Selamat Ulangtahun, Jurnas!

Sejak ada Pimred baru, buat saya, terasa sekali perubahannya. Ibarat kita lagi duduk anteng di belakang meja, tiba-tiba meja kita tuh digebrak kuat-kuat oleh orang lain. Di satu sisi kita kaget, terkejut. Tapi di sisi lain kita jadi ’sadar’, jadi ’bangun’.

Sejak ada Pimred baru, banyak perubahan terjadi di kantor. Redaktur di-rolling besar-besaran. Reporternya juga, meski tidak besar-besaran. Bulan Juni ini Jurnas merekrut 9 reporter baru. Reporter lama dan reporter baru dicampur, dan dikombinasikan sedemikian rupa pembagiannya antara reporter untuk cetak (koran) dengan reporter newsroom yang mengerjakan berita online. Ya, kalian ngga salah denger. Jurnas ada versi online-nya sekarang. Wohooo!

Pimred baru kami bilang, kelangsungan hidup media cetak jaman sekarang sudah harus ditinjau kembali. Di kebanyakan negara maju, media cetak sudah banyak yang gulung tikar dan beralih ke media online. Tapi buat saya, ada perbedaan ’feel’ dan ’comfort’ antara baca berita di screen HP sama baca koran yang secara fisik bisa kita pegang. Ini juga udah pernah dibahas di salah satu mata kuliah saya dulu bersama dosen dan teman-teman sekelas. Dan buat saya, lebih menyenangkan baca koran. Selain itu, walau bagaimana pun we do need printed articles. Kita tetap butuh koran sebagai arsip, dokumen, proof. Apalagi buat bahan research suatu hari nanti.

Tapi tidak bisa dipungkiri juga bahwa media online juga penting, mengingat kecepatan berita menjadi hal yang paling penting di era global seperti sekarang ini. Semua kini harus bergelut dengan waktu.

Pernah saya berkesempatan ikut tim marketing Jurnas presentasi ke salah satu (sebut saja) potensial investor untuk beriklan di Jurnas. Dan di situ ada salah seorang dari tim kami yang mengatakan bahwa bisnis media cetak, sebenarnya sama seperti bisnis sampah. Mengapa sampah? Karena koran itu umurnya hanya satu hari. Bahkan mungkin hanya beberapa jam. Habis dibaca pagi harinya, sore harinya mungkin udah bisa dijadikan alas duduk buat penumpang kereta api KRL Jabodetabek. Hmmm.

Okay, back to topic.

Akhirnya doa saya dikabulkan juga sama Tuhan. Akhirnya masing-masing dari kami difasilitasi sebuah HP baru oleh kantor. Pulsa udah dibayarin dan kami betul-betul tinggal make. Mendadak ada rasa bahagia yang membuncah dalam hati saya. Akhirnya kami mendapat bantuan dari kantor untuk mempermudah kerja kami. Mendadak ada rasa excited yang luar biasa. I do love challenges. Saya, apalagi teman-teman reporter yang baru, pasti merasa tertantang untuk bisa memenuhi kewajiban setoran reporter newsroom yakni 7 berita pendek dan 2 berita panjang untuk naik cetak. Saya juga dapat tambahan pos yakni Kemenkominfo, Kemenhub dan Kemenpera. Tiba-tiba saya napsu. Tiba-tiba saya excited luar biasa.

Jam kerja kami pun semakin jelas sebenarnya. Untuk reporter shift pagi, dari jam 7 pagi hingga jam 4 sore. Dan kami diwajibkan pulang ke kantor. Untuk reporter shift malam, dari jam 4 sore hingga 12 malam. Berita yang sudah kami tulis di newsroom, nanti akan diolah, dijahit dan ditambah-tambahin pengamat dan segala rupa oleh reporter cetak, biar beritanya makin mantep.

Tapi efeknya…

Saya ternyata tepar. Seminggu kemaren saya flu. Idung meler-meler, mata capek, dan batuk-batuk. Saya menyadari betul kapasitas saya. Saya rasa saya cukup mengenali tubuh saya, kapan saya rasa sehat dan kapan saya rasa udah overload karena terlalu diforsir, terlalu kerja rodi. Tapi saya ngga lagi mengeluh, ngga. Efek lainnya, saya malah kebingungan sendiri. Saya kebingungan, ternyata sebenernya saya bisa toh bikin 10 berita dalam satu hari (over dari yang diwajibkan). Meski cuma satu hari. Hehe. Maklum, kan ngga setiap hari rame agenda. Kalau lagi sepi yah sepi ajah.

