bengkulu, semua akan beres pada waktunya. Sekali-sekali boleh dicek progress-nya. Tapi buat saya, semakin kau tanya, semakin dekat rasanya saya akan berpisah dengan dirimu. Jadi, sambil menunggu hari itu tiba, sebenernya saya juga sambil belajar melepasmu, Chi. Selamat menempuh hidup baru dengan Herdi. Saya selalu mendoakan yang terbaik buatmu :’)

Daannn..ke depannya, saya harus belajar berbesar hati saat nanti ‘ditinggal’ Ka Rap, Syefa, Gaby, Wuri, Agung, Tika, Mancheu, Haikal, Syifa, Nita..ahhh. Jangan diitung, Ga. Lebih baik belajar ikhlaslah dari sekarang.

Saya punya sahabat itu ngga banyak. Tapi merawat hubungan yang sudah ada saja ternyata sulit. Meski kehadiran fisik saya tidak selalu di sana, yakinlah sahabat, saya selalu mendoakan kalian dari jauh, sambil pelan-pelan belajar mengikhlaskan kalian :’)

[Kebon Sirih, 10 Desember 2012]

[00.44 AM]


About this entry