Ceritanya Masih Jadi Wartawan.

Well, saya tahu saya telah melalui tahap transisi pertama dalam fase kehidupan saya yang baru bernama ‘working life’. Singkat cerita, tahap transisi pertama itu telah saya lalui, dengan cara resign dari Jurnal Nasional dan beralih ke Bisnis Indonesia. Meski pun sebenarnya saat itu saya hanya bisa pasrah, apakah Tuhan mengizinkan saya menjadi wartawan lagi atau tidak. Saya hanya mengikuti alurnya, terserah Tuhan, saya hanya bisa berencana.

And now, here I am. Masih di Jakarta, masih jadi wartawan, masih nulis soal ekonomi. Bedanya, mungkin di salary yang agak bertambah. Tapi yah namanya juga manusia, adaaaaa aja keluhannya. Semua serba tidak pernah cukup. Tapi jangan salah kira, saya mencintai pekerjaan saya. Dari dulu saya bercita-cita ingin menjadi wartawan, dan sekarang (Alhamdulillah) kesampaian. Tapi sebentar, itu kan jadi wartawan. Tapi ngga pernah ada cita-cita pengen jadi wartawan ekonomi, kan? Kan?!

Pada mulanya saya bingung gimana nulisnya. Tapi toh semua bisa dipelajari, lambat laun menulis berita ekonomi tidak sesulit yang dibayangkan. Ya gimana kitanya aja. Meski memang ada istilah-istilah yang sedikit memusingkan, tapi toh kan semuanya bisa dipelajari. Pelan-pelan. Bagi sebagian orang membaca berita ekonomi mungkin sangat membosankan. Apalagi bagi anak-anak muda. Ya, mana ada anak muda yang peduli kalo RUU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) sampe sekarang belom kelar-kelar. Mana ada anak muda yang peduli kalo jumlah penduduk Indonesia hasil Sensus Penduduk 2010 itu mencapai 237,6 juta jiwa. Mana ada anak muda yang peduli betapa hebohnya DPR dan pemerintah ngebahas soal APBN 2011, terutama soal pembatalan kenaikan TDL tahun depan. Mana ada anak muda yang peduli kalo volume BBM bersubsidi dari tahun ke tahun terus membengkak, sementara kamu-kamu masiiiihh aja make premium dan bukannya pertamax. Mana ada anak muda yang peduli soal utang kita dari tahun ke tahun yang sebenernya makin membengkak. Mana ada yang peduli soal jalanan di ibukota atau di daerah kalian, yang lagi rame-ramenya diaspal dan baru dicat akhir-akhir ini, padahal itu lagi ngabisin anggaran tahun ini aja, sebelum keburu tutup tahun. Coba bilang sama saya, siapa yang peduli?

Anak-anak muda jaman sekarang lebih peduli ngomongin konsernya David Foster atau The Temper Trap yang sebentar lagi dateng ke Jakarta. Mereka lebih demen ngomongin BB baru mereka. Mereka lebih demen ngomongin cowok mereka masing-masing yang tingkahnya ngga karu-karuan belakangan ini. Mereka lebih demen ngomongin soal rencana hang out malem minggu ini mau nonton apa atau mau dinner dimana. Mereka lebih demen ngomongin dress cute Zara yang lagi sale di Grand Indonesia atau di Pacific Place. Iya kan?

Saya ngga nyalahin mereka, ngga. Itu wajar banget, dan ngga salah apalagi dosa. Saya sendiri kadang-kadang heran, trus kenapa malah saya yang sibuk sendiri sama negara??

Arrrrgghhhh. Sejak jadi wartawan, saya jadi ngga bisa berhenti mikir.

Sejak bekerja, saya betul-betul baru menyadari status baru saya sebagai Warga Negara Indonesia. Yang mesti bayar pajak. Yang mesti nurut sama kuasa pemerintahan yang ada sekarang, termasuk Presidennya. Yang mesti dengerin bualan demi bualan anggota DPR kita di Senayan sono. Helooo? Gedung DPR miring? Iye, sama miringnya sama idup lo. Studi banding etika parlemen sampe ke Yunani? Helooo?? Ziarah kubur filsuf-filsuf di sono aja sekalian pak. Studi banding pramuka sampe Afrika Selatan? Sekalian liatin seragamnya, sama coklatnya ngga sama di sini? Liatin sekalianlah sama jenis topi pramukanya, jenis tongkatnya, sampe cara tali-temalinya. Sekalian aja liatin sandi morse sama sandi semaphore-nya sama apa beda sama yang ada di sini..

Arrrrgghhhhh. Kenapa kita bisa menggulingkan Presiden tapi ngga bisa menggulingkan wakil rakyat? Heran. Padahal tiap rapat di DPR itu juga ngga pernah satu komisi itu penuh, ngga pernah anggotanya hadir semua. Kenapa wakil rakyat ngga dibikin syarat minimal S3? Biar otaknya juga mendingan dikit. But don’t get me wrong. Ngga semua anggota DPR saya benci. Saya respect kok sama anggota DPR yang emang sudah berkecimpung di bidang politik dari dulu, misalnya pernah jadi Ketua Osis pas SMA atau jadi Ketua Senat Mahasiswa pas kuliah. Atau yang background pendidikannya emang di FISIP. Ngga tiba-tiba mentang-mentang punya duit terus maju aja gitu jadi anggota DPR.

