Serba-Serbi Pemilu Capres 2009.

Okay. First thing first. Let me make this clear.

Ilmu saya tentang politik Indonesia mungkin masih cetek alias dangkal banget. Saya menyadari sepenuhnya bahwa saya dibesarkan di era Orde Baru dimana nilai tukar Rupiah masih berkisar di nilai Rp 2500,- per US dollar. Dan saat itu segala sesuatunya masih nampak murah dan kehidupan saya masih kelihatan nyaman. Saat itu saya lebih peduli pada jam tayang Doraemon berbanding pemberhentian Soeharto secara tiba-tiba pada Mei 1998. Lalu waktu pun bergulir dan mengantarkan saya pada era baru : era reformasi. Kini umur saya telah cukup untuk mengikuti Pemilu Presiden di tahun 2009. Pemilu pertama dalam sejarah hidup saya. Excited? Of course. Saya tau bahwa buka Wikipedia aja ngga cukup untuk mengenali siapa sebenarnya calon-calon Presiden dan Wakil Presiden yang ada saat ini. Apalagi kalo cuma bermodalkan nonton iklan mereka di TV. Nonton Debat Capres, mungkin adalah salah satu kemajuan buat saya.

So, once again, it’s just a piece of writing. Anggap saja sebagai suatu rangkuman.

Tiga hari yang lalu, tepatnya hari Rabu, 8 Juli 2009, seluruh rakyat Indonesia berpartisipasi dalam hajatan nasional yang diselenggarakan setiap 5 tahun sekali untuk memilih pasangan Presiden dan Wakil Presiden yang baru. Tentu tidak betul-betul keseluruhan rakyat melainkan mereka yang telah berusia 17 tahun ke atas atau telah menikah. Pemilu (pemilihan umum) tahun ini adalah untuk memilih presiden Indonesia yang ke-tujuh dan wakil presiden yang ke-sebelas. Mari kita refresh kembali ingatan kita masing-masing bahwa presiden pertama itu Soekarno, lalu Soeharto, Baharuddin Jusuf Habibie, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati Soekarnoputri lalu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Namun ada yang berbeda dari pemilihan presiden yang keenam, yaitu SBY. Mengapa? Karena baru pada saat pemilu 2004-lah SBY tampil sebagai Presiden pertama yang dipilih langsung oleh rakyat. Itu artinya pemilu 2009 ini adalah pemilu kedua yang memilih Presiden dan Wakil Presiden secara langsung.

Okay, cukup prolog soal pemilunya. Sekarang, mari kita meninjau satu per satu pasangan Capres dan Cawapres di Pemilu 2009 ini.

Apa dan Siapa.

Siapa pun pasti udah tahu bahwa pasangan pertama Capres dan Cawapres adalah Megawati dan Prabowo. Lalu pasangan yang kedua adalah SBY dan Boediono. Dan yang ketiga adalah Jusuf Kalla (JK) dan Wiranto. Megawati adalah anak kedua presiden Soekarno sedangkan Prabowo adalah mantan menantu presiden Soeharto. SBY dan JK pula ternyata adalah menteri di kabinet Mega dulu. Wiranto adalah Jenderal yang berperan penting dalam era pemerintahan Soeharto dulu. Sedangkan Boediono adalah Menko Perekonomian sekaligus Gubernur Bank Indonesia era pemerintahan SBY. Dari sederet enam nama ini, masing-masing kandidat pasangan ada yang berasal dari militer (Prabowo, SBY dan Wiranto). Bahkan ada yang mendeklarasikan diri sebagai pasangan nusantara yaitu JK dan Wiranto (JK berasal dari non-Jawa sedangkan Wiranto asli dari Jawa). Masing-masing pasangan mempunyai programnya masing-masing. Ada yang sibuk mengadakan kontrak politik dengan para petani dan nelayan, ada yang sibuk muncul di media sana-sini menggembar-gemborkan kemandirian bangsa, ada juga yang kalem sambil mendekati korban TKW pelan tapi pasti sehingga semua masalah terkesan di-politiskan. Dan ya, termasuk soal kasus Prita Mulyasari dulu.

