500 Days of Summer : sebuah refleksi.

Guys, you should know upfront, this is NOT a film review.

 

Dari awal menonton film ini, semua orang pasti bisa nebak kalo si Tom Hansen jatuh cinta setengah mati sama si Summer Finn. Namun ternyata, Summer ngga jatuh cinta sama Tom. Tom patah hati karena statusnya selama ini hanya sebagai bestfriend-nya si Summer. Semuanya emang sempet hancur berantakan, tapi Tom berhasil bangkit dan continue his life, without Summer. Simpel kan?

 

Tapi sebenernya, banyak banget quotes dan pemikiran-pemikiran menarik yang bisa kita petik dari film ini. Dan oh! Soundtrack-nya juga keren-keren!! Outfit-nya Summer juga lucu-lucu!! (well, we’ll discuss about that later).

 

Ternyata ngga semua film drama Hollywood berakhir dengan happy ending. Wahai kalian para remaja dan pemuda-pemudi di seluruh tanah air, gw amat sangat menyarankan kalian semua menonton film ini demi kesejahteraan pemikiran kalian tentang relationship. I promise you this movie won’t appear as American Pie or The Notebook. No pompoms, no basketball, no overrated sex scenes, no lesbians, no strange disease and so on and so forth. But yes, there is a crying scene that would make your heart feels like you wanna cry too. Masih ingat film He’s Just Not That Into You? Dari sekian banyak love story di sana, gw rasa film 500 Days of Summer menjabarkan lebih detail tentang kisah si Scarlett Johansson dan Kevin Connolly di film He’s Just Not That Into You.

 

Jujur gw tertarik sama film 500 Days Of Summer ini awalnya dari tulisannya si Syefa yang bilang bahwa this movie is about how I should get over it, no matter how agonizing the pain of losing the (might be) one is—yang saat itu bener-bener ngena banget sama kondisi perasaan gw. Sampai akhirnya gw langsung nyari DVD-nya dan segera menonton film ini.

 

Dan benar saja. Salah satu pesan moral di film ini ya itu tadi. Gw belajar banyak dari film ini. Karena apa? Oh maaaann, baru kali ini gw nemu film drama Hollywood yang GW BANGET. Hahahaha… I mean, gw bisa bener-bener ngerasain apa yang Tom rasain. Gw hampir ikutan nangis nonton filmnya. Hati gw diam-diam ikutan maki-maki si Summer. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan si Tom, persis sama kaya yang gw tanyain ke dia dulu. Kebingungan-kebingunan yang dia rasain, gw pernah ngerasainnya juga. Bukannya ge-er atau gimana, tapi asli, gw bisa ngerasain apa yang Tom rasain. Biasanya kalo gw nonton film drama, gw mesti mencoba berandai-andai seandainya gw ada di posisi si pemeran utama dulu baru gw bisa ngebayangin gimana rasanya. Tapi di film ini, gw kayak nonton kisah gw sendiri. Meski posisi-nya justru kebalikannya, gw di posisi si Tom dan dia di posisi si Summer.

 

Let’s take a look. Summer ngga cantik-cantik banget. But she’s cute. She’s original. Tanpa tebar pesona pun, si Tom udah naksir sama dia. Atau lebih tepatnya—penasaran. Summer ngga percaya sama apa itu cinta. Dia ngga mau ada label pacarnya si A, atau pacarnya si B. Dia bilang, pacaran ujung-ujungnya bisa melukai perasaan seseorang, karena label itu tadi. But in fact, she has been in relationship before she met Tom. Nah, akhirnya Tom jatuh cinta sama Summer. I mean, they’re act like they are a couple, but they’re actually not. But there’s no commitment karena Summer udah bilang dari awal kalo dia ngga mau serius dan Summer udah nganggep si Tom ini bestfriend-nya. Lama-lama Tom pengen ada suatu label. Sumpah, wajar banget kalo dia minta pengakuan, gimana perasaan si Summer terhadap dirinya sebenernya. Dia ngga minta apa-apa. Dia cuma minta itu : kejelasan tentang statusnya. I mean, like Tom said : friends do not kissing in photocopy room. And friends do not do shower sex. Dan akhirnya, si Tom kesel sendiri.

 

Kenapa?
Karena Tom ngga bisa marah sama Summer. Karena Tom cinta Summer.

 

Tapi ternyata, Summer ngga pernah bilang I love you. Summer ngga pernah minta Tom jangan deketin perempuan lain. Tapi Summer had fun with him. They’re shared the same passion in The Smiths. She enjoyed spend her time with Tom. And I’m sure she did enjoy having sex with him. Waktu Tom nanya, what are we doing? Dia cuma bilang, “I don’t know. I’m happy, you’re happy. So who cares?” You know what, yang bikin kesel justru di situ, kan?

