Sketsa Kereta.

Sketsa di Stasiun Bogor pada Senin pagi ini tidak banyak berbeda dari hari Senin-Senin yang lalu. Meski hari ini baru hari Senin kedua di tahun 2011. Meski hari ini dunia memasuki genap hari kesepuluh di tahun 2011. Meski publik Indonesia masih berduka sepeninggal Elfa Secioria hari Sabtu lalu. Namun sketsa di Stasiun Bogor pada Senin pagi ini masih saja dipenuhi sketsa-sketsa lama–sketsa-sketsa yang sama.

Beberapa manusia sudah menunjukkan tanda-tanda geliat ekonomi pagi-pagi sekali di sini. Mas-mas tukang gorengan terlihat sudah menggoreng beberapa tempe dan bakwan. Sayang combro yang biasa saya beli ternyata belum dia goreng. Terpaksa saya mengurungkan niat sarapan dan terus melangkahkan kaki menuju pintu stasiun. Biasanya, saya membeli 4 combro seharga Rp2000 dan Teh Gelas seharga Rp1500 sebagai modal sarapan. Semuanya jadi Rp3500, paket sarapan mantap nan murah meriah yang biasa saya nikmati sepanjang perjalanan menuju Jakarta. Tapi hari ini kayanya saya ngga sarapan, karena entah kenapa ngga ada selera menyantap tempe dan bakwan itu.

Saat saya memasuki pintu stasiun, tampak beberapa mas-mas loper koran begitu bersemangat menjajakan koran nasional dan koran lokal. Sambil berjualan, mereka sesekali memberitahu perihal kereta yang paling duluan akan berangkat. Para manusia lantas menyerbu loket dan tiba-tiba antrian menjadi lumayan panjang. Di dalam stasiun, empat kereta sudah tersedia di jalurnya masing-masing. Ada yang menuju Stasiun Kota, ada yang menuju Stasiun Tanah Abang. Ada kereta ekonomi, AC-ekonomi dan ada yang Pakuan Express. Saya melirik jam tangan sebentar, oh ternyata masih jam 6 pagi. Kepagian buat saya. Tadinya saya mau naik kereta ekspres yang jam 06.25, tapi ternyata kereta yang jam 05.57 belum berangkat. Daripada menunggu lama, saya pilih naik kereta yang duluan berangkat aja.

Saya memilih masuk di gerbong 8, gerbong paling akhir yang khusus untuk wanita. Kereta ini terdiri dari 8 gerbong, dan sejak pertengahan Agustus 2010 lalu operator kereta membuat kebijakan baru yakni gerbong paling depan dan paling belakang khusus untuk wanita. Sayangnya, kebijakan ini baru berlaku untuk kereta ekspress dan AC-ekonomi saja. Dengan kondisi kereta ekonomi saat ini, rasanya memang hampir tidak mungkin menerapkan kebijakan ini mengingat begitu banyaknya manusia-benda-buah-hewan yang berdesak-desakan bersamaan di dalam gerbong kereta ekonomi—yang tanpa AC, tanpa pintu dan dengan kondisi jendela yang selalu terbuka.

Di kereta ekspres yang saya naiki, kondisinya sedikit lebih menentramkan jiwa. Kalau pagi-pagi begini, tidak ada pengamen lengkap dengan gitar elektriknya yang siap menyambut harimu sambil membawakan satu-dua lagu masa kini. Dulu, D’Masiv dan ST12 sering merajai tangga lagu pengamen stasiun. Tapi sekarang lagu-lagunya sudah lebih bervariasi, bahkan waktu itu saya pernah disuguhkan lagu Wulan Merindu-nya Cici Paramida—yang tentunya dengan sedikit aransemen ulang. Di kereta ini pun para pedagang minuman dingin hanya akan berjualan di depan kereta, dan tidak masuk berjualan di dalam gerbong. Begitu pun para loper koran, penjual tissue hingga penjual asesoris wanita. Dan ohh—para pengemis juga.

