Selamat Setengah Abad, Pak!

Memasuki semester kedua setiap tahunnya yang dimulai setiap bulan Juli, saya sekeluarga selalu bersiap-siap menyambut bertambahnya umur dari masing-masing anggota keluarga. Deretan hari ulangtahun kami selalu berderet dari mulai bulan Juli-Agustus-September-Oktober. Di bulan Juli ada saya, bulan Agustus ada bapak, bulan September ada adek, dan bulan Oktober ada mamah dan aa. Tahun ini, tidak ada yang spesial dari hari ulangtahun kami berlima; kecuali bapak. Karena tahun ini, bapak memasuki usia barunya yang kini mencapai setengah abad alias 50 tahun.

Dalam rangka menyambut umur barunya ini, saya berencana membuat satu tulisan utuh tentang bapak. Yah, anggap saja seperti kado dari anaknya ke bapaknya. Huehehe. Meski kado yang benernya sudah kami (saya dan aa) berikan, tapi saya tetap ingin meneruskan tulisan ini yang sebenernya juga udah lama terpendam.

Memetakan sosok dan karakter bapak selalu membuat saya bingung bagaimana mendeskripsikannya. Yang saya tahu, dia adalah salah satu sosok bapak luar biasa diantara sosok bapak-bapak yang lain yang ada di dunia ini. Ya, sosok luar biasa itu saya yakin juga ada di diri bapak kamu dan bapak-bapak mereka.

Sebagai anak terakhir dari enam bersaudara, bukan berarti bapak mendapatkan semua yang diinginkannya dengan mudah. Bapak tetap dididik dengan gaya sedikit militer dari kakek yang tentara AURI dan keturunan Jawa. Lahir dan besar di Tasikmalaya hingga SMP, bapak kemudian ikut abangnya hijrah ke Bogor untuk meneruskan pendidikan. Well, menurut seorang dosen yang saya kenal, orang Sunda yang dikenal suka berpetualang layaknya orang Padang itu adalah orang Tasik, Garut dan Ciamis. Jadi, pindah-pindah sepertinya memang sudah tradisi dalam keluarga kami.

Bapak ditinggal kakek saat duduk di bangku SMA di sebuah sekolah kejuruan kimia terkenal di Bogor. Meski demikian, nenek selalu berpesan bahwa pendidikan itu nomor satu, jadi bapak tetap tinggal di Bogor hingga dia menyelesaikan pendidikan S1-nya di salah satu perguruan tinggi swasta. Tapi seinget saya, bapak selesai kuliah hampir 6 tahun karena mesti sambil kerja. Bahkan, pas wisudanya aja si mamah udah ngegendong aa, si anak pertama. Di masa-masa SMA-nya lah bapak bertemu mamah, kemudian menikah di usia yang tergolong telat pada ketika itu, yakni 24 tahun. Yeah, cinta bersemi dari SMA. Hijrah ke Bogor ternyata malah ketemu jodoh. Huehehehe.

Berangkat dari penghasilannya ketika itu, keluarga kecil itu berusaha survive. Bapak terus bolak-balik Bogor-Jakarta dan menolak dipindahkan ke Kudus. Bapak juga ngga melarang mamah bekerja. Akibatnya kami bertiga mengalami beberapa kali pergantian pembantu di rumah dan makan makanan catering. Tapi kami bertiga ngga merasa keberatan. Dari lahir aa, kemudian saya, dan si adek, kami menempati rumah yang terus berpindah-pindah di area kota Bogor sebelum menempati rumah yang sekarang. Bapak pun mendidik kami ala Hitler campur Soekarno. Diktator, tapi demokratis.

Waktu kecil kalau kami nakal, bapak ngga segan-segan mengunci kami di kamar mandi hingga kami mengigil kedinginan dan masuk angin. Meski kami sudah memohon ampun sambil nangis-nangis, tapi itu pintu ngga semudah itu bisa dibuka. Bapak juga ngga segan-segan untuk menjewer kuping kami. Bapak ngga pernah mengabulkan keinginan aa sama adek untuk punya playstation, karena takut anak-anaknya pada ketagihan maen sampe lupa belajar. Barbie saya dulu pun yang beliin itu si mamah. Gitar adek pun yang beli si mamah. Tapi kami dari kecil udah diperkenalkan sama komputer oleh bapak. Tapi belom pake internet yaa, jaman segitu kan speedy belom ada. Hahahaaa.. dan oh iya, bapak selalu punya panggilan semacam siulan gitu yang dipake khas untuk manggil anak-anaknya. Yes, kadang dia lebih suka manggil kami dengan cara itu dibanding manggil nama-nama kami. Hahahaha..