Adu iklan dan slogan kreatif.

Dari ketiga pasangan, jujur saya akui bahwa iklan-nya JK keren banget!! Empat jempol buat tim marketing-nya!!! Apalagi iklan yang ’banyak hal positif dari JK’, beuuhhh.. gokil. Sukaaaaaa banget. Hehehhee. Tim sukses JK sangat kreatif berbanding kedua pasangan yang lain. Saya jadi ikut mikir soal kemandirian bangsa, soal wirausaha, soal lebih cepat lebih baik.. hehehe. Dan seandainya saya termakan janji-janjinya Pak JK, toh bukan saya ini yang dosa kalo saya jadi percaya. Dan saya yakin tidak ada unsur kesombongan di setiap iklannya. Yang paling saya sebel ngeliatnya ya iklan SBY yang make lagu indomie itu. Hppffhhh.. bikin selera makan saya ilang kalo mau bikin mie. Iklannya Mega agak-agak annoying kalo kata saya. Ngga adil rasanya membandingkan harga BBM sebelum dan sesudah pemerintahannya Mega. Seluruh dunia juga tau kalau sekarang lagi krisis global.. Selain itu, menggunakan artis sebagai opinion leader iklannya, sama sekali ngga ngefek ke saya.

Debat Capres dan Cawapres.

Naahhh.. sekarang mari kita tinjau soal debatnya. Walaupun banyak yang bilang kalo debatnya terkesan jadi kaya cerdas cermat, adu pidato, terlalu santun, garing dan lain sebagainya, tapi buat saya Debat Capres dan Cawapres tetap berhasil menyajikan pertarungan ide yang proporsional tanpa harus gontok-gontokan. Dari situ kita bisa liat motif masing-masing pasangan maju sebagai Capres dan Cawapres. Saya ngga abis pikir aja kenapa Mega masih yakin maju menjadi Presiden lagi setelah tahun 2004 lalu kalah sama SBY. Seems like pahlawan kesiangan aja kalo menurut saya.. Hmm. Di setiap debat capres, beliaulah yang paling sering melewati batas waktu untuk menjawab. Jawabannya bertele-tele, ngga langsung ke intinya. Tapi jujur, beliaulah yang paling kelihatan nasionalis. Kalau soal integritas bangsa dan kemiskinan, beliaulah yang paling vokal bersuara. Ngga heran juga sebenernya, lha wong anaknya Soekarno.. Tentu beliau belajar banyak dari bapaknya. Kalau SBY, sangat pantas beliau maju lagi dan berniat melanjutkan performa kepresidenan yang baru lima tahun beliau jalankan. Saya melihat ketulusan yang luar biasa dari beliau. Seorang jenderal yang betul-betul mengabdi kepada rakyat. Kabinet Indonesia Bersatu di bawah pimpinan beliau so far nempatin the right man in the right place. Masing-masing menteri menjalankan tanggung jawabnya dengan baik. Resshufle kabinet yang dilakukannya sebanyak 2x semakin memantapkan susunan kabinetnya. Kasus-kasus korupsi so far banyak yang mulai terungkap. Program BLT (Bantuan Langsung Tunai), harga BBM yang berhasil diturunkan, sekolah gratis, konversi minyak tanah ke gas.. patut untuk dilanjutkan. Di setiap debat capres, satu hal yang saya stabilo-in pake warna pink menyala : he always takes notes. SBY selalu mencatat poin-poin pertanyaan dari moderator. Jawabannya sistematis, diplomatis, dan tentunya menjawab persoalan. Seorang jenderal yang juga seorang Phd, tentu memperlihatkan sosok lain dari seorang SBY yang juga seorang intelektual. Sedangkan JK, seorang pengusaha yang senantiasa optimis dan rendah hati, saya melihat bahwa beliau juga tulus ingin membantu bangsa ini. Tapi sepertinya beliau lebih melihat presiden sebagai sebuah profesi; puncak karier di mana kesempatan seperti ini amat sangat langka dan akan menjadi sejarah tersendiri jika beliau benar-benar terpilih menjadi presiden nantinya. Di setiap debat capres, mungkin jawaban beliau selalu loncat-loncat, muter-muter baru balik lagi ke inti persoalan. Tapi justru beliaulah yang meramaikan suasana debat. Debat menjadi hidup dan mulai seru tatkala dirinya mengeluarkan sindiran-sindiran terhadap Pak SBY. Huehehhee. Terus, kalo debat Cawapres gimana? Well, saya cuma nonton sekali dan itu juga pake acara ketiduran. Hehehe. Maap yah teman-teman. Tapi satu hal yang pasti, Boediono kelihatan menonjol berbanding yang lain. Walaupun ngomongnya terkesan sangat hati-hati, tapi jawaban beliau lah yang paling realistis.