Harga tiket kereta ini bisa dibilang paling mahal, Rp11.000 sekali jalan menuju Jakarta. Bandingkan dengan Rp2000 untuk tiket ekonomi dan Rp5.500 untuk AC-ekonomi. Tapi sesuai dengan namanya, kereta ini ekspres yang artinya tidak berhenti di tiap-tiap stasiun. Lebih gampangnya, kereta ini akan sampai di tempat tujuan lebih cepat dibanding jenis kereta lainnya. Walaupun, tetap saja waktu tempuh tidak pernah sama. Kadang-kadang bisa 45 menit sampai Jakarta, kadang-kadang bisa sampai sejam lebih. Please, jangan tanya kenapa.

Dan jangan harap kamu dapat tempat duduk di kereta ekspres saat jam-jam padat kaya gini. Walaupun masih jam 6, tapi sudah banyak manusia di gerbong khusus wanita ini. Dan saya yakin di gerbong depan pun pasti sudah penuh. Inilah kenapa tetangga saya selalu berangkat jam 5 subuh dari rumah, biar bisa dapet tempat duduk di kereta. Tapi tenang, kalau kamu kreatif, kamu bisa pakai kursi lipat yang kamu beli seharga Rp40.000 tempo hari, dan tadaaa! Kamu bisa tetap duduk di dalam kereta. Tenang, ini adalah sketsa biasa di KRL Jabodetabek.

Sudah lama saya mengamati. Selain kebijakan baru gerbong khusus wanita, sekarang sudah ada sedikit kemajuan di dalam kereta. Sudah lama saya lihat sekarang ada Asmirandah dan.. aduh siapa ya itu nama cowoknya, nampang di iklan Coca-Cola di dalam gerbong. Wahh, sekarang udah ada iklan, mantap nih. Sebelum Coca-Cola, iklan Tebar Hewan Kurban milik Dompet Dhuafa Republika sudah lebih dulu terpajang di dinding gerbong. Dan sekarang, rute tiap-tiap stasiun yang dilalui kereta juga sekarang udah ada petanya! Wahh, kemajuan demi kemajuan ini patut diapresiasi, bukan?

Di dalam gerbong, saya berdiri. Selain sketsa beberapa manusia yang sudah terlelap tidur di tempat duduknya, saya melihat ada beberapa manusia tergopoh-gopoh memasuki gerbong ini. Mungkin dia sejenak bersyukur dalam hati bahwa dia masih bisa ikut kereta yang jam 05.57 ini. Karena kalau kereta ini sudah berangkat, mungkin dia akan terlambat masuk kerja. Dan tidak lama kemudian, kereta pun berangkat.

Di dalam gerbong, ada sketsa-sketsa lain yang sebenarnya sama saja. Nampak beberapa ibu-ibu khusyuk dalam tidurnya sambil diselimuti pashmina. Ibu-ibu itu lengkap dengan tas tangannya serta satu tas berisi makan siang dan botol minum yang dijinjing dalam plastik Toserba Yogya, Matahari, bahkan kantong belanjaan Centro dan Crocs. Ada beberapa karyawati yang sudah terpoleskan make up lengkap di wajahnya, juga tertidur pulas sambil sesekali mulutnya menganga. Ada juga dari mereka yang sedang flu rupanya, sebab dia terlihat memakai masker penutup mulut.

Sketsa lain memperlihatkan beberapa mahasiswi yang khusyuk membaca novelnya. Ada beberapa yang menelpon orangtuanya dan mengabarkan bahwa dia sudah di dalam kereta. Ada yang sambil bbm-an sama temennya. Ada yang sambil ganti status facebook. Ada yang konsentrasi mendengarkan lagu demi lagu yang diputar di playlist handphone-nya. Ada juga yang diam-diam khusyuk membaca ayat-ayat Qur’an. Sketsa biasa, bukan?

Dari dalam kereta, sketsa seperti itu sudah biasa kamu jumpai. Dari dalam kereta juga, kamu bisa melihat keluar sana dan menyaksikan anak-anak sekolah sedang berbaris mengikuti upacara bendera. Di luar sana ada antrian motor, angkot, bus kota dan kendaraan pribadi di depan palang pintu kereta, yang dengan sabar menunggu kereta selesai melintas di hadapannya.

