Dunia Fahd, dunia kita juga.

acatinmyeyes

Kalo aja waktu itu saya tidak iseng membuka blog pribadi milik Dee (Dewi Lestari), maka ’A Cat in My Eyes’ ngga akan ada di tangan saya sekarang. Ketidaksengajaan itu telah menuntun saya membaca entri terbaru Dee kala itu; tentang karya seseorang bernama Fahd Djibran.

Saat itu saya berpikir.. gila, ni penulisnya bisa dapet pujian begitu bagus dari seorang Dewi Lestari! Pasti bukunya bagus nih! Kalo film istilahnya must watch, kalo buku ini must read! Secara, seorang Dewi Lestari bisa diajak ikutan ‘mikir’ setelah baca buku ini. Jadi makin penasaran kepingin baca tulisan-tulisannya Fahd. Tapi tunggu dulu. Ngomong-ngomong, Fahd Djibran itu..siapa?

Sebelum ngomongin soal Fahd, mending kita bahas dulu tentang karyanya : A Cat in My Eyes.

Waktu ke Gramedia, saya sedikit terkejut karena bukunya ngga masuk dalam tumpukan ‘buku baru’. Akhirnya saya langsung menuju bagian sastera dan.. tadaaa! A Cat in My Eyes ada di deretan rak paling atas. Ternyata buku ini tidak setebal yang saya bayangkan sebelumnya. Penerbitnya menggunakan kertas yang ringan dan berkualitas, bukan kertas koran. Untuk itu, saya sempat degdegan juga, jangan-jangan ni buku harganya mahal. Tapi ternyata ngga juga, harganya Rp 29.000,-. Affordable-lah, untuk ukuran sebuah karya sastera.

Setelah saya baca keduapuluh tujuh tulisannya, lagi-lagi saya terkejut. Buku itu selesai saya baca hanya dalam waktu satu hari. Oke—maaf saya berbohong. Lebih tepatnya dua hari; karena sambil diselingi tidur-tiduran, yang ujung-ujungnya berakhir pada ketiduran. Besoknya saya tidak sadar bahwa saya telah ’melompat’ dari jeda yang saya lakukan kemarin, karena ternyata saya telah melewati beberapa tulisan di beberapa halaman sebelumnya. Tapi justru disitulah uniknya. Sebenarnya kamu ngga perlu membacanya dari awal. Kamu bisa mulai dari tengah-tengah, atau bahkan tulisan yang paling akhir sekalipun. Ngga perlu berurutan, karna ini bukan novel. Percaya atau tidak, ngga ada continuity atau kesinambungan cerita (dari satu tulisan ke tulisan yang lain) yang harus kamu pikirkan setelah selesai membaca satu-dua tulisan pertama misalnya. Siap-siap juga kecewa, karna setelah satu tulisan yang ’agak panjang’, ternyata di halaman selanjutnya justru tulisannya sangat pendek. Tapi tenang aja; kamu ngga perlu merasa kecewa karna tidak berhasil menemukan ‘benang merah’ dari seluruh tulisannya. Karna sebenarnya, intinya udah kamu dapet disana bahwa : di setiap tulisannya, diam-diam kamu akan mengangguk setuju dan mengiyakan apa yang Fahd tulis disana. Ya, Fahd memang selalu mengajak kita untuk selalu bertanya.

Kamu juga ngga perlu kuatir lantas rendah percaya diri karena tidak berhasil merangkai puzzle yang ia sertakan di setiap rangkaian tulisannya. Iya, saya juga merasa kalau tulisannya itu ‘dalem’. Saking ‘dalem’-nya sampai kadang-kadang saya juga ngga yakin apakah saya dapat benar-benar menangkap maksud dari tulisannya atau ngga. Seperti cerpen A Cat in My Eyes, cerpen itu sempet bener-bener bikin saya ‘mikir’.

Fahd berusaha mempertikaikan hal yang mungkin sering dianggap remeh temeh seperti : apa itu cantik? (si)apa itu Tuhan? Hidup itu apa? Apakah sesungguhnya waktu itu? Benarkah waktu kerap mengkhianati jarak? Jujur aja deh, sama seperti Fahd, kamu juga pernah ’kepikiran’ soal itu semua kan? Seperti yang Fahd pernah kemukakan bahwa di buku inilah semua hal itu dapat menjadi sesuatu yang fair untuk dibincangkan bersama.

