Tentang Hidup.

Ternyata hidup ini menjadi tidak menarik lagi begitu kita tahu alurnya.

Pernahkah kamu menyadari bahwa hidup itu memang sudah begitu alurnya? Setiap orang yang lahir di dunia pelan-pelan pasti akan tumbuh besar. Dari bayi-balita-lalu menjadi anak-anak. Lalu kamu sekolah. Lalu kamu mengalami masa remaja. kemudian masa dewasa. Setelah itu kamu bekerja. Menikah. Punya anak. Tua. Punya menantu. Punya cucu. Pensiun. Lalu mati di umur 60-an. Atau di umur 70-80an kalau kamu rajin olahraga dan mengkonsumsi buah-buahan.

Lahir-tumbuh besar-menikah-punya anak-mati. Siklus rata-rata kebanyakan manusia normal di dunia. Udah ketebak. Membosankan.

Tidakkah kamu menyadari betapa orangtua kita pandai menyembunyikan hal itu dari kita, agar kita tetap bisa puas bermain saat masa muda dulu, tanpa harus merisaukan sejak dini apa yang akan kita hadapi nanti selanjutnya, setelah kita lulus sekolah terutama. Setelah lulus sekolah, semuanya terasa membosankan. Bangun pagi-mandi-bekerja-makan-boker-mandi lagi-nonton TV-tidur. Begitu berulang-ulang. Saat Sabtu-Minggu pun sama aja. Kebanyakkan dari kita menghabiskan waktu di mall, menonton film di bioskop atau makan bersama pacar atau sahabat. Lalu berfoto bersama mengabadikan momen menggunakan BB-mu, HP manualku, iPhone-mu atau jenis gadget lainnya.

Dan fotonya pun bisa ketebak. Dengan latar belakang restoran atau kaki lima, tampak berjejer tokoh demi tokoh dalam foto. Nampak piring-piring dan gelas-gelas yang berserak di atas meja. Ada sisa makanan yang tak kau habiskan di sana. Nampak pula sepotong-dua potong tisu yang kau pakai mengelap tumpahan saus di atas meja. Lalu kau mulai berpose. Tak lupa kau meminta tolong pelayan untuk mengambil foto kalian semua. Foto pertama menunjukkan dua jari membentuk ’peace’ dekat pipi. Foto kedua kepala tegak. Foto ketiga kepala agak miring. Foto keempat mata melotot. Foto kelima bibir agak manyun. Foto kelima kau pamer gigi. Foto keenam lidah dijulur-julur.. Tuh kan. Udah bisa ketebak.

Hidup ini menjadi tidak menarik lagi begitu kita tahu alurnya. Lalu untuk apa hidup diteruskan?

Oh tapi tenang, bukan berarti saya mau bunuh diri, lantas orientasi saya berubah tiba-tiba menjadi orientasi hidup di akhirat. Tiba-tiba saya bertaubat nasuha dan meninggalkan semua yang berkaitan dengan duniawi. Bukan, bukan ke situ arahnya. Jangankan untuk hidup di akhirat, untuk sisa hidup di dunia saja saya udah ngga tahu mesti menjalaninya bagaimana. Bosan. Karena saya udah tahu alurnya.

Saya udah tahu alurnya, meski saya belum menjalaninya. Sama seperti kamu tahu jalan menuju Surabaya, misalnya. Meski sebenernya kamu belum pernah menjalaninya. Tapi dengan tahu jalannya pun, kamu masih saja tidak bersemangat. Kurang lebih seperti itu. Saya tahu saya belum menikah, atau merasakan bagaimana rasanya muntah-muntah gara-gara hamil lalu kemudian melahirkan. Kalau kondisi badan saya normal, suatu saat saya akan mengalaminya. Tapi tetap, saya tidak merasa excited karenanya. Saya tidak merasa gembira atau tertunggu-tunggu ingin segera merasakannya. Tidak. Saya ’tahu’ saya akan mengalaminya, saya sudah ’tahu’ alurnya, dan tetap, saya merasa hidup masih akan bosan karenanya.

Seorang sahabat menyela cerita saya dengan berkata ’ya kalau ngga mau alurnya sama, bikin yang di luar alur. Tidak menikah, misalnya’. Hmm. Alternatif alur hidup, bukan? Agar alur hidupmu tidak seperti alur hidup orang kebanyakan?

Ya, mungkin bisa dipertimbangkan. Apa sih yang kita tahu tentang hidup, tentang cinta, tentang pernikahan? Pernikahan, buat saya adalah ’hidup bersama satu orang yang itu-itu saja hingga akhir hayat’—yang mana menurut saya akan sangat sangat membosankan. Hidup dengan orang yang sama, orang yang notabene asing, hidup melebihi waktu hidup kita saat masih bersama orangtua. Hidup bersama orangtua mungkin hanya sekitar 20 tahun, tapi dengan pasangan mungkin bisa hidup hingga 30-40 tahun. Oh please.

