Ketika cinta hadir saat semester terakhir.

Aku ngga pernah minta dia datang lagi. Aku asing; dia juga asing. Kita sama-sama asing. Aku ada hal lain. Dia juga ada hal lain. Kita sama-sama punya kepentingan yang lain. Bahkan ternyata, aku terlalu original; sementara dia ngga original. Tapi toh tiba-tiba, itu semua menjadi tidak penting.

Siapa yang sangka kalo kemudian rasa itu akhirnya hadir; menerpa diriku dan dirinya. Ngga perlu nyalahin siapa-siapa. Ngga perlu menyesali apa-apa. Karna semua terjadi begitu saja. Pelan tapi pasti. Menyusup ke relung hati. Mendobrak tanpa permisi. Lantas menjajah kapasitas hati.

Dan ketika cinta [benar-benar] hadir saat semester terakhir,

Aku tidak bisa berfikir. Logika mangkir. Konsentrasi jadi terkilir. Semua menjadi seperti drama satir. Emosi pun ngga stabil. Lalu melamun menjadi kebiasaan. Dalam diam, mataku berbinar. Dalam diam, senyumku mengembang. Dalam diam, jiwaku menerawang.

Dan sekarang,

Aku sudah bosan melototin kalender. Aku sudah bosan merhatiin jam dinding. Aku sudah bosan curhat sama angin. Aku sudah bosan kirim salam sama bintang. Aku sudah bosan meratap sama hujan.. rindu ini sudah terlanjur meradang.

Tapi giliran dering telepon berkumandang, tanganku gemetar sesaat. Lantas yang keluar malah.. ”Haa—aaii. Aa-aku se-haatt seh-haat aj-aa..”. (haduhh..)

Pernah suatu malam, dia hadir di mimpi.

Wah.. ternyata memang sudah kronis. Sampe masuk mimpi segala. Tapi apa kata dia nanti. Pasti dia fikir aku mengada-ngada. Berlebihan.

“…nobody said it was easy

No one ever said it would be this hard..”

100_7157

[Bogor, 19 Mei 2009]

[10.05 pm]

Ps: say, ternyata ini untuk kamu. Percaya atau ngga, ternyata aku punya keahlian meramal masa depan. Huehehehe.


About this entry