Kenapa Semuanya Harus Gara-Gara Perempuan?

….atau, kenapa semuanya harus gara-gara laki-laki? Vice versa. Sama aja. Atau mungkin lebih tepatnya, kenapa semuanya harus gara-gara cinta?

Guys, perlu saya beritahukan awal-awal, bahwa di sini konteksnya adalah pengaruh seseorang yang dicintai terhadap tindakan seorang individu dalam memilih jalan hidupnya. Dalam ranah fiksi tentunya, karena saya malas menelisik realita yang ada di sekitar saya—karena itu menyangkut individu-individu yang saya kenal.

Ada yang mengganggu fikiran saya setelah saya selesai menonton teater musikal ONROP. Bukan dialognya, bukan musiknya, bukan tariannya—apalagi sutradaranya. Tapi jalan ceritanya. Memang itu komedi satir, tapi tetap pesan utamanya adalah keyakinan akan cinta. Bram rela kembali ke Jakarta hanya demi Sari, perempuan yang dicintainya. Bram rela dibuang lagi ke pulau ONROP, asal bersama Sari. Seperti yang mereka nyanyikan berdua : “kalau ngga ada kamu, apa gunanya?”..Oh come on. Sebegitu naifkah dunia ini?

Saya mendadak kesal sendiri. Bukan karena ONROP. Bukan karena Bram, Sari atau Joko Anwar. Tapi kesal karena menemukan alur yang sama dalam setiap fiksi yang saya nikmati. Ya. Belakangan film-film dan teater musikal yang saya tonton semuanya semata-mata gara-gara perempuan—dan gara-gara laki-laki. Dan saya, yang notabene perempuan, entah kenapa tidak tersanjung dibuatnya. Mungkin karena itu fiksi. Mungkin.

Mari kita coba rinci. Mulai dari genre film drama seperti film The Social Network. Haha. Ujung-ujungnya Erica Albright juga ya ternyata? Lalu genre film cartoon hero Megamind yang juga demikian. Si penjahat labil yang bahkan jadi penjahat pun payahnya bukan main. Dan tebak, ujung-ujungnya dia jadi baik karena si Roxanne juga? Lalu genre film action, seperti SALT. Susah payah Jolie belajar menyamar menjadi spy profesional dari kecil, ujung-ujungnya dia jadi baik karena jatuh hati sama seorang laki-laki dan rela balik arah mengkhianati bos-nya demi laki-laki itu.

Atau mari kita tengok film negara tetangga. Sampai genre film hantu Thailand pun demikian. Film yang judulnya Alone, berkisah tentang si kembar yang rela membunuh kembarannya hanya demi laki-laki yang sama-sama mereka cintai. Oh come on. Ngga ada alasan lainkah? (Errr—btw, film ini sebenarnya rilisnya udah lama, saya-nya aja yang baru nonton belakangan ini. Hehehe). Atau film India deh, Slumdog Millionaire atau My Name is Khan. Padahal udah demikian bagus sinematografinya, eehhh.. ujung-ujungnya semuanya gara-gara perempuan juga.

Bahkan sampai film pendek juga begitu. Baru-baru ini saya nonton film pendek yang judulnya CINtA, garapan anak-anak IKJ. Dikisahkan A Su rela masuk Islam demi menikahi Siti, meski ujung-ujungnya mereka tetap tidak bisa bersama. Hmmm. Kalau mau dirinci, masih banyaaakkk yang ceritanya ujung-ujungnya gara-gara perempuan/laki-laki. Bahkan Forrest Gump pun kalau diperhatikan lagi, kamu fikir Tom Hanks bisa lari sejauh itu gara-gara siapa?

Situasi fiksi seperti ini membuat saya rindu film-film yang menakar cinta dengan pas. Tetep maknanya ’dalem’, tapi ngga berlebihan. Saya ingin menangkap pesan dari film-film bahwa orang yang kita cintai bukanlah satu-satunya alasan mengapa kita memilih jalan hidup yang sudah kita pilih saat ini.

Film Juno, misalnya. Dia memutuskan menitipkan anaknya pada sebuah keluarga bukan karena disuruh oleh laki-laki yang sudah menghamilinya. Atau film Sepet. Orked memang masih mencintai laki-laki itu tapi dia tetap berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan studinya. Atau film Eat, Pray, Love, dimana cinta datang dengan sendirinya tanpa penyambutan ritual berlebihan saat menyadari cinta itu datang. Dan Liz akan tetap menjadi Liz. Atau film pendek Kuda Laut, misalnya. Meski kedua orang gay tidak bisa bersatu karena struktur sosial yang ada, bukan berarti yang satu jadi bunuh diri karena ditinggal kawin yang satunya lagi, kan?

Aaaaahhh. Dunia kian absurd. Film-film yang ada, baik itu buatan Hollywood, negara-negara tetangga hingga yang buatan negeri sendiri, menyuguhkan fiksi yang lama-lama saya rasa alurnya sama, hanya ‘kemasan’ dan ‘genre’-nya saja yang berbeda. Tapi btw kaaannn. Tulisan ini cuma luapan keresahan hati dan fikiran saya saja. Film-film yang saya sebutkan di atas jelas tidak salah. Ini hanya soal selera. Pertanyaannya sekarang adalah : what’s wrong with this world or what’s wrong with me?

Kalau menurut kamu pertanyaan yang terakhir yang jadi masalah, sini mari saya kasih tahu. Saya sama sekali ngga iri sama perempuan dalam film-film di atas. Perempuan yang bisa sebegitu besar pengaruhnya dan bisa merubah jalan hidup seorang laki-laki yang jatuh cinta kepadanya. Saya juga pernah sebegitu jatuh cintanya sama laki-laki sampai dunia serasa milik berdua, ngga mau jauh lama-lama dan hampir mengorbankan segalanya demi dia. I’ve been there, bukan berarti saya ngga tahu gimana rasanya saat semuanya gara-gara laki-laki atau saat semua ujung-ujungnya gara-gara cinta. Mungkin kekuatan cinta memang bisa demikian dahsyat seperti di film-film yang saya sebutkan tadi. Dan di realita saat ini buktinya mungkin sudah banyak, ngga perlu menonton dari film kalau mau tahu soal kedahsyatan cinta.

Tapi saya, entah kenapa, saya tetap ingin mencoba rasional.

Maka saat ada seseorang menghampiri dan menyatakan cintanya pada saya sambil mengatakan : ‘sejak kapan cinta masuk akal?’. Teeeeettt! Wrong answer! Maka saya bersyukur Tuhan tetap mendiamkan tangan saya waktu itu dan tidak melempar asbak yang tergeletak di atas meja ke muka laki-laki itu. Saya betul-betul menghargai perasaannya. Tapi seperti yang saya katakan tadi, intinya adalah : what’s wrong with this world or what’s wrong with me? Karena kalau memang saya yang salah, patutlah jika sejak kejadian itu Tuhan menghukum saya dengan tidak mempersilakan saya untuk jatuh cinta lagi.

[Jakarta. 16 November 2010]

[1.31 am]


About this entry