Tapi pada dasarnya manusia takut sendirian. Saya baru menyadarinya akhir-akhir ini bahwa ketakutan mendasar manusia dalam hal psikologis sepertinya ya itu: takut ditinggal sendirian. Dan ketakutan saya yang lain ketika nanti saya menikah adalah, membiarkan sahabat-sahabat saya merasa ’ditinggalkan’ oleh saya, sama seperti perasaan yang timbul ketika sodara saya akhirnya menikah. Saya merasa ’ditinggalkan’. Dan itu sakit, sakit ternyata.

Tapi toh, pada akhirnya semua akan sendirian. Saya. Kamu. Kita semua. Kita lahir ke dunia ini sendirian, begitu pun saat mati, kita akan sendirian. Alur yang ini pun saya yakin kamu pasti sudah tahu, bukan? Beruntung saya tidak punya banyak teman. Jadi saya rasa saya sudah terbiasa dengan bersendirian.

Lain sahabat, lain pacar. Saya menceritakan tentang alur hidup yang membosankan ini lalu si pacar menyela dengan berkata ’ya kalau udah tahu alurnya, paling ngga warnai alur itu dengan cara kamu sendiri. Toh masing-masing orang punya cara sendiri menjalani siklus hidupnya’. Hmm. Ada benarnya. Ngga semua orang harus menikah di umur 27 tahun. Ada teman saya yang bahkan sudah menikah dan punya anak. Ada teman seumuran saya yang sudah meneruskan studi S2. Dan lain-lain. Tapi itu standar, hanya masalah ’teknis’ dan ’waktu’ saja. Intinya sama. Sekolah-menikah-punya anak.

Terkadang saya ingin cacat, agar saya bisa merasakan sisi lain kehidupan. Nauzubillah minzalik memang. Tapi saya ingin merasakan ’perbedaan’ itu agar alur hidup saya tidak seperti manusia kebanyakan. Saya, yang lahir dengan tubuh sempurna dan indera yang sempurna, tidak punya banyak keistimewaan. You know what, being normal is boring.

And perfect is much more boring.

Mungkin saya bisa lebih menghargai orang berbicara ketika telinga saya tidak sesempurna ini. Mungkin saya bisa lebih belajar untuk berbicara yang penting-penting saja, kalau saja saya terlahir dengan bibir yang susah sekali digerakkan. Mungkin saya bisa lebih menghargai apa yang disajikan Tuhan di depan mata saya, kalau saja kedua kelopak mata ini ternyata tidak membuka dengan sempurna.

Tapi itu semua sudah tidak mungkin. Kecuali kalau saya mengalami kecelakaan parah dan mengalami cacat permanen. Tapi tentu Tuhan tidak mengizinkan umatNya berdoa yang jelek-jelek. Tuhan tidak akan mengabulkan doa aneh ini, karena saya tahu Dia sebenernya sayang sama saya.

Hpppfhhh.

Seorang sahabat yang lain berkata hal yang lain lagi, ‘matahari masih akan bersinar dengan cara yang sama di 2011. Jadi sebenarnya ngga ada yang berubah’. Dan saya setuju. Tahun ini, Presidennya masih SBY. Tahun-tahun mendatang tetap akan ada pemilu, bisa ketebak, meski tokoh utamanya aja nanti yang berganti. Tahun ini, harga-harga komoditas masih akan merangkak naik. Duit gaji tiap bulan akan tetap kesedot buat makan-bayar-kosan-hang out sampe akhirnya gajian lagi-hidup lagi-gajian lagi-hidup lagi. Tuh kan, memang begitu alurnya. Dengan para sahabat dan pacar, akan terus bertemu-berkumpul-berpisah. Begitu seterusnya. Kalau tahun kemarin kebanyakan di Jakarta, tahun ini mungkin scene-nya di Kuala Lumpur, Medan atau di Belitong.

Garin Nugroho, Riri Riza, Hanung Bramantyo, Nia diNata, Joko Anwar bakal tetap berkarya tahun ini. Betapa pun akan ada lanjutan Sang Pemimpi atau Sang Pencerah, tapi sayangnya pasti tetap akan ada lanjutan film Dendam Kuntilanak (Ngga) Perawan, Santet (Dalam) Kubur atau Masuk Dari Bawah, Keluar Juga Dari Bawah. Ahahahahaa. (Sumpah, ini judulnya sih ngarang abis). Tahun ini juga semoga ada lagu-lagu penyemangat baru, yang mudah-mudahan ngga jiplak, yang ngga cuma modal remake lagu lama. Yang mudah-mudahan lagunya long-lasting, yang ngga cuma puas didengerin di dua minggu pertama, tapi yang bisa nemenin perjalanan sambil naik Kopaja dari kantor menuju kosan. Atau dari Jakarta menuju Bogor.

Apa-apa pun, hidup sudah begini adanya, Vega. Selamat Tahun Baru ya. Ajak nuranimu, ajak logikamu, ajak organ-organ tubuhmu mendobrak pakem hidup yang membosankan ini. Karena walaupun hidup ini membosankan, paling tidak makhluk-makhluk dalam hidup ini, yang ada di sekelilingmu, tidaklah membosankan.

Berpeganglah pada keniscayaan itu. Semoga.

[Jakarta. 3 Januari 2011]

[02.55 am]


About this entry