Pak Wid dan cita-cita energi.

Tepat satu minggu yang lalu, almarhum Widjajono Partowidagdo telah beristirahat dengan tenang di San Diego Hills, Karawang. Masih jelas di ingatan saya ketika itu, banyak kerabat, sanak saudara, hingga rekan-rekan wartawan yang datang mengiringi almarhum hingga ke tempat peristirahatan terakhirnya.

 

Saat adzan dikumandangkan di dalam kuburnya, seketika itu juga saya tak kuasa menahan tangis. Merinding. Seakan masih tak ikhlas melepas kepergiannya. Baru kali ini dalam sejarah hidup saya, saya menangisi kepergian seorang pejabat negara yang bahkan belum lama saya kenal.

 

Hari Minggu itu, saya bersama beberapa rekan wartawan lainnya janjian untuk bersama-sama melayat almarhum. Kedatangan kami waktu itu bukan untuk liputan. Saya tidak disuruh oleh redaktur saya untuk meliput upacara pemakaman Pak Wid, demikian almarhum biasa disapa. Kedatangan kami lebih sebagai penghormatan terakhir kepada Wakil Menteri ESDM, yang senantiasa menjadi narasumber kami.

 

Tanggal 21 April barangkali kini bukan hanya akan kita ingat sebagai Hari Kartini semata. Pada tanggal itu pula, bangsa Indonesia akan mengingatnya sebagai hari kepergian Wamen ESDM Prof Dr Widjajono Partowidagdo, untuk selama-lamanya.

 

Bukan hanya kami para wartawan, tapi semua orang pasti kaget. Kepergian beliau begitu cepat, tidak diantisipasi sebelumnya bahkan oleh keluarga almarhum sendiri. Aktivitas mendaki gunung yang seharusnya menyenangkan, berubah menjadi mengerikan setelah tersiar kabar bahwa Pak Wid meninggal dunia saat sedang melakoni hobinya itu pada hari Sabtu, 21 April 2012 di Gunung Tambora, Nusa Tenggara Barat.

 

Berbagai versi pun mencuat. Ada yang bilang beliau terkena serangan jantung, yang kemudian dibantah oleh istrinya, Ninasapti Triaswati. Ada yang bilang beliau kelelahan dan oksigen di sana menipis. Bahkan versi lain mengabarkan ada dugaan rekayasa di kematian beliau, yang juga sudah dibantah oleh BIN.

 

Rasanya kini kronologis meninggalnya sang Guru Besar Teknik Perminyakan ITB itu seolah tidak penting lagi. Beliau telah beristirahat dengan tenang sekarang. Catatan resmi pemerintah menyebutkan beliau meninggal di RSUP Sanglah, Denpasar pada pukul 19.00 WITA, meski sebenarnya sejak Sabtu sorenya beliau sudah dideteksi tidak bernyawa.

 

Kepergian seorang intelektual seperti Pak Wid, tentu menyisakan kesedihan bagi banyak orang. Prosesi pemakamannya ketika itu dipimpin langsung oleh Menteri ESDM Jero Wacik, yang juga terisak saat membacakan sambutannya. Saat itu turut hadir rekan-rekan Pak Wid di Dewan Energi Nasional, seluruh jajaran eselon I ESDM, rekan-rekan di BP Migas, teman-teman di Pertamina, menteri-menteri jajaran Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, hingga anak-anak didiknya para mahasiswa ITB.

 

Pak Wid menjabat sebagai Wamen ESDM kurang lebih 6 bulan. Selama itu jugalah saya mengenal beliau. Sebelum jadi Wamen, beliau sudah lama menjadi pengamat energi. Beliau sudah lama kritis tentang besarnya subsidi energi yang selalu menggerogoti APBN kita. Beliau sudah lama kritis tentang perlunya percepatan energi baru terbarukan. Beliau sudah lama kritis tentang betapa perlunya diversifikasi energi dari BBM ke sumber energi lain, termasuk bahan bakar gas. Setelah dia jadi Wamen pun, omongan itu tetap konsisten keluar dari mulutnya.

 

Sebagai narasumber, Pak Wid senantiasa mempersilakan kami untuk langsung masuk ke ruangannya, jika kami ingin wawancara. Tidak ada birokrasi yang ribet. Beliau sadar dengan posisinya sebagai Wamen, maka peran media menjadi sangat penting. Beliau sadar agar masyarakat tahu tentang program konversi ke BBG, maka ia harus sering-sering ngomong di media. Pernah di satu kesempatan wawancara dengannya, sebelum saya keluar dari ruangannya, beliau ngomong :

 

“Beneran ditulis lho mba, jangan dipotong-potong ya. Saya pernah diwawancara TV waktu itu, wawancaranya panjang, tapi kok saya lihat di TV jadinya pendek sekali,” ujarnya. (Dalam hati saya berkata, ya kalau di TV pasti dipotonglah pak, kan ada durasinya..)

 

Pak Wid akan ‘melawan’ siapa saja yang menurutnya ‘sok tahu’ tentang industri perminyakan, termasuk mantan menteri hingga anggota Komisi VII DPR-RI sekalipun. Bagaimana tidak, dirinya yang sudah berpuluh-puluh tahun berkecimpung di bidang perminyakan tentu tidak ingin dilecehkan dalam sekian menit saja dalam sebuah acara di televisi swasta. Beliau tahu persis apa yang ia bicarakan.

 

Semua orang boleh ngomong apa saja soal program konversi. Tapi Pak Wid-lah yang secara terang-terangan menunjukkan kepada semua orang bahwa mobil dinasnya telah dikonversi menggunakan BBG. Dia sadar, sebagai pejabat ESDM, dirinya harus mencontohkan lebih dulu kepada masyarakat. Belum lagi soal efisiensi energi. Meski sudah jadi Wamen, dirinya masih suka naik transportasi umum untuk menghemat BBM.

 

Namun kini sosok itu telah tiada. Selama satu minggu kemarin, suasana duka masih menyelimuti keluarga besar ESDM. Orang bijak bilang, orang baik memang lebih disayang Tuhan dan suka dipanggilNya duluan. Peristiwa meninggalnya Pak Wid mengingatkan kita pada meninggalnya Soe Hok Gie, sang pecinta alam yang pada akhirnya juga menghembuskan nafas terakhirnya di kaki gunung. Begitu cintanya Pak Wid kepada gunung, hingga anak perempuan satu-satunya pun diberi nama Kristal Amalia, yang merupakan akronim dari nama-nama gunung (Kerinci, Rinjani, Semeru, Tujuh, Agung, Latimojong).

 

Kini, tidak ada lagi sosok yang demikian bersahaja di lingkungan ESDM. Tidak ada lagi sosok yang demikian nyeleneh, yang sempat mengusulkan ‘Premix’ atau campuran Premium dan Pertamax sebagai salah satu alternatif bagi konsumen menyusul tingginya harga Pertamax yang sudah menembus Rp10.000 per liter. Tidak ada lagi sosok pejabat yang rambutnya gondrong, yang sering nampak ngantuk saat rapat di DPR, dan kerap memotret menggunakan ‘tustel’ kesayangannya. Kita, para penerusnya, harus meneruskan perjuangan beliau dan tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan.

 

Selamat jalan, Pak Wid.

Semoga negara ini sudah benar-benar menghargai seluruh pengabdian dan pemikiranmu.

 

[Bogor. Minggu, 29 April 2012]

[08.00 pm]


About this entry