Idul Adha 2010.

Sejak saya kerja, saya selalu mendambakan saat-saat menerima gaji di penghujung bulan. Dan saya bahagia, sekarang saya punya penghasilan sendiri yang artinya saya berhak 100% atas setiap pengeluaran saya. Berhak dalam artian, saya punya kendali penuh atas setiap rupiah yang saya keluarkan.

Maka saat menjelang Idul Adha beberapa hari lalu, saya berniat dalam hati bahwa saya ingin berkurban. Dengan uang saya sendiri. Saya ingin menjalankan rukun Islam yang keempat, setelah saya sudah mengucapkan dua kalimat syahadat, menjalankan solat (meski belum sering), dan berpuasa setiap bulan Ramadhan. Dan sekarang, alhamdulillah, Tuhan mengizinkan saya untuk berkurban.  Dengan segala rizki yang Dia berikan melalui pendapatan saya satu-satunya sebagai wartawan, maka kemarin saya ambil sebagian tabungan saya dari ATM dengan niat ingin membeli seekor kambing.

Tapi tunggu dulu, pertanyaannya kemudian adalah : mau berkurban dengan cara ‘bagaimana?’. Setelah survei harga kambing kesana-kemari harganya di kisaran Rp1-1,5 juta. Dan ternyata banyak pilihan yang tersedia untuk berkurban di jaman sekarang, bisa melalui BAZNAS, bisa melalui Tebar Hewan Kurban-nya Dompet Dhuafa, bisa juga melalui superqurban-nya Rumah Zakat. Yang perlu kamu lakukan hanya transfer ke rekening tertentu dan zaapp! anda officially sudah berkurban. Praktis bukan? Saya sukaaaa sekali dengan konsep seperti ini. Bahwa berzakat (pada umumnya) di jaman sekarang sudah sangat mudah. Begini ini Islam yang saya suka, Islam yang intelek, yang terbuka dengan perubahan dan alert dengan perkembangan zaman. Saya sangat senang dengan hadirnya layanan-layanan zakat seperti ini. Saya salut dengan intelektual-intelektual Islam yang bernaung di belakang lahirnya program-program zakat yang saya sebutkan tadi. Dan saya mempercayakan sepenuhnya untuk pengelolaan uang yang perlu ditransfer tadi, mulai dari percaya bahwa kambing yang mereka pilih pasti yang bagus dan memenuhi syarat, bahwa mereka pasti tahu sasaran penerima daging kurbannya, bahwa kambingnya pasti dipotong pake bismillah dan lain sebagainya.

Dan saya sangat tertarik dengan program zakat yang terakhir, yakni superqurban. Saya suka dengan ide pengemasan daging kurban menjadi kornet. Alokasi daging pun akan diutamakan untuk korban bencana yang sedang merebak akhir-akhir ini. Setelah saya utarakan niat saya ini, kemudian bapak sama aa kompak bilang bahwa sebaiknya kalo kurban itu kita lihat sendiri si kambingnya, pemotongannya hingga proses distribusinya. Dan sebaiknya, alokasi daging kurban diprioritaskan untuk orang yang dekat dengan kita, mulai dari warga miskin di sekitar rumah atau paling tidak ya untuk warga Bogor. Hmmm.

Saya berfikir, ada benernya juga sih. Akhirnya saya memutuskan kurban di deket rumah aja, tanpa ada transfer uang ke rekening mana pun. Setelah si aa dan bapak selesai solat Ied (saya ngga ikut karena lagi halangan), kita sama-sama lihat kambing di deket rumah. Dari sekian banyak kambing yang diiket di pinggir-pinggir jalan, akhirnya kita menemukan sebuah tenda kecil yang di bawahnya ada beberapa ekor kambing. Well, domba sih sebenernya, bukan kambing. Hehehe. Dan akhirnya saya memutuskan membeli seekor domba di situ.

Bapak bilang, sebaiknya jangan beli kambing yang diiket di pinggir-pinggir jalan karena itu kambing pasti udah beberapa hari diiket di situ, jadi dia udah kepanasan, keujanan, masuk angin dan sebagainya. Kasian, udah ngga fit lagi kondisinya.. tapi di tempat ini kambingnya eh dombanya ditendain, disediain tempat makannya dan dikasih lampu. Jadi terkesan lebih terpelihara dan lebih berperikehewanan lah..

 

Ini dia ‘peternakan’ dombanya.

 

Waktu saya disuruh milih sendiri dombanya, saya spontan bilang ke si mas-mas penjaganya : yang mana aja lah mas, yang ganteng, gemuk, ngga penyakitan, sehat gigi sama kukunya, ngga beler, udah cukup umur.. hehehe. Well, terus terang saya ngga ngerti soal hewan, jadi lebih baik saya serahkan pada ahlinya bukan? Hehehe. Terus si mas-masnya nawarin ke saya beberapa ekor domba, yang bulunya sudah dicukur.. jadi biar kita tahu seberapa banyak dagingnya sebenernya.