Dan sekarang, hasil Quick Count (QC) telah menunjukkan bahwa SBY menang di atas angka 60%. Tanpa menunggu hasil penghitungan KPU (Komisi Pemilihan Umum) yang lamanya minta ampun itu, saya merasa bahwa hasil QC sudah cukup memberikan gambaran. Well, congratulations Pak SBY!

Akhirnya saya ’nyontreng!’

Sebagai warga negara yang baik dan udah melek politik, saya bertekad dalam diri saya bahwa saya harus ikut mencontreng. Selain karena ini adalah pemilu presiden pertama yang saya ikuti, saya juga ingin berpartisipasi membangun bangsa ini menuju ke arah yang lebih baik.

Dulu waktu masih bulan Juni, saya sempat kecil hati ketika mengetahui bahwa nama saya tidak terdaftar di DPT (Daftar Pemilih Tetap) di kelurahan karna nama saya masih terdaftar di KJRI Penang. Tapi saya tidak tinggal diam, saya berusaha untuk ‘mindahin’ nama saya ke DPT sini. Walaupun ternyata hal itu ngga bisa dikabulkan, Tuhan masih berbaik hati mengetuk hati MK (Mahkamah Konstitusi) untuk membuat keputusan yang mengijinkan warganya yang tidak terdaftar di DPT namun memiliki hak pilih, agar bisa tetep ikutan nyontreng dengan menunjukkan KK (Kartu Keluarga) dan KTP (Kartu Tanda Penduduk atau IC). Dan akhirnya, saya bisa menyumbang satu suara untuk JK. Huehehehe.

By the way, kenapa saya milih JK?

Saya mau memberikan sedikit pengakuan disini. Awalnya saya sangat tertutup soal pilihan saya. Contohnya waktu Pemilu Legislatif April lalu. Saya lebih memilih diam jika ada yang bertanya partai manakah yang saya pilih ketika itu. Tapi sekarang, saya memilih untuk lebih terbuka.

