Sintareiz, si Bolang dari Bogor.

Malam ini saya buka laptop khusus untuk submit testimoni buat teman saya Sintareiz Nur Zein yang jadi salah satu finalis dari 60 Sobat Journey dalam kompetisi Nescafe Journey. Katanya, hari ini (31 Juli) adalah hari terakhir. Sinta memang udah sms saya jauh-jauh hari untuk memberitahukan hal ini. Tapi berhubung beberapa hari ini saya disibukkan bolak-balik ke Rumah Sakit, perubahan ritme sahur-tidur-bangun-kerja-buka-tidur lagi, dan segala kerjaan lain yang minta diberesin, saya ngomong sama diri sendiri kalau malam ini juga saya HARUS submit testimoni. Saya udah janji.

 

Namun setelah saya cek ke laman yang dimaksud, ternyata testimoni yang diminta sepertinya ngga perlu terlalu panjang, bahkan cenderung sangat singkat. Saya pikir, yang diminta adalah tulisan panjang. Akhirnya setelah saya submit testimoni singkat (bahkan sampai dua kali submit karena takut ngga masuk), saya pun diam sejenak di depan layar laptop.

 

“Udah nih, segini aja?,” bisik saya dalam hati.

 

Tadinya saya mau langsung tutup laptop karena hasrat untuk browsing pun sudah tidak ada. Tapi akhirnya saya putuskan untuk membuka MS Word dan mulai menulis tentang sosok Sinta yang saya kenal dari SMA, dalam versi panjang. Oh iya btw, setahu saya Sinta bukan coffee addict, jadi kita ngga bakal bahas soal Nescafe-nya di sini yaaa. Hehehehehe.

 

Saya kenal Sinta dari SMA. Sepanjang ingatan saya, Sinta itu perempuan dengan naluri menjelajah yang luar biasa. Waktu SMA kita pernah nekat pergi ke Jakarta buat nonton film-film yang diputer di JIFFEST. Waktu itu, di jaman itu, pergi ke Jakarta naik kereta dari Bogor, disambung dengan segala lika-liku transportasi umum di ibukota, membutuhkan tingkat keberanian yang tinggi. Meski waktu itu kita pergi bareng ibunya Sinta dan adeknya Sinta juga, tapi tetap niat menonton film itu datangnya dari kami berdua. Sampai akhirnya kita memberanikan diri kenalan sama salah satu sutradara finalis JIFFEST, mas Shalahuddin Siregar, yang masih kita kenal baik sampai sekarang. Film memang menjadi salah satu passion kita berdua yang diam-diam mengikat pertemanan kita sampai sekarang. Dulu, Sinta pengen banget jadi sutradara. Waktu SMA, kita berdua juga sempet bikin film pendek jadi-jadian dengan melibatkan beberapa teman. Tapi jaman terus berkembang. Sinta pun punya passion lain : jadi traveler.

 

Menjelajah, pada hakikatnya tidak mutlak memerlukan uang yang banyak, tidak perlu beraneka macam jenis baju, dan tidak perlu jauh-jauh. Sinta sudah membuktikan itu sejak SMA. Dan menjelajah bukan berarti harus liburan, yang identik dengan hura-hura dan akhirnya abai dengan segala sumber pengetahuan dan wawasan baru yang kita peroleh. Pengalaman waktu kita nonton JIFFEST di Jakarta itu hanya salah satu contoh aja, kalau ngga salah waktu itu tahun 2005. Selain itu, kalau ngga salah waktu SMA Sinta juga pernah mengejar konser idolanya (baca: Linkin Park) sampai ke Jakarta. Bayangkan, anak SMA ini waktu itu cuma bermodalkan peta Jakarta yang selalu dia bawa ke kelas. Dia pelajari berhari-hari sebelum hari-H, sehingga dia punya persiapan yang matang.