 

Masa sih dia ngga ngerasa udah nyakitin si Tom? Or let say, kenapa malah makin ngeladenin si Tom yang ujung-ujungnya seolah-olah ngasih harapan? Padahal, Tom udah ngasih semuanya ke Summer. Dia ngga cheat with another girl. Bahkan dia ngga pernah nyakitin Summer dan selalu mencoba ada buat si Summer.

 

Apa sih maunya si Summer ini sebenernya? Buat gw, yang dimaksud psycho yaaa mungkin yang kayak si Summer ini. Emotionless. Heartless. Pembunuh hati orang.

 

Coba liat apa yang Tom dapet? Patah hati. Hilang pekerjaan. Hilang harapan hidup karena dia ngerasa ternyata Summer itu bukan ‘the one’. Ngga adil kan? Sementara Summer bisa dengan enjoy-nya continue her life without anything important thing happened to her. Bahkan, akhirnya dia malah bisa nikah sama orang lain? Oh could someone please explain to me about what’s going on here??

 

Oh come on, Summer. You cannot simply say : “I think we should stop seeing each other.” Out of the blue, ngga ada angin ngga ada ujan. Minta ditampar ngga sih ni orang? I mean, you cannot simply say that to a guy that you know he has crushed on you, right? Contohnya gini deh. Ngga fair namanya kalo tiba-tiba kita minta putus sama pacar kita cuma dengan alasan : gw juga ngga tau, I just don’t love you no more. Iya kan? Oh come on, I just can’t stand that reason. I mean, what kind of reason is that? Atau simpelnya gini deh : “gw mau putus, tapi ngga tau kenapa, ya pengen putus aja”. Apalagi kalo ditambah embel-embel : mungkin jodoh kita cuma sampai di sini. Atau yang lebih popular, kalo jodoh ngga akan kemana. Oh God. Please. Sama kayak kasusnya si Summer waktu tiba-tiba ternyata dia mutusin buat nikah sama orang lain dan bukan si Tom. Karena dia ngerasa it just meant to be like that. Because with the other man, she’s sure of what she’s not sure when she’s with Tom—without elaborate what is she exactly mean. Haha.. Can you tolerate such thing?

 

Buat gw, kita ngga bisa tiba-tiba berubah mood gitu aja. Oke, contoh lainnya tentang kerjaan deh. Kita ngga bisa bilang, oke, tiba-tiba gw pengen berhenti kerja. Ngga tau kenapa, pengen kerjaan lain aja. Oh God.. bisakah semudah itu passion dan kecintaan lo terhadap dunia kerja lo berubah gitu aja? Menurut gw, jodoh itu harus diperjuangkan dan dipertahankan. Ikhtiar dulu (dalam hal ini I mean, buatlah komitmen awal dari pacaran dulu), baru tawakal. Ujung-ujungnya mau terus atau putus, ya mungkin itu memang sudah jalannya. I mean, that principle works for everything. Cari kerja misalnya. Banyak lamaran gw kirim kesana-sini. Itu namanya ikhtiar. Baru setelah itu gw tawakal, apakah gw akan diterima di tempat kerja idaman gw atau ngga. Dan kalo ternyata gw keterimanya di Jurnas, itu namanya gw jodohnya ya di tempat ini. Gitu kan logikanya?? I mean, bukan berarti gw ‘kebetulan’ diterima di Jurnas. Sama dengan jodoh.

 

Balik lagi ke 500 Days of Summer, kasian banget si Tom jadinya. Mentalnya ternyata lembek banget karena keburu nganggep dia udah ketemu sama soulmate-nya yang ternyata ngga jatuh cinta sama dia. Ini bener-bener ngga adil buat Tom, karena toh Summer pernah punya relationship before Tom. Sialnya, si Tom hadir di saat si Summer udah jera atau lebih tepatnya phobia sama yang namanya relationship, karena menurut dia, label kaya gitu malah bikin ngga comfort dan menyisakan duka di kala putus. Mendingan ngga usah ada label boyfriend-girlfriend dan menjalani hubungan apa adanya, yang penting dua-duanya happy. Bener-bener mirip prinsip dia banget… Oh God.

 

Okay, I think that’s all.

 

Another history telah tercetak dalam hidup gw, 500 Days of Summer : film drama Hollywood yang ceritanya (tumben) membumi banget dan ngena banget. Kenapa? Karena ternyata, film ini sama sekali ngga kebarat-baratan dan gw yakin ini bisa diaplikasikan di mana aja, bahkan untuk penonton di wilayah Asia Tenggara seperti Indonesia. Haha…

 

Intinya : gw tau banget gimana rasanya jadi Tom. Karena sekarang gw lagi mencoba melakukan hal yang sama, get over him. Arghhh—I feel like I must watch that movie again.

 

[Rawamangun. 18 November 2009]

[00.04 am]

 

Ps: anyway, 2012 is awesome. I know, I know. Later we’ll talk about that, okay?


About this entry