Kenapa saya memilih JK? Pertama adalah soal kesempatan; itu sebenernya alasan mendasar mengapa saya memilih JK. Yusril Ihza Mahendra dalam satu dialog di depan mahasiswa USM Desember lalu pernah mengatakan bahwa pemimpin kalau terlalu lama memimpin sebuah jabatan itu sebenernya ngga bagus juga (yang dimaksudkan oleh beliau saat itu adalah mantan presiden Soeharto). Dan saya fikir, mungkin ada benarnya juga. Belum tentu kalau dilanjutkan akan lebih cepat lebih baik toh? Masih inget waktu jamannya Soeharto yang berkali-kali terpilih lagi? Megawati dan SBY sudah pernah menjabat sebagai presiden. Mbok ya kasih kesempatan ke JK untuk berlaga di dunia kepresidenan. Hehehhe. Mungkin kesannya sepele dan terlalu main-main, tapi menurut saya justru ini penting. Toh jika seandainya kinerja JK terbukti tidak bagus, tentunya rakyat dan mahasiswa di seluruh negeri ini tidak pernah lupa akan sejarah bangsanya. Mereka tidak akan tinggal diam apabila melihat pemerintahan berjalan lambat dan cacat. Kedua, tokoh yang jadi panutan saya rupanya mendukung JK juga. Effendi Ghozali contohnya. Amien Rais juga pada akhirnya bersikap antipati sama Demokrat. Oleh karena itu, semakin mantaplah saya memilih JK. Ketiga, saya ingin menyertai program MAMPU-nya Pak JK. Huehehehe.. tolonglah pak, saya jadi pengen nerbitin majalah sendiri. Dan tentunya saya butuh modal. Huehhehehhe..

Anyway, walaupun berbagai hasil Quick Count menghitung bahwa JK berada di posisi paling buncit dan hanya memperoleh tidak lebih dari 13% suara, tapi saya tetep bangga bisa memilih beliau. Walau pun pada akhirnya nanti beliau kalah dan tidak berhasil naik menjadi presiden, JK tetap merupakan negarawan yang selalu menjadi teladan buat saya.

Sedikit analisis kenapa SBY menang.

Saya percaya bahwa ketiga-tiga pasangan Capres dan Cawapres semuanya niatnya baik. Tapi kemenangan (sementara) SBY menyimpan keunikan tersendiri. Saya salut bahwa ternyata suaranya menyebar luas bahkan banyak yang menang mutlak di daerah yang luar jawa sekali pun. Itu tandanya rakyat Indonesia udah banyak yang educated; tidak melihat perkara Jawa-nonJawa sebagai perkara yang serius lagi. Yang lebih penting adalah performa dan kinerjanya. Niat menjalankan pemerintahan yang bersih, kalau dipikir-pikir, memang itu yang paling penting. Percuma banyakin program ini-itu kalau manajemennya masih ngga beres. Beliau melihat inti persoalan bangsa ini bahwa ngebersihin ’mental’, sesungguhnya adalah hal yang paling crucial.

Well, siapa pun presidennya nanti, intinya mah saya mendukung siapa saja yang bisa cepet ngasih saya pekerjaaaaannn!!! Hahahahahhaa..

Guys, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus mengakui bahwa politik has been the most important thing in every country all over the world. Singkatnya gini deh. Dengan kita ikutan memilih, kita ikutan peduli dengan nasib bangsa ini 5 tahun ke depan. Jadi jangan mau enaknya aja pengen BBM turun, tapi giliran ada pemilu malah golput (golongan putih alias abstain). Selain itu, MUI (Majlis Ulama Islam) bilang golput itu haram lho.. Hehehe. Lima tahun sekali ini kok, apa susahnya sih ikutan nyontreng. Lagi pula ’ongkos demokrasi’ untuk menyelenggarakan pemilu ini tidak murah loh.. Presiden beserta MPR/DPR-lah yang membuat ongkos saya naek angkot berubah-rubah. Dulu cuma bayar Rp 500,- dan kini harus bayar Rp 2000,-. Mereka juga yang nantinya menentukan harga beras, yang lebih jauh akan berdampak pada berapa harga yang harus saya bayar untuk satu porsi Super Panas McDonald.

[Bogor, 11 Juli 2009]

[10.53 pm]

Ps: tulisan ini disusun berdasarkan pengamatan pribadi penulis dari berbagai sumber, tanpa adanya unsur paksaan dari siapa pun. Jika terdapat kesalahan fakta dan data, mohon dikoreksi. Mohon maaf jika terdapat perkataan yang menyinggung golongan orang tertentu. SUNGGUH penulis tidak berniat berbuat demikian. Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya. Amiiiiiiiiiiinnnn.


About this entry