 

Memasuki kuliah, Sinta melanjutkan penjelajahannya di kota kembang, Bandung. Waktu berkunjung ke sana bareng Meita dan mengajak beberapa teman lainnya, Sinta mengajak kami semua ke suatu bukit nun jauh di atas sana. Waktu itu malam hari dan kami khawatir Avanza-nya Sinta ngga akan sanggup sampai ke atas. Tapi Sinta bersikeras kalau ini bisa dilewatin, karena dia sebelumnya juga udah pernah ke sana. Akhirnya, waktu sampai di atas itu bener-bener worth it. Menikmati roti bakar (apa pisang bakar ya Sin? Gw lupa, haha) dan bandrek menjadi suatu kemewahan tersendiri. Belum lagi hawa dingin dan kabut juga menyambut kami sesampainya di atas. Sinta bilang namanya Kedai Moko, satu-satunya warung yang buka di atas bukit itu. Lokasinya masih di Bandung, tapi saya beneran ngga inget itu persisnya di mana. Di sini, Sinta udah nunjukin kalau menjelajah itu sesungguhnya bisa dimulai dari tempat yang dekat dengan kita, ngga perlu harus jauh-jauh ke luar Pulau Jawa atau ke luar negeri.

 

Tapi jangan salah, Sinta juga pernah menjelajah ke Singapura. Walaupun jalan-jalannya di luar negeri, Sinta tetap berbekal persiapan ala Sinta, mulai dari survei-survei harga tiket pesawat, maskapainya, peta lokasi tujuan, jalur transportasi umum, pakaian dan alat gaya lainnya, dan yang paling penting yaitu rencana perjalanan mau ngapain aja mulai dari pagi sampai ketemu pagi lagi. Sinta orangnya ngga ribet sama persiapan. Dia bisa tetep stylish dan cool saat jalan-jalan. Sinta juga bukan cewek drama queen yang takut becek, males kena air, apalagi kena terik matahari. Kalo gitu mah buat apa ada sunblock, jaket, sama sendal jepit?

 

Setelah lulus kuliah, agak kaget juga sebenarnya waktu denger Sinta pindah ke Bali. Mau refreshing, katanya. Tapi tentu alasannya bukan semata-mata karena itu. Sinta haus pengalaman-pengalaman baru sambil memanfaatkan 100% ‘kebebasannya’ dibandingkan waktu masih kuliah dulu. Di Bali, Sinta belajar surfing, menikmati bersepeda di antara persawahan, jadi relawan waktu ada event Ubud Writers Festival, dan tentunya berkenalan dengan teman-teman baru, baik lokal mau pun turis asing. Sinta kayanya bener-bener eat, pray, and love di sana. Bener-bener menikmati hidup sambil menikmati ciptaanNya berupa lanskap alam yang begitu indah dan bergaul dengan masyarakat setempat yang begitu harmoni.

 

Dengan pedoman majalah National Geographic Traveler yang jadi santapan dia sehari-hari, bukan tidak mungkin suatu saat Sinta akan menjelajah ke pelosok lain di muka bumi ini. Sebagai warga pinggiran ibukota yang tidak pernah terekspos air laut, sepertinya naluri Sinta mulai menariknya ke segala tempat yang berbau pantai. Hal ini tentu wajar, apalagi Indonesia memang merupakan negara kepulauan dengan berjuta-juta destinasi bahari yang menggoda untuk dikunjungi. Pulau Dewata telah menjadi destinasi pertamanya. Tapi kali ini, sepertinya Sinta harus menabung lebih banyak. Untuk destinasi selanjutnya seperti Kepulauan Derawan, Wakatobi, apalagi Raja Ampat, tentunya memerlukan dana yang tidak sedikit.

 

Dan sekarang, saat Sinta terpilih jadi salah satu finalis dari 60 Sobat Journey dalam kompetisi Nescafe Journey, saya udah ngga heran. She deserves it. Saya yakin temen-temen Sinta yang lain juga pasti udah ngga heran. Hal ini terbukti dari jumlah testimoni yang berhasil dia kumpulkan yang mencapai 170, paling banyak di antara finalis yang lain! Salut buat Sinta! Sinta adalah temen jalan yang seru, punya kemauan yang tinggi, dan punya banyak rekomendasi tempat makan dan tempat nongkrong yang keren. Semoga semesta mendengar doanya agar dia terpilih dari dua orang yang akan benar-benar traveling bareng idolanya. Dan yeah, Sinta pengennya sih bisa travel bareng Nicholas Saputra (teteepppp ya Siin?). Tapi btw, Nicho bukannya lebih seneng naik gunung ya, Sin? Emang doi seneng berenang juga? (eehhh dibahas loohh, hahaha). Oke, sori-sori Sin. Good luck ya neng, I’m sure the whole universe supports you. Keep the spirit. : )  

 

[Kebon Sirih. Rabu, 1 Agustus 2012]

[01.08 AM]


About this entry