Film Cinta Ala Hollywood.

Terkadang, aku benci dibesarkan di tahun 2000-an seperti ini.

Ketika manusia benar-benar sedang menunjukkan taringnya. Ketika manusia bisa menjadi malaikat bagi seseorang. Namun di saat yang bersamaan, ada manusia lain yang menjadi iblis bagi seseorang. Ada yang membuang uang Rp100juta secara cuma-cuma dari atas pesawat. Ada yang membunuh orang secara berantai hingga 11 orang secara keji. Sungguh dunia ini semakin aneh.

Yang anda saksikan melalui layar televisi anda itu bukanlah film. Bukan, bukan. Itu kenyataan. Kenyataannya saja sudah seperti itu, apalagi di dunia fiksi seperti film. Dimana definisi malaikat-iblis, definisi baik-buruk, definisi cantik-tidak cantik, sampai definisi cinta-benci.. semua digambarkan begitu gamblang. Begitu sederhana. Begitu mudah.

Aku rindu film bertemakan cinta yang tulus. Cinta yang tidak mudah. Cinta yang tidak sederhana. Seperti film Romi dan Yuli; waktu jamannya Rano Karno masih ganteng dan Yessy Gusman masih aduhai. Walaupun konflik di dalamnya terkesan klise dan sedikit hiperbol, tapi filmnya jujur. Jujur menggambarkan keadaan saat itu. Dimana definisi cinta saat itu adalah jelas : saling mencintai, rela berkorban untuk orang yang kita cinta, dan mempertahankan rasa cinta itu walau apa pun yang terjadi.

Tapi sekarang? Sekarang, makna cinta ngga se-sakral dulu. Film-film sekarang bener-bener ngeracunin otak. Gimana ngga? Orang bisa dengan mudahnya ngomong I Love You, tanpa bener-bener mikirin apa dia bener-bener yakin bahwa apa yang dirasakannya itu bener-bener perasaan cinta. Orang-orang ngga pernah nimbang perasaannya mateng-mateng, apa bedanya rasa ’suka’, ’sayang’ dan itu tadi; CINTA. Film-film sekarang menebar ’keraguan’ dimana-mana. Bahwa ternyata, kedua insan yang udah mau akad nikah ternyata bisa tiba-tiba hari itu juga ngga yakin sama pasangannya, lalu pergi gitu aja dan ngga jadi nikah. Bahwa ternyata, keputusan untuk tidak mau menikah malah berujung pada ketidakyakinan terhadap pasangan. Karna menikah hanyalah perubahan status. Dan menikah bukan jaminan bahwa seseorang bakal lebih bahagia dan keadaan bakal lebih baik. Bahwa ternyata, orang yang udah menikah pun masih ngga yakin kalo pasangannya sekarang bukanlah jodoh yang sebenarnya. Bahwa ternyata, seseorang bisa mencoba menyelami perasaannya terhadap seorang gadis yang ngga sengaja ketemu di supermarket, padahal dia udah punya istri. Bahwa ternyata, seorang toilet paper guy yang udah cerai akhirnya malah kembali menelaah perasaannya terhadap seorang photocopy girl yang merupakan bagian dari masa lalunya. Well, kenapa makin kesini skrip film jadi makin aneh sih? Kalo untuk orang seumuran aku mungkin mending. Tapi please, untuk anak-anak yang masih sekolah, riskan banget kayanya bagi mereka untuk nonton film-film cinta dengan ’ideologi’ seperti ini.

Belum lagi soal isu orang ketiga. Sebenernya isu orang ketiga atau selingkuhan waktu jaman dulu juga udah ada. Tapi ngga se-ekstrim sekarang. Kalo lewat film-film jaman dulu, tetep ada pesan atau hikmah yang memang jelas mau disampein. Lha sekarang? Sepertinya kita malah mengamini kecurangan-kecurangan seperti ini. Sadar atau tidak, diam-diam kita mengangguk-angguk setuju dengan tindakan seorang tokoh dalam film seandainya dia memang selingkuh, lantas kebablasan tidur sama orang lain, tapi kita tetep teriak dalam hati bahwa dia berhak dikasih kesempatan kedua. Kita mengamini bahwa dia tetep masih bisa dimaafin seandainya kekasihnya betul-betul mencintainya.

Maka dari itu, mulai saat ini, mari lupakan kisah bagaimana bapak dan ibu kita masing-masing bertemu untuk pertama kalinya, lalu menjalin kisah cinta, hingga akhirnya ajal jua yang memisahkan mereka. Oh NO. Lupakan, lupakan. Percayalah teman. Aku rasa kita ngga akan menemukan kisah seindah kisah orang tua kita masing-masing di jaman sekarang ini. Karna sekarang, percaya atau tidak, kemungkinan kita untuk mengulang kisah itu adalah sangat kecil.

Sorry everyone. Mungkin ini gara-gara aku marathon nonton dvd akhir-akhir ini. Mulai dari Sex and The City, Vicky Christina Barcelona, Definitely Maybe.. sampe film terbaru : He’s Just Not That Into You. Tapi yang aku highlight teteuupppp film terakhir yang aku sebut tadi. Bener-bener film tentang ensiklopedi cinta. Bahwa ternyata mereka yang kebanyakannya sudah bekerja dan berumur 20something, masih suka bingung menebak-nebak apa maksud dari setiap perkataan, setiap gestures, setiap body language dari lawan jenis kita. Mereka aja masih suka keliru, apalagi gw?! Hahahahaa.

Tapi yang paling gw suka adalah tagline-nya.. “Are you the exception…or the rule?”

Well for me, I would loudly say.. I don’t know. Buat gw pribadi, jujur gw ngga pernah tahu. Tapi kalo boleh milih, gw pengen yang exception. Karna gw ngga gitu suka mainstream. Hahahahhaa.. Maaf, maaf. Inilah hasilnya kalo lo kebanyakan mengkonsumsi tontonan cinta-cintaan ala Hollywood. Would someone bring me back on the right track, please? Beware buat kamu-kamu yang masih sekolah ya. Tontonlah film-filmnya Teguh Karya atau P. Ramlee. Karena makna cinta masih sangat tulus di situ.

Kenapa?

Karena dulu, cinta ngga lahir di supermarket. Cinta ngga lahir di sebuah gang. Cinta ngga lahir di Barcelona. Cinta ngga lahir di Myspace.
Dulu, cinta lahir di tempat kerja. Cinta lahir di rumah sebelah. Cinta lahir di meja belajar di sekolah. Ooohh God. Betapa aku sangat merindukan originality..

[aman damai. 17 April 2009]
[04.32 am]


About this entry