Baru seminggu yang lalu sistem seperti ini diberlakukan, saya rasa sekarang saya butuh napas. Karena terkadang, makan siang pun terpaksa di-skip. Maklum, sebelum jam 12 siang harus udah ada 3 berita. Terkadang, saya memilih untuk tidak pulang ke kantor dulu dan terus menuju kosan karena udah kecapekan. Semoga korlip memaafkan saya. (Peace mas Timur…)

Anyway, buat saya yang statusnya reporter setengah lama dan setengah baru (karena belum juga genap setahun dan statusnya masih kontrak), sebenarnya intinya saya bersyukur ’dijodohkan’ dengan Jurnas. Jurnas memberikan paket pengalaman yang lengkap. Saya diberi kesempatan nyari isu sendiri, ngembangin pelan-pelan dan berkreasi sendiri dengan arahan redaktur tentunya. Saya juga diberi kesempatan buat nulis profil. Saya juga diberi kesempatan menggarap ulasan panjang di rubrik profit, pernah juga berkesempatan mewawancari narasumber bersama-sama redaktur dan wapimred saya ketika itu. Saya juga dikasih kesempatan nulis berita pake Bahasa Inggris, di sisipan Jurnas yang terbit sebulan sekali yang judulnya Indonesia Rising. Sampe akhirnya sekarang, saya belajar jadi reporter online. Komplit dah! Jurnas ngasih pembelajaran basic banget buat fresh graduate seperti saya yang ceritanya pengen jadi reporter.

Oh ya, sampe sekarang, ngga ada tuh ceritanya saya dimarah-marahin redaktur. Yang ada, mereka itu tegas. Dan pada dasarnya semua redaktur Jurnas bersahabat kok. Hehe..

Pada tanggal 1 Juni kemaren, Jurnas ulangtahun yang keempat. Dan ternyata oh ternyata, Pak SBY datang berkunjung ke kantor hari Kamisnya (3 Juni). Suasana kantor udah kaya orang gelar hajatan kawin. Ada tenda-tenda warna-warni, LCD screen, AC, podium.. kurang panggung sama organ tunggalnya aja nih, joget deh kita. Hehehehehehe.. Tapi kata orang kantor sih, semuanya disiapin sama orang Istana, dan kita udah terima beres. Saya sempat baca beritanya di detik, Pak SBY datang didampingi Menkominfo Pak Tifatul Sembiring. Pak SBY menghimbau agar pers bisa selalu menyediakan berita yang berimbang. Selain itu, kesejahteraan pers juga harus lebih diperhatikan (like this Pak!).

Kedatangan SBY kemaren itu juga sebagai launching perubahan logo Jurnas yang baru, yang dulu tulisannya warnanya biru, sekarang jadi hitam (jangan tanya saya kenapa, silakan tanya anak Jurnas yang lain). Kemaren itu juga kami wajib pake batik yang udah dibagikan ke satu kantor. Well, terlepas dari itu, memang tidak bisa dipungkiri bahwa Jurnas erat kaitannya dengan SBY. Jadi corong Demokrat atau apa pun itu labelnya, saya tidak begitu peduli sebenarnya.

Intinya mah, saya di sini kerja cuma buat nyari berkah. Nyari ibadah. Nyari sesuap emas dan berlian.. Saya ngga mau nyari musuh. Saya ngga pengen kerja tapi rusuh. Saya pengen kerja yang tenang. Saya pengen saya comfort kerjanya karena saya suka ngerjainnya. Semoga, ke depan saya bisa lebih menjaga kesehatan dan mencoba untuk me-maintain produktivitas. Ngga angin-anginan dalam membuat berita.

Alright then.

Selamat ulangtahun Jurnas! Meski nyari koranmu di loper koran tuh susah setengah mampus, tapi tulisan ini saya dedikasikan untukmu. Jasamu akan selalu dikenang.

[Kebon Sirih. 10 Juni 2010]

[01.17 am]

Ps: HP udah dikabulkan. Tinggal pindah kantor aja nih, dikabulkan Tuhan ngga ya? Hehehehehehe.. Amiiiinnnn 99x..


About this entry