 

Aaaanndddd.. Yak. Ditetapkanlah seekor domba di sebelah kiri itu (yang diiket) setelah dia sukses melalui beauty contest perdombaan (hehe). Ini pilihan si mas-masnya ni. Tapi itu domba keliatan fit, aktif, dan gemuk kok.

 

Setelah domba sudah terpilih, baru kemudian saya nanya : harganya berapa mas? Rp1.250.000, katanya. Spontan si bapak nawar, ngga bisa kurang? Rp1.100.000 gitu? Trus si mas-nya bilang, ngga bisa, paling mentok Rp1.200.000.. well, sebenernya saya pengennya kalo bisa sih Rp1juta, tapi sungguh kok kayanya tawar-menawar hewan kurban kok kedengerannya ngga etis gitu ya? Ini kan niatnya ibadah, bukan? Kok perhitungan?

Akhirnya saya bilang ke bapak, ya udah ngga apa-apa pa, Rp1,2 juta juga ngga apa-apa. Trus si bapak nanya balik ke saya, kamu yakin mau kurban? Well, sepertinya bapak mengerti sekali kondisi keuangan seseorang yang bekerja sebagai wartawan.. hahahahaa. Tapi saya tidak boleh goyah hanya karena Rp200ribu, kan niatnya ibadah. Akhirnya saya dengan mantap bilang ke bapak dan si mas-masnya : YAK! Saya ambil domba yang ini!

 

Dan.. ijab kabul difasilitasi melalui sebuah form pemesanan hewan kurban dan sehelai kuitansi tanda pembayaran.

 

Domba ganteng itu akhirnya menunggu giliran untuk dipotong. Anyway, mas-masnya itu bernama SUBAKRI (yes, I just bought a sheep from BAKRIE. Hhehehehehheehhe). Mas Bakri bilang kalo saya boleh lihat pemotongan si domba dan melihat penyaluran daging kurbannya. Tapi berhubung saya ngga berani liat si domba disembelih sambil berdarah-darah, saya menolak. Dan oh iya, tempat domba ini berafiliasi dengan rumah aqiqah, yang juga masih afiliasi sama Rumah Zakat. Kantornya sendiri ternyata deket aja dooongg dari rumah sayaaaa. Haduhhh, kemana aja sih lo ga?? Tapi berhubung kita mau pada silaturahmi ke rumah eyang, akhirnya saya percayakan saja pemotongan dombanya sekaligus distribusinya oleh rumah aqiqah. Mas Bakri sih bilang kalo distribusinya diutamakan untuk anak yatim piatu di Bogor (which is saya seneng banget dengernya, secara saya juga salah satu anak piatu di kota ini).

Aaaaandddd. That’s all. Setelah transaksi selesai, kami pun pergi ke rumah eyang. Ini bener-bener pengalaman luar biasa buat saya. Perjalanan rohani ini bener-bener berarti buat saya. Semoga Tuhan mengerti bahwa niat saya menulis entri ini adalah semata-mata untuk mendokumentasi aktivitas saya, sama sekali bukan riya atau istilah-istilah show off lainnya. Ibadah ini hablumminallah, cukup saya dan Tuhan yang tahu kadar keikhlasannya, kadar iman saya dan kadar kecintaan saya terhadapNya. Hanya Dia-lah satu-satunya yang bisa ‘membaca’ qolbu saya.

 

Duuuhh, takut megangnya nih. Aktif banget dombanya.

 

Nahhh gitu dong. Good boy. (anyway, introducing :  mas Bakri di sebelah kanan)

 

Ps : Sebenernya ada tambahan biaya pemotongan domba Rp30.000, tapi saya kasih Rp50.000. Si masnya bersikeras mau kembaliin uangnya, tapi saya bersikeras juga nolak. Trus bapak bisikin ke saya, “bilang aja kembaliannya buat infaq. Orang jujur seperti itu betul-betul amanah, dia ngga akan mau menerima uang yang bukan haknya”. Akhirnya setelah dibilang buat infaq, mas Bakri pun tersenyum. Oh Tuhan! Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Anyway lagi, saya sukaaaa tulisan bapak yang satu ini tentang Idul Adha dan Kemandirian Ekonomi. Salute buat Pak Ahmad, as always.

Alhamdulillah. Terimakasih Tuhan untuk perjalanan sampai hari ini. Semoga semua makhluk berbahagia. Happy Idul Adha bagi yang merayakan!

 

[Bogor. 18 November 2010]

[01.11 am]


About this entry