Saya dan Pentas Musikal Diana.

Selalu ada sisi personal saya yang tersentuh, setiap kali saya menikmati karya-karya yang merupakan produk dari budaya popular. Entah itu buku, lagu, film, atau sebuah pertunjukan teater musikal. Setelah saya menikmati karya-karya tersebut, efek sampingnya bisa bermacam-macam. Saya bisa tiba-tiba penasaran setengah mati sama sosok Lintang setelah saya membaca Laskar Pelangi. Saya bisa terus mendendangkan lagu Boulevard setelah mendengar pengamen menyanyikannya begitu syahdu di dalam bis. Saya bisa mendownload seluruh lagu-lagu yang ada di film Across The Universe atau film Once setelah menontonnya. Saya bisa terus terngiang-ngiang dialog yang begitu mantap dari film Before Sunset setelah selesai menontonnya. Bahkan, akhir-akhir ini fikiran saya terus terusik dengan keberadaan satu band legendaris tanah air : Koes Plus.

Berkat pemberian tiket dari seorang teman yang menganggap serius status saya di facebook suatu hari dahulu, akhirnya terpenuhilah doa saya yang sangat sangat ingin menonton Pentas Musikal Diana : Rahasia Hatiku. Bahkan, saya menontonnya di hari premier! Waduh, Tuhan memang MahaBaik. Excited? SUNGGUH! Saya gembira bukan kepalang hari itu.

Dengan harga tiket yang dibandrol Rp 500.000-Rp 2.000.000, tentu saja saya berfikir dua-tiga kali untuk membeli tiket meski saya sangat ingin menontonnya. Maklum, saya termasuk jenis orang Indonesia yang sebenarnya butuh hiburan yang berkualitas, namun ketika sudah berhadapan dengan harga, maka yang lebih difikirkan tentu adalah kebutuhan primer. Hehehe.

Okay, lanjut.

Sebagai salah satu fans-nya Garin Nugroho, saya kebelet banget pengen nonton pentas musikal yang disutradarai oleh beliau ini. Kalau film panjangnya dan iklan-iklannya di TV, saya sudah pernah nonton. Tapi ini nonton pentas musikal garapannya Garin? Belum pernaaahh. Dan saya penasaran banget. Film Garin yang terakhir saya tonton itu film Generasi Biru yang menggandeng Eko Supriyanto sebagai koreografer. Dan kali ini, Eko juga diajak kolaborasi lagi. Pentas musikal ini juga menghadirkan penari-penari dari Civitas Academica Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Sepertinya khas Garin banget, dia bener-bener memberdayakan SDM dalam negeri terlebih para pelajar. Bukannya menggunakan jasa dance company yang sudah ada.

Dan yang juga penting, yang nulis naskahnya itu wartawan senior Kompas, Bre Redana bareng sama penulis cerpen, Agus Noor. Makinlah saya penasaraaaannnn. Oh iya, pentas musikal ini juga untuk memperingati ulang tahunnya Kompas yang ke 45 (pada 28 Juni lalu) dan untuk memperingati 50 tahun Koes Plus berkarya (bulan Juli ini).

Dan setelah saya selesai menonton… satu kata yang bisa saya ungkapkan : COOL!! Meriah dan megah! Totalitas sebuah pertunjukan yang benar-benar memanjakan mata dan telinga kita. Dan yang lebih penting, memanjakan hati kita. Sehingga, kepuasan yang terjadi pun bener-bener maksimal.

Kalau buat saya pribadi, bentuk apresiasi saya terhadap sebuah karya seni, ngga ada kata-kata yang lebih saya sukai selain kata Cool alias Keren itu. (Well, kadang-kadang make kata-kata awesome juga sih). Saya sendiri, lebih menyukai teman-teman saya berkata ”tulisan lo keren!” dibanding ”tulisan lo lumayan, bagus!”. Hehehe.

Lantas, kenapa keren? Di mana letak kerennya?

Pemainnya dulu deh, ternyata akting mereka keren. Nyanyinya juga, narinya juga. Kalau Ariyo Wahab mungkin ngga perlu diragukan lagi. Tapi Nindy, Sheila Marcia sama Andy /rif? Well done! Good start! Jalan ceritanya sendiri meski agak klise, tapi disajikan secara utuh, ngga menggantung. Kostumnya juga keren! Eye-catching banget! Dan yang saya penasaran sampe sekarang, itu sepatunya Nindy beli dimana sih.. lucu bangeettt. Hahahaha..