Eh bentar. Tuuuu kan. Mikir lagi deh. Hppppffffhhhh.

Mungkin ngga banyak yang peduli. Tapi saya peduli sama negara ini (terutama sejak bekerja). Basic-nya sih saya pengen tau aja, gimana sih sebenernya negara ini ’dijalankan’. Dan pelan-pelan saya mengerti. Bahwa di Bappenas itu udah ada lho rencana pembangunan kita sampe 2014. Bahwa PDB kita tahun 2011 diprediksi meningkat sampe Rp7.000 triliun. Bahwa penting untuk menekan inflasi, karena kalo ngga, uang Rp100.000 yang kalian pegang sekarang bisa aja ngga berarti lagi di tahun depan (kalo sekarang Rp100.000 masih bisa makan sepuasnya, tahun depan belom tentu cukup buat dine in di restoran steamboat). Saya respect lho sama orang-orang yang masih mau mendapat amanah menjadi Menteri atau Gubernur atau Bupati yang benar-benar bersih, rela ngga kumpul sama keluarganya demi ngurus negara, demi menghadiri rapat demi rapat bersama Presiden dan DPR (terlepas dari jatah menteri akibat koalisi dan sebagainya). Saya juga respect sama LSM-LSM yang terus mengkritik kinerja pemerintah (meski kadang kelewat idealis juga).

Tapi emang saya paling ngga suka sama mahasiswa Indonesia. Maaf, tapi orang paling sok tahu di dunia ini saya rasa yaaa mahasiswa Indonesia. Mereka mungkin keblinger karena sejarah pernah membuktikan bahwa aksi mereka pernah berhasil menjatuhkan rezim Soeharto. Akhirnya yaa demo-demo mahasiswa akan terus kita saksikan di hari-hari mendatang. The point is, lo ngga akan bisa menyelesaikan masalah hanya dengan demo. Oke, lo boleh demo di Jakarta, terutama biar suara lo lebih didenger daripada kalo lo demo di Papua, misalnya. Tapiiiii. Pilihannya cuma satu cuy, kalo lo mau nyelesaiin masalah, better you enter the system or else you won’t get any change that you want. Lo ngerasa Darwin Saleh ngga becus jadi Menteri ESDM? Cari buktinya, jangan cuma ngomong aja. Atau berjuang biar bisa jadi anggota Komisi VII DPR biar lo bisa mencecar Darwin nantinya. Atau lo ngerasa lebih baik dari SBY? Oh come on. Lo pikir jadi Presiden itu gampang? Lo ngerasa Fauzi Bowo ngga becus ngurus Jakarta dan rasanya pengen nyabutin kumisnya sehelai demi sehelai? Well, kalo lo warga Jakarta, tentunya lo bisa menggunakan hak pilih lo yang kemaren itu dengan sebaik-baiknya kan? Atau lo ngerasa media di Indonesia terlalu ngompor-ngomporin soal Indonesia-Malaysia? Kalau saya, at least I chose to enter the system. Saya masuk dunia media dan berusaha merubah gaya penulisan soal kasus negara serumpun yang tidak berkesudahan ini. Heran, katanya benci sama Malaysia, trus sendal Vincci lo apa kabar? Foto-foto holiday lo di Genting Highland itu gimana ceritanya? Akui sajalah bahwa pembangunan ekonomi mereka, terbukti mulai dari pertumbuhan ekonomi, peringkat daya saing, jumlah penerimaan pajak hingga tingkat konsumsi baja dan konsumsi jalan tol mereka masih jauuuuhhh di atas kita. Jadi kapan Indonesia majunya? Dimana yang salah? Sampe kapan TKI kita terus berbondong-bondong kesono?

Tuuuuu kannnn. Mikir lagi.

Anyway, saya ngga membela siapa-siapa dalam tulisan ini. Dari tadi saya ngoceh semata-mata cuma ngungkapin pendapat pribadi aja. Semoga ngga ada yang tersinggung dan ngga ada yang berniat memanggil saya ke pengadilan. So, kita damai kan?

Enaknya jadi wartawan itu sebenernya cuma satu, kita bisa terus belajar hal-hal baru setiap harinya. Itu aja. Dan doa saya setiap hari cuma satu, semoga saya diberi kesehatan jasmani dan rohani agar bisa menjalani aktivitas menulis setiap harinya dengan baik. Itu aja.

Terimakasih semesta untuk perjalanan sampai hari ini. Semoga semua makhluk berbahagia.

[Jakarta. 27 Oktober 2010]

[10.32 pm]

Ps : Nantikan tulisan saya mengenai APBN 2011.. Oh Tuhan, izinkan saya menyelesaikannya! Arrgghhh!!


About this entry