Mencoba membaca ekonomi negeri ini.

Enam bulan sudah saya ditempatkan di desk ekonomi, khususnya di bidang Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dari mulai mengikuti Sofyan Djalil, hingga akhirnya mengikuti menteri yang baru, Mustafa Abubakar. Khusus Pak Mustafa, kebetulan saya dan beberapa orang teman media lainnya berkesempatan menunggui rumahnya ketika pengumuman nama-nama menteri Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II diumumkan malam-malam oleh Presiden SBY. Pengalaman yang unik, meski akhirnya hanya bertemu dengan ajudannya.

Anyway, terlepas dari siapa pun menterinya, perlahan-lahan saya mulai mengerti isu-isu BUMN. BUMN asetnya besar, ribuan triliun cuy. BUMN adalah pemain besar dan sangat berperan dalam menggerakkan perekonomian Indonesia. Ada beberapa BUMN yang sebenarnya sangat bisa bersaing di peringkat global. Ada beberapa BUMN yang diharuskan menghasilkan profit, ada juga yang tidak wajib karena kewajibannya dalam UU yang harus menjalankan perannya sebagai PSO atau public service obligation alias pemberi layanan masyarakat seperti PLN. Namun, seandainya nanti margin usaha PLN dikabulkan DPR menjadi 8 persen, PLN juga diplot untuk menghasilkan profit. Pertamina juga sekarang tidak lagi diplot menjadi penyalur BBM PSO satu-satunya. Desember kemarin ESDM menyatakan Petronas dan AKR menjadi pendamping Pertamina dalam menyalurkan BBM PSO. Tapi bedanya, Pertamina memang saat ini tercatat sebagai penyumbang dividen terbesar bagi pemerintah. Selain menjalankan kewajibannya sebagai penyalur BBM PSO, dia juga wajib setor dividen kepada negara.

Masalah yang esensial di bidang BUMN juga masih seputar itu-itu aja. Pernah saya bilang ke temen saya yang sama-sama ngepos di BUMN, kenapa kok kita sepertinya cuma ngurusin hal yang itu-itu aja? Ngga jauh-jauh soal isu beras, gula, pupuk, minyak goreng. Beras-gula-pupuk-minyak goreng. Itu-itu lagi. Dan—ohh. Juga soal pasokan gas. Dari tahun ke tahun, sampe 50 tahun mendatang sekali pun, saya yakin isu itu tidak akan pernah hilang. Kenapa? Karena hal itu memang menjadi hal yang paling esensial karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Tahun depan pasti kita ngalamin lagi yang namanya naiknya harga beras dan gula serta susahnya cari pupuk di pasaran.

Belakangan, saya juga ngepos di ESDM. Di sini ternyata lebih parah. Isunya bener-bener silih berganti dengan cepatnya. Tender gas di sini lah, isu blok Cepu lah, Donggi-Senoro lah, pengadaan trafo lah, meledaknya pom bensin Pertamina lah.. dan masih banyak lagi. Bukan cuma menterinya yang masih belajar, wartawannya juga sepertinya masih harus banyak belajar. Terutama saya, khususnya. Oh maaann, come on. Isu-isu seperti itu cepet banget silih bergantinya. Kita harus pantau terus. Otak saya stress dibuatnya. Dan sama seperti BUMN, isu-isu di ESDM juga ngga ada yang baru. Kecuali yah, mungkin soal pergantian direksi. Tapi kebijakan-kebijakan pemerintah, target-target serta statistik data Kementerian ESDM rata-rata yah gitu-gitu aja. Sama aja. Goal-nya dari dulu tentu sama, gimana caranya mewujudkan pengalihan dari penggunaan energi primer menjadi penggunaan energi yang dapat diperbaharui. Belum lagi soal keinginan kembali menjadi anggota OPEC. Tapi entah kapan terwujudnya.

Belum lagi soal ACFTA. Oh maaannnn. Beberapa pihak menilai renegosiasi itu penting, demi kelangsungan industri tertentu di dalam negeri. Beberapa pihak lainnya menilai, kenapa kita mesti takut bersaing dengan China? Isu ini mungkin lebih baik ditanyakan kepada wartawan yang ngepos di Perdagangan dan Perindustrian. Yang jelas, produk-produk dari China juga ngga banyak bermunculan di rumah saya. Palingan cuma dvd player sama tipi. Dengan kata lain, saya secara pribadi ngga terpengaruh-terpengaruh amat dengan adanya ACFTA ini. Dan saya yakin, temen-temen yang lain juga gitu. Masalahnya sekarang, produk kita di China sendiri gimana? Bisa bersaing ngga?