Meski begitu, bapak ngga pernah meminta kami menuruti kehendaknya. Dia selalu ngebebasin kita buat jadi apa aja yang kita mau. Dia selalu berusaha mendukung dari sisi finansial mau pun memberi kami wejangan-wejangan. Segala kebutuhan kami pun berusaha dia penuhi. Mulai dari buku teks yang mahal-mahal sampe les Bahasa Inggris. Mulai dari piknik ke Taman Safari, sampe ngajak kami jalan-jalan ke Thailand. Bahkan, sampe menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri (well, Malaysia itu masih luar negeri lho ya, meski beda-beda tipis sama Indonesia).

Semakin ke sini, saya mencoba mengenal bapak bukan hanya sebagai seorang bapak dari anak-anaknya, tetapi juga sebagai suami dari ibu saya. Bapak berhasil membuktikan pada mertuanya, bahwa dia bisa menghidupi istri dan anak-anaknya. Bulan madunya aja ke Bali cuy.. Bayangin, waktu itu padahal tahun 80-an dan dibela-belain ke Bali naek kapal lewat Gilimanuk. Bapak juga betul-betul pengen mamah sembuh total dari Anemia Aplastic, mulai dari cari transfusi darah dini hari, sebulan merawat mamah di RS PGI Cikini, sampe berencana membawa mamah ke rumah sakit di Penang yang ngga kesampean karena mamah keburu dipanggil Tuhan. Belakangan saat mamah udah ngga ada, kebayang rasanya gimana caranya membiayai ketiga-tiga anaknya yang sama-sama lagi kuliah, sendirian pula…

Secara pribadi dan personal, ternyata dia memang mempesona dan cerdas. Ketika jaman SMA dulu, bapak pernah menjabat sebagai Ketua OSIS. Whewww. Padahal sekarang, ngga ada satu pun dari anak-anaknya yang mengikuti jejaknya ketika kami SMA dulu. Minat bapak terhadap seni, sastra dan musik begitu besar. Seni fotografinya nurun ke si aa. Minat menulis dan sastra nurun ke saya. Hobinya bermain musik dan mendengarkan beraneka ragam lagu, nurun ke si Ariel. Dia yang pertama kali memperkenalkan Da Vinci Code ke saya. Dia yang membelikan saya buku-buku Harry Potter. Bahkan, hingga kini dia masih berupaya menambah wawasan dan pengetahuannya dengan membaca Gajah Mada dan buku-buku lainnya. Diskusi serta adu argumen sama bapak begitu menyenangkan. Ngobrol sama bapak, seperti masuk ke sebuah perpustakaan. Pengetahuannya begitu luas. Dari mulai sains, literatur sampe politik. Bayangin aja, tahun 80-an anak-anaknya udah dinamain nama aneh-aneh mulai dari Oscar, Vega, Ariel yang semuanya diambil dari nama bintang. Belum lagi soal gadget dan internet, lebih pinter dia dari kami-kami ini.. Hahahaha..

Oh iya, dulu bapak pernah bilang pengen nerusin S2 filsafat. Tapi sekarang entah keinginan itu masih ada atau tidak. Di usianya yang menginjak 50 tahun saat ini, saya rasa sudah sewajarnya dia memakai pulpen Mont Blanc, pake parfum Calvin Klein, pake kemeja Armani atau pake sepatu Hush Puppies; layaknya bapak-bapak lain seusianya. Bukan bentuk sombong, tapi lebih kepada memberi penghargaan kepada diri sendiri atas jerih payahnya selama ini. Tapi ternyata dia ngga pernah doyan sama yang begituan. Untuk makanan pun, dia lebih suka menyantap soto bogor, sop iga dan sejenisnya, malah ngga doyan sama masakan Jepang apalagi steak American.

Meski demikian, sebagai individu biasa, tentunya bapak juga memiliki banyak kelemahan. Dia hanya mencoba menjadi bapak yang baik untuk anak-anaknya. Dan kami, ngga pernah meminta lebih karena yang dia berikan sudah sangat sangat cukup.

Di usianya yang menginjak 50 tahun, dia masih tetap Agus Supratno yang hobi banget ngerokok. Yang rambutnya gondrong, kadang diiket, beruban tapi ngga pernah dicat item. Yang perutnya buncit. Yang lebih seneng kemana-mana pake celana pendek, kaos sama sendal. Yang masih tetep butuh kacamata buat baca koran.

Selamat setengah abad, pak! [21.08.2010] Semoga bapak bisa tetep sehat, panjang umur sampe kami-kami udah pada kawin dan punya anak… nanti soal pensiun trus mau ngapain, ntar kita pikirin bareng-bareng aja ya.. hehe..

Maap kalo anak-anakmu ini prestasinya begini-begini aja, sering nyusahin, apalagi yang anak perempuan ini udah satu-satunya tapi tetep aja paling manja dan ngga bisa bersikap manis kaya anak perempuan lainnya.. hehe..

We love you, Dad!

[RS Azra, Bogor. 22 Agustus 2010]

[01.11 AM]


About this entry