Yang ngga kalah seru, propertinya! Ada biola segede gaban, lonceng yang besar, telepon jumbo sampe koper yang segede alaihim.. COOL! Pantesan diadainnya di JCC. Kalau diadain di TIM atau GKJ, pasti ngga akan muat di panggung tuh.. Koreografinya juga mantep. Pelajar-pelajar dari ISI mahir menguasai pentas dan ngga kelihatan canggung lagi. Dan musiknya… LIKE THIS! Yockie Suryoprayogo selaku sutradara musik sukses bikin lagu-lagu Koes Plus tetep kedengeran rock and roll, ngga cengeng dan syahdu abis. Bonus penampilan Once, iringan orkes Sa’Unine pimpinan Oni Krisnerwinto, paduan suara pimpinan Aning Katamsi dan duet gitar Eet Syahranie bareng Tohpati… lengkap, lengkaaapp!! Pentas musikal Diana bener-bener menyajikan paket pertunjukan yang lengkap! Garin sepertinya tahu persis bagaimana membuat penonton puas. Pertunjukan sekelas Garin, memang terasa banget bedanya.

Banyak lagu-lagu Koes Plus yang baru saya dengar di sana. Lagu kelelawar, misalnya. Saya baru tahu kalau ternyata itu lagunya Koes Plus.. hehehe. Trus ada juga lagu-lagu lainnya yang asing di telinga saya kaya Sweet Memories, Hari Ini dan Nanti, Lonceng Kecil, Nusantara bahkan lagu Da Silva. Dan setelah usai menonton, saya langsung mendownload satu per satu lagu Koes Plus yang dimainkan di sana. Dan saya masih terus terngiang-ngiang lagu itu sampai sekarang, terutama lagu Tambah Satu yang dinyanyikan paduan suara pimpinan Aning Katamsi pada saat scene Nindy (sebagai Diana) lagi jatuh cinta. Duuhh.. suka banget lagu ituuuu.

Saya dan Koes Plus memang beda generasi. Mungkin mereka seumuran sama kakek saya (seandainya beliau masih hidup saat ini). Pada saat lagu Dara Manisku lagi populer pun, bahkan bapak saya masih SD. Hueheheh.

Sebuah penghargaan untuk Koes Bersaudara plus Murry (jadinya Koes Plus), sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Mungkin masih kental dalam benak kita, album Salute To Koes Plus yang disusun oleh Erwin Gutawa tahun 2004 silam. Bapaknya Gita Gutawa ini memilih beberapa lagu Koes Plus, mengaransemen ulang lagunya, dan memilih beberapa artis untuk menyanyikannya kembali. Kini, lagu Andaikan Kau Datang versi Ruth Sahanaya bahkan sudah bisa kita dengar di mesin ATM Bank Mandiri.

Tapi setelah itu, bukan berarti seniman lain tidak boleh melakukan hal serupa bukan? Objeknya masih sama, masih Koes Plus. Tapi bentuk penghargaan terhadap legenda yang satu ini, bisa saja berbeda dengan bentuk penghargaan ala Erwin Gutawa. Dan kali ini Garin yang menyutradarainya dalam bentuk pentas musikal.
Koes Plus (1962-1987), adalah bagian dari sejarah di Indonesia. Oom-oom dan tante-tante saya, pernah tumbuh dewasa bersama lagu-lagunya. Sama halnya saya yang tumbuh bersama lagu-lagunya Sheila on 7, Padi, dan Nidji. Kita patut bersyukur karena musik Indonesia kita kaya akan variasi, dijejali beragam musisi dan itu patut diapresiasi. Dan bentuk penghargaan semacam ini tentu akan melahirkan suatu kebanggaan sendiri di benak masing-masing anggota Koes Plus. Penghargaan seperti ini tentunya lebih berarti dibanding predikat melalui pemberian trophy life time achievement dari festival musik mana pun di dunia. Mendengar Yok Koeswoyo kembali menyanyikan lagu Nusantara bergaung di JCC kala itu, sejenak membuat saya ikut bergembira dan larut dalam suasana.

[Kebon Sirih. 13 Juli 2010]

[02.53 am]


About this entry