Perempuan di titik nol.

Layaknya seorang Magneto yang baru bisa mengeluarkan kemampuan mutannya saat ada sesuatu yang men-triggernya, seperti itu jugalah alasan saya menulis tulisan ini. Dalam film X-Men First Class, kemampuan mutan seorang Magneto justru bisa keluar maksimal saat ada trigger yang memicunya; yaitu saat dia melihat ibu yang sangat dicintainya, dibunuh di depan matanya sendiri. Sedangkan dalam kasus saya, trigger itu adalah berkaitan dengan apa yang saya kerjakan setiap hari, mulai dari menulis berita hingga pernak-pernik kantor.

 

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis—di luar berita. Bahkan tulisan-tulisan remeh seperti diary, tentang curhatan apa yang dialami sehari-hari, juga tidak kunjung ditulis. Apalagi tulisan tentang review film, tentang review buku, tentang sketsa perasaan, dan hal-hal lainnya yang biasanya saya sempatkan untuk tulis, sekarang tidak lagi saya lakukan. Alasannya klise, tidak ada waktu.

 

Tapi hari ini, saat ini, saya sempatkan untuk menulis kembali tentang hidup saya.Adatrigger yang membuat saya ingin menulis, yang tidak perlu saya jabarkan secara detail di sini. Tulisan ini bukan untuk siapa-siapa, bukan tentang siapa-siapa, tapi ini murni tentang diri saya sendiri dan untuk bahan refleksi diri sendiri. Jadi bagi anda yang tidak begitu mengenal saya, atau tidak begitu peduli dengan hidup saya, lebih baik undur diri dari sekarang. Karena tulisan ini nampaknya akan menjadi sangat panjang.

 

Trigger itu muncul hari Senin yang lalu. Intinya, komitmen saya menjadi wartawan dipertanyakan. Saya tidak cukup memenuhi standar seorang wartawan yang baik, dari segigayapenulisan berita, kecepatan berita, isu-isu berita, hingga hubungan interpersonal dengan orang kantor, semuanya diragukan. Tiba-tiba, saya lemas luar biasa.

 

Tiba-tiba, saya merasa seperti perempuan di titik nol.

 

Tidak ada kemajuan dan kedewasaan di usia yang sepatutnya sudah matang. Yang ada justru seperti saya kembali ke titik nol, seperti seseorang yang tidak punya kemampuan apa-apa. Yang bukan siapa-siapa. Yang bukan apa-apa.

 

Bukan semata-mata karena bintang saya cancer, yang katanya sangat sensitif dan perasa, lantas tiba-tiba trigger itu saya ’masukin ke hati’. Tentu saja trigger itu saya ’masukin ke hati’, karena hey.. ini tuh tentang self esteem saya, tentang profesi saya, tentang kelangsungan saya dalam mencari sesuap nasi dan sebongkah berlian di republik ini.

 

Semula saya fikir, saya cinta pekerjaan ini. Menjadi wartawan adalah pekerjaan yang dulu sangat saya idam-idamkan. Setiap ada daftar isian yang berisikan kolom tentang cita-cita, saya selalu menulis ’jurnalis’ di kolom tersebut. Dari SD saya sudah berminat melakukan korespondensi melalui majalah anak-anak. Lalu saat SMA saya ikut terlibat dalam buletin sekolah. Bahkan 3 tahun saya habiskan di bangku kuliah untuk memperdalam dunia jurnalistik. Sekali lagi, hal itu saya lakukan karena saya fikir, saya mencintai dunia itu. Sekali lagi, dunia wartawan adalah dunia yang dulu sempat saya idam-idamkan. Dan saat ini, boleh dibilang, cita-cita itu kesampaian.

 

Tapi ternyata, terkadang kita harus melakukan beberapa kompromi dalam hidup, termasuk kompromi sama cita-cita. Ternyata, cinta saya terhadap pekerjaan ini tidak berbalas. Ternyata cinta itu bertepuk sebelah tangan. Atau mungkin ini cinta buta, sudah tahu resikonya bahwa menjadi wartawan akan stress setiap hari, bakal tidak teratur jam makannya, bakal sering pulang malam, dan bakal jauh dari jodoh, tapi tetap saja sampai detik ini saya masih melakoni profesi ini.