Melalui tulisannya juga, Fahd mengajak teman-teman yang satu generasi dengannya (termasuk saya) untuk ikut memikirkan sesuatu yang dianggap ‘biasa’ oleh orang kebanyakan, menjadi sesuatu yang ‘tidak biasa’ karna sememangnya perkara itu layak untuk ditinjau ulang. Fahd mengajak kita peduli pada bumi kita yang semakin merintih kepanasan. Tentunya dengan gaya sastera-nya yang khas, terasa sekali dalam Gaia Yang Sakit. Diam-diam, Fahd mengajak kita menyelami makna ketuhanan dalam Kemanakah Kau Siang Tadi, Tuhan? dan pertem(p)u(r)an dengan Tuhan. Fahd juga mempersoalkan tentang kegilaan dalam masyarakat kita dalam Skizofrenia dan Psikopati. Jujur aja, kamu jadi ikutan bertanya, kan?; yang sebenarnya gila itu siapa? Mereka atau kamu?

Yang agak membosankan bagi saya adalah, banyaknya penggunaan tanda kurung yang Fahd tulis di buku ini. Mulai dari kata pengantar : untuk siapa saja yang pernah bertanya(-tanya), hidup itu apa. Lalu pertem(p)u(r)an dengan Tuhan. Percakapan yang harus (terus-menerus) tertunda. (si)apakah sebenarnya waktu? Bagi saya, hal itu sedikit mengganggu penglihatan saya ketika membaca buku ini. Mungkin kalau satu-dua kali ngga apa-apa, tapi kok sepertinya lama-lama menjadi semakin kerap digunakan. Bagi saya, penggunaan tanda kurung itu sendiri secara tidak langsung menimbulkan ambigu pada maksud dari tulisannya. Atau jangan-jangan, memang hal itulah yang diinginkan Fahd?

Beberapa tulisan dalam buku ini bukan hanya sarat akan makna, tapi juga..romantis.

Saya udah ngga heran kalo suatu saat akan banyak anak muda yang mengopi kata-kata Fahd di buku ini seperti..

”Kebahagiaan adalah ketika mendapatimu tersenyum karena kehadiranku. Kebahagiaan adalah mengetahui bahwa ketika aku merindukanmu, kau juga merindukanku. Kebahagiaan adalah ketika aku menyadari bahwa aku tak menjalin jejaring cinta sendirian, tetapi juga bersamamu.” (Everybody’s happy in his own way).

Atau..

Serupa cuaca, aku mencintaimu, selalu terikat waktu. Serupa udara, aku menyayangimu, selalu terikat ruang. Serupa hujan, aku membencimu, sewaktu-waktu. (Membencimu)

Hmm. Romantis, bukan?

Oke, sekarang kita udah sama-sama tahu kalo Fahd Djibran adalah seorang filsuf rendah hati. Rendah hati karena membuat kita dapat bernafas lega bahwa kita dan dirinya ternyata masih berada dalam dunia yang sama. Ya, dunia Fahd, dunia kita juga. Persekitarannya, persekitaran kita juga. Hal-hal yang dikemukakan dalam setiap tulisannya, pernah kita pikirkan juga.

Gaya penulisan Fahd mirip dengan style-nya Kahlil Gibran. Melalui tulisannya, dia berfalsafah. Buku dengan genre seperti ini jarang kita temukan dalam dunia sastera Indonesia; apalagi penulisnya seperti Fahd yang notabene masih muda banget! Baru 22tahun!

Bagi saya, A Cat in My Eyes adalah bacaan yang ringan sekaligus ‘berat’. Ringan karena kamu bisa menghabiskannya hanya dalam waktu semalam. Namun ‘berat’ karna ternyata kamu ngga cukup dengan sekali baca untuk dapat memahami seluruh makna yang tersirat dalam setiap tulisannya.

Well, special thanks to Socrates, karena ternyata kata-kata pujangganya sanggup menginspirasi seorang hamba Tuhan di bumi ini sehingga akhirnya melahirkan sebuah karya yang sangat indah. Ya, Indonesia patut berbangga karna seorang filsuf mudanya telah lahir. Terus berkarya, Fahd!

[Uni-heights. 15 Desember 2008]

[01.36 am]


About this entry