Dan soal bank Century. OMG. Di awal-awal karier saya dulu (ciyeeehhh), saya berkesempatan liputan paparan kinerja Bank Century yang mulai memetik laba. Saya masih inget Maryono dengan lantang menyapa temen-temen wartawan dengan “Selamat Pagi!”, padahal hari sudah beranjak siang. Mengapa? Dia bilang, di Century itu karyawan, terutama direksinya bekerja dari pagi hingga pagi lagi untuk membangkitkan kembali kinerja Bank Century. Hehe. Bisa aja nih Pak Maryono. Saya sungguh-sungguh tidak menyangka bahwa kini kasus Bank Century benar-benar jadi luar biasa besar. Terus menjadi headline di koran saya dan begitu juga di koran-koran lainnya. Saya kaget luar biasa. Dari mulai usul pengajuan hak angket DPR, hingga pembentukan pansus, sampai perebutan ketua Pansus.. drama ini terus bergulir, mengalahkan drama cicak vs buaya yang belakangan jadi redup. Bahkan, kasus Century menutupi kegemilangan Indonesia yang berhasil merebut posisi ketiga dalam SEA Games Desember lalu di Laos. Luar biasa, bukan? Untuk kasus Century, yang saya bisa harapkan adalah, semoga kasus ini cepat selesai, jangan ditunggangi kepentingan politik mana pun. Capek ngikutin isunya.

Selanjutnya, kebetulan saya belum ngepos di Menko Perekonomian, Kementerian Keuangan dan bursa. Isu-isu makro tentunya juga soal memperhatikan kebijakan pemerintah. Ngga jauh-jauh dari target pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar rupiah, indeks harga saham dan parameter lainnya. Begitu juga di bursa, ngga jauh-jauh dari IPO, naik-turunnya harga saham, utang, suku bunga kredit yang ngga turun-turun, target penyaluran kredit, buyback, rights issue dan yang lainnya.

Oleh karena itu, statement seperti “akan kita kaji”, “sedang kita godok”, “nanti akan saya pertimbangkan”, “tentunya kita mendorong semua untuk taat bayar pajak”, menjadi statement yang wartawan sudah malas mendengarnya. Tapi tentu saja, kita juga tidak bisa menanyakan “bagaimana caranya mengurangi BUMN rugi?”, karena tentunya itu memerlukan waktu dan jawabannya ngga bisa kita dapatkan keesokan harinya. Tentunya masalah itu tidak bisa selesai dalam satu hari. Tentu akan sangat tidak mungkin mengurangi jumlah BUMN yang 140 saat ini menjadi tiba-tiba 80 di keesokan harinya.

Tapi, terkadang saya juga mulai tidak mempercayai apa yang dinyatakan petinggi-petinggi negeri ini. Soal pergantian Dirut PLN misalnya. Saya menghormati jawaban “sedang dikaji apakah orang dalam atau orang luar” dan lantas saya berhenti bertanya soal kapan direksi itu akan dilantik. Tapi tiba-tiba.. JEDER! Tiba-tiba udah nyebar aja itu undangan pelantikan direksi, tanpa ada kepastian soal pergantian Dirut sebelumnya. Nanti ketika pergantian direksi Pertamina juga saya yakin bakalan kaya gitu. Kita tinggal tunggu aja undangan pelantikannya. Sepertinya ini udah jadi adat orang Indonesia. Sama seperti ketika Hanung dan Zaskia digosipkan pacaran namun mereka mengelak, ehhh ternyata tiba-tiba udah nikah ajah..

By the way, intinya, siapa pun menterinya, dengan kacamata positif kita harus terus mendukungnya. Memang, posisi menteri bukan untuk coba-coba. Tapi toh saya tetap angkat topi terhadap siapa saja yang berani memikul tanggung jawab sebesar itu demi kemaslahatan umat. Sama seperti pernikahan, kita tentu tidak sedang coba-coba menjadi suami atau istri seseorang. Kalau nunggu kesiapan, dijamin jawabannya bakalan ngga siap-siap. Alasannya macem-macem, dari segi mental lah, keuangan lah, dan lainnya. Tapi buat mereka yang udah berani berkomitmen demikian, saya juga salut dan angkat topi. (anyway, ini analogi aja yah.)

Akhir kata, intinya mah mari kita kerjakan tanggung jawab kita masing-masing aja. Yang menteri ya kerjain tugasnya, yang wartawan juga kerjain tugasnya. Semoga, tidak ada lagi dusta di antara kita. Saya akan terus menagih transparansi yang dijanjikan itu🙂

[Rawamangun. 20 Januari 2010]

[00.34 am]

ps: semoga, besok ngga ujan parah seperti hari ini. Semakin ujan, semakin males liputan. Sepertinya, akhir-akhir ini ujan dibenci para wartawan..


About this entry