 

Saya berkeyakinan, saya tidak akan menyerah semudah itu. Saya tidak ingin menjadi se-cemen ini. Saya berkeyakinan, masing-masing profesi pasti ada plus minusnya. Sama seperti profesi lainnya, profesi ini ada kalanya sangat menyenangkan, ada kalanya sangat mengesalkan. But hey, tetap saja someone has to do the job. Harus ada orang yang melakoni profesi ini. Seburuk-buruknya ekspektasi kita tentang profesi seorang polisi, seorang waiter bahkan seorang Presiden sekalipun, but still, someone has to do the job. Harus tetap ada orang yang mengerjakannya dan pasti ada aja orang yang mau melakoni masing-masing dari profesi itu. Di situlah letak keadilan yang Tuhan ciptakan. Tuhan menciptakan minat dan bakat orang berbeda-beda, dan tetap adil menciptakan jenis profesi yang setara. Bukan berarti kalau profesi kamu adalah seorang dokter, lantas kamu bisa lebih tinggi derajatnya dibanding seseorang yang profesinya pengacara, misalnya. Tidak, Tuhan sudah menciptakan mekanismenya sendiri.

 

Tapi trigger kata-kata seperti ’kalau orang lain bisa, kenapa kamu ngga?’, sangat mengena di hati, saat ada orang yang mengucapkannya di depan saya. Sangat mengesalkan harus mendengar kalimat seperti itu lagi saat kita sudah bekerja, seolah-olah kita tidak pernah belajar dari kecil. Padahal saya, kamu, kita semua pernah punya orangtua, yang pasti sering mengucapkan kalimat itu saat kita masih kecil dulu. Kita semua juga pasti pernah berorganisasi dan sering mendengar kata-kata itu saat mental kita sedang digodok kakak-kakak kelas kita dulu. Bahkan saya sendiri pernah mengucapkan kalimat itu pada adik saya, pada junior-junior saya dulu. Mendengar kembali kata-kata seperti itu baru-baru ini, selintas terdengar seperti melecehkan. Walaupun saya tahu, itu adalah untuk memotivasi, justru karena mereka sangat sangat peduli dengan hidup saya, dan demi kebaikan saya ke depannya.

 

Yang saya sayangkan, ternyata tidak ada prasangka positif terhadap perkembangan diri saya. Usaha-usaha perbaikan diri yang saya lakukan, sepertinya tidak dilihat. Kemauan saya untuk belajar sepertinya dinilai nihil. I’m not good enough. Dan selalu akan dilihat seperti itu. Sekarang saya tidak tahu lagi harus saya kemanakan cinta saya terhadap profesi ini.

 

Setelah menunaikan kewajiban saya menulis berita, lalu saat saya melaksanakan hak saya bertemu dan berkumpul dengan keluarga saya, ternyata ada konsekuensinya. Jika saat weekend pun saya harus kehilangan waktu dengan keluarga saya, karena profesi ini, mungkin saya harus melakukan kompromi hidup yang lain. Jika ternyata ada konsekuensi yang harus saya bayar karena saya melaksanakan hak saya berkumpul dengan keluarga, saya bisa terima. Karena walau bagaimanapun, family first. Saya ingin hidup saya bisa seimbang, seperti semangat yang diusung kantor saya. Urusan pekerjaan dan keluarga, love life and friends, harus seimbang. Tapi ternyata sekarang, hidup seimbang itu sangat mahal dan sulit diwujudkan. Saya tidak sanggup lagi membeli waktu untuk sekedar beristirahat, berkumpul lebih lama dengan keluarga dan melakoni hobi-hobi saya yang dulu. Saya jadi sangsi saya bisa punya waktu lebih untuk membantu persiapan pernikahan abang saya Oktober nanti. Saya jadi sangsi saya bisa punya waktu lebih untuk menghadiri wisuda adik saya September nanti. Bahkan saya jadi sangsi saya bisa punya waktu lebih untuk merayakan ulangtahun bapak saya sendiri 21 Agustus nanti. Tapi nyatanya saya tetap bertahan. Setidaknya sampai saat ini, belum ada another trigger yang membuat saya harus mempertaruhkan kembali cinta saya terhadap profesi ini. Walaupun sebenarnya, siapa pun pasti akan setuju bahwa tidak baik jika harus terus-menerus memaksakan cinta.

 

Sedih rasanya saat kita tahu pasti tentang hal-hal yang bisa membuat kita sedih, tapi justru kita udah ngga tahu lagi apa yang bisa membuat kita seneng. Itu sangat menyebalkan.

 

Tapi setidaknya saat ini, menjadi apa adanya itu sangat melegakan. Jujur pada orang lain, dan terutama pada diri sendiri itu sangat melegakan. Dan menjadi perempuan di titik nol, mudah-mudahan bukanlah suatu pertanda buruk. Karena Tuhan tidak akan sejahat itu membiarkan hambaNya berlarut-larut dalam ke-cemen-an ini.

 

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Terimakasih semesta atas perjalanan sampai hari ini.

Semoga semua makhluk berbahagia.

 

[Kebon Sirih. 4 Agustus 2011]

[01.04 am]


About this entry