Dear Unda,

Mungkin kamu sudah membaca sebagian tulisan saya. Dari situ, mungkin kamu sedikit-banyak tahu tentang saya. Terutama, soal saya yang lagi mati rasa. Meski sekarang, kamu pelan-pelan mengajari saya untuk kembali berani ’merasakan’ lagi.

Bukannya apa-apa, tapi saya rasa, kita udah sama-sama dewasa. Udah tahu lah bagaimana rasanya jatuh cinta. Bagaimana rasanya ingin bertemu lagi, dan lagi. Udah tahu bagaimana tersiksanya ditemui hanya melalui mimpi. Udah tahu bagaimana rasanya rindu. Tapi kita juga udah tahu bagaimana rasanya disakiti. Dikhianati. Dibohongi. Bertepuk Sebelah Tangan. Ditolak. Dan adegan demi adegan drama lainnya.

Saya rasa, kita udah sama-sama tahu.

Persoalannya sekarang, kalau kita jatuh cinta, lantas mau kita apakah perasaan itu? Apa mau kita tindak lanjuti dengan mendekati dia? Atau kita bunuh saja perasaan itu karena satu dan lain hal? Begitu juga kalau kita ternyata disakiti, lantas apa kita mau langsung terjun dari Monas untuk bunuh diri? Bagaimana kalau ternyata perasaan itu hanya hasrat sesaat saja? Begitu ada yang lain, lewat sudah perasaan itu. Hmmm.

Dulu, saya pernah iseng berdoa kepada Tuhan, pertemukanlah saya dengan laki-laki yang benar-benar asing di hidup saya. Yang belum pernah saya jumpai sebelumnya. Dan melalui Nichi (yes, ini semua gara-gara lo), Tuhan mempertemukan saya dengan kamu. Kita kenal belum lama. Tapi saya terkejut, kamu tiba-tiba datang menawarkan diri masuk ke kehidupan saya. Padahal, saya rasa hidup saya sama sekali ngga menarik. Bahwa saya merasa saya adalah individu yang sangat amat biasa, yang mungkin ngga jauh beda dengan mantan-mantan kamu sebelumnya. Mungkin.

Berbeda dengan kamu, mantan saya ngga banyak. Bisa dihitung jari. Karena pacaran, buat saya, bukan sekedar cari temen buat nonton bareng, makan bareng, atau menghabiskan waktu bersama di kala weekend. Bukan, bukan itu. Tapi untuk teman diskusi, saling tukar pikiran, saling membelai batin, menenangkan pikiran dan perasaan. Saling mengasihi dan saling membutuhkan, sebagai partner.

Ngga perlu ada status ’pacar’ untuk meminta izin megang tangan saya. Karena cepat atau lambat, jika kita memang ditakdirkan menikah, mungkin kamu bisa menyaksikan seluruh tubuh saya secara live, hanya buat kamu. Dan diam-diam kamu akan bergumam sendiri, menyesali karena ternyata saya tidak ’seindah’ yang kamu bayangkan. Haha. Tidak perlu malu, saya tahu itu kebutuhan, ya saya tahu. Sejak Mamah ngga ada, otomatis hidup saya dikeliling laki-laki semua, mulai dari bapak hingga abang-adik. Lebih kurang saya tahu lahh bagaimana sifat alamiah laki-laki.

Kini lihat dirimu. Kamu sudah membuktikan pada dunia, bahwa kamu adalah seorang manusia dan laki-laki sejati. Membangun usahamu sendiri, dengan jerih payahmu, mempekerjakan orang lain, dengan kreasi tanganmu yang luar biasa. Tidak banyak anak muda di bawah 25 tahun yang sudah punya usaha sendiri, seperti kamu. Tidak banyak orang yang dikaruniai bakat bisa melukis dengan sangat indah. Karena itu, memegang tanganmu, harus hati-hati. Karena setiap saya lakukan itu, saya tahu saya sedang memegang aset dari seorang makhluk Tuhan yang luar biasa dalam berkarya.

Kamu Makassar, saya Jawa-Sunda. Dan saya rasa, saya tidak peduli. Dulu saya pernah Indonesia-Malaysia pun, saya tidak peduli. Karena rasanya cinta tidak perlu diukur dari tanah kelahiran, atau kewarganegaraan. Dari 237 juta rakyat Indonesia saat ini, ternyata tetap saja sulit menemukan yang betul-betul perhatian dengan hidup kita, bukan? Saya baru menyadari itu. Lalu saya berfikir lantas apa salahnya jika nanti lahir dari rahim saya, seorang anak yang satu keturunan dengan Jusuf Kalla? Ini juga pernah jadi doa iseng saya dulu, bahwa saya ingin dipertemukan dengan orang yang jauh, agar anak-anak saya bisa bepergian mengunjungi kakek-neneknya di luar Pulau Jawa. Hehehehe.

Jadi jangan khawatir, sayang. Ini hanya soal waktu. Tahan gejolak itu, kendalikan sebisanya. Perlu ada jarak, agar ada rindu. Perlu ada komunikasi, agar perhatian itu tetap tersalurkan. Tapi tolong jangan karena saya, uang tabunganmu terkuras. Jangan karena saya, kerjaanmu berantakan. Jangan karena saya, tiba-tiba kamu pengen pindah dekat kosan saya atau ikutan menemani saya mengunjungi teman saya di Kuala Lumpur nanti, misalnya. Tolong, jangan. Lakukan semuanya atas dasar keinginan kamu sendiri, bukan karena saya yang minta. Karena saya juga sedang belajar berbuat demikian.

Sayang, ini baru permulaan. Dan ini hanya soal waktu. Kamu begitu berani menerobos masuk kehidupan saya, bukan tak mungkin suatu saat kamu bisa meninggalkan saya begitu saja. Hingga saat ini kita belum pernah bertengkar, padahal kita sama-sama Cancer. Haha. Tapi semoga ini pertanda baik. Seperti yang selalu saya tekankan dari awal, jadikan ini energi positif aja. Ngga perlu ada konflik-konflikan.

Mungkin kita belum bertengkar, tapi suatu saat kita pasti bertengkar. Ini hanya soal waktu, sampai saatnya kamu akan marah-marah karena saya belum menyiapkan sarapan. Atau nanti saat saya ngedumel sendiri waktu kamu lupa beli lampu baru padahal lampu dapur udah lama mati. Atau bahkan bertengkar saat memilih warna cat kamar kita.

Maka jangan pernah menjanjikan apa-apa. Karena saya juga tidak bisa menjanjikan apa-apa. Jangan pernah berharap saya akan setia 100% sama kamu. Oh please, sama Tuhan aja saya masih suka berkhianat, apalagi sama kamu. Sama orangtua aja saya masih suka berkhianat, apalagi sama kamu.

Tapi satu yang saya tahu, hati saya mulai membuka kembali perlahan-lahan. Terimakasih atas ketulusan itu. Happy New Year once again, Unda.

[Jakarta. 3 Januari 2011]

[04.43 am]


About this entry