Sketsa-sketsa kereta dan stasiun secara general, niscaya tidak akan banyak berubah seandainya pemerintah tidak labil dan tetap memutuskan untuk menaikkan tarif kereta ekonomi. Selisih dari tarif baru itu, tidak akan serta-merta merubah keadaan. Kita masih akan melihat manusia leluasa makan, merokok, meludah dan membuang sampah di dalam gerbong. Kita masih akan melihat manusia sembilan nyawa asyik bertengger di atas gerbong kereta. Kita masih akan menyaksikan anak-anak pipis di sela-sela gerbong, karena ketiadaan toilet di dalam kereta. Kita masih akan melihat air menetes dari atas, akibat dari dinginnya AC. Kita masih akan menemui petugas yang mengecek tiket kita di dalam kereta (di belahan bumi mana lagi yang tiketnya dicek di dalam kereta?). Kita masih akan berhadapan dengan jadual keterlambatan kereta. Kita juga masih akan menemui kasus-kasus kecelakaan kereta. Sketsa biasa, bukan?

Pada satu kesempatan, Dirut PTKA Yth Bapak Ignasius Jonan pernah bilang, kalau dia berani bayar Rp40.000 untuk kereta Bogor-Jakarta, jika memang tarif keekonomiannya demikian. Tapi masa iya Pak, mau dihargain segitu? Tapi memang selama ini PTKA jadi boros dalam operasionalnya karena pemerintah tidak memperlakukan kereta seperti transportasi darat lainnya.

Selama ini, kereta selalu mendapat perlakuan yang berbeda dengan moda transportasi darat yang lain seperti truk, misalnya. Saat ini truk di Jawa dan Sumatera menggunakan solar bersubsidi sedangkan untuk angkutan barang, kereta menggunakan BBM harga industri. Dari Beban Pokok Penjualan Kereta Api tahun 2009 sebesar Rp3,8 triliun, sebesar 18,7% merupakan beban bahan bakar yang terdiri dari beban BBM mencapai Rp685,7 miliar dan beban Listrik Aliran Atas (LAA) sebesar Rp32,8 miliar.

Selain itu, kereta juga diwajibkan membayar penggunaan jalan rel milik negara (Track Access Charge) sedangkan truk tidak perlu membayar atas penggunaan jalan raya milik negara. Beban TAC mencapai Rp922,3 miliar atau sekitar 24,06% dari Beban Pokok Penjualan. Selain itu, kereta untuk angkutan barang juga termasuk jasa yang terkena PPN.

”Kereta Api sulit meningkatkan kualitas pelayanan karena mendapat perlakuan yang tidak sama dengan transportasi darat lainnya,” kata Jonan sekitar Mei 2010 lalu.

Maka untuk meningkatkan kualitas pelayanan, PTKA mengajukan kenaikan tarif kereta ekonomi yang dilakukan bertahap setiap semester dalam 4 semester ke depan sebesar rata-rata 12,5%. Kenaikan tarif kereta api kelas ekonomi terakhir kali terjadi pada tahun 2004 sekitar 10-20% dari tarif tahun 2002. Tahun 2009, terjadi perubahan besaran tarif yang diturunkan sekitar 7-15%. Artinya, sudah 8 tahun tarif kereta ekonomi tidak naik.

Maka dari itu, jangan kamu berani-beraninya membandingkan kereta kita dengan subway di Singapura atau monorel di Malaysia. Dengan adanya kenaikan tarif pun, tidak lantas akan mengubah nasib perkeretaapian di Tanah Air menjadi seperti di negara tetangga. Kalau pemerintah mau serius, itu dana penyelamatan Bank Century Rp6,7 triliun kalau dipakai buat monorel, mungkin udah ada 4 jalur yang jadi. Mungkin, itu cuma contoh.

Mungkin benar, bahwa bisnis kereta api di negeri ini memang merupakan ironi tersendiri. Kalau mau bawa-bawa soal kemerdekaan negara kita yang sudah 65 tahun merdeka, mengingat bahwa rakyat sudah lama mengidam-idamkan pelayanan publik yang lebih baik oleh negara, mungkin bisa lebih ironi lagi.

Tapi perlu diingat, bahwa saya tidak membela siapa-siapa di sini. Karena saya, dan juga kamu semua, juga pengguna jasa kereta.

[Jakarta. 11 Januari 2011]

[03.22 am]


About this entry