Efek Rumah Kaca.

Guys, tulisan ini bukan tentang efek rumah kaca yang mengancam kelangsungan hidup bumi kita saat ini. No, not about green house effect or that global warming thing. Efek rumah kaca yang gw maksud di sini adalah nama sebuah band indie asal Jakarta yang berhasil menguasai telinga dan hati gw selama bulan Oktober ini.

Band mereka udah lama gw denger dari jaman gw SMA. Mmm, sebenernya gw ragu waktu SMA atau bukan; yang jelas, band mereka emang udah pernah gw denger sebelumnya. Cuma ya sebatas itu aja. Sebatas denger nama band aja.

Sampe akhirnya gw ngeliat nama mereka di sebuah iklan acara musik di majalah RollingStone edisi Oktober yang gw beli pas pulang Lebaran kemaren. Yepp, nama mereka nampang di situ bersama sederetan artis indie lainnya kaya Pee Wee Gaskins dan Agrikulture. Mereka semua sukses manggung di acara Riot, 2 tahun 2 jari di udara, sebuah pesta musik yang diadain radio Prambors pada 9 Agustus lalu. Review tentang Pee Wee Gaskins udah gw baca sebelumnya di majalah ini. Kebetulan Pee Wee Gaskins masuk dalam list Artists to watch di tahun 2008 versi majalah RollingStone. Akhirnya gw penasaran sendiri sama band Efek Rumah Kaca ini. Well, sebenernya gw penasaran juga sama Agrikulture, tapi kok namanya agak-agak aneh gitu yah? Ahahahahaa. Dan akhirnya gw memutuskan untuk menelisik lebih jauh tentang Efek Rumah Kaca. Tentang Agrikulture, besok-besok aja deh yah. Hohohohoo.

Ngga lama setelah gw buka myspace mereka dan mulai men-download satu per satu lagu mereka, musik mereka perlahan mulai mengusik perhatian. Terutama lagu Cinta Melulu. Beuuuhhhh. Beat-nya asik. Gw langsung jatuh cinta sama musiknya. Udah gitu liriknya mantep. ‘Ngena’ banget deh pokoknya. Emang lagu-lagu cinta saat ini udah kebanyakan dan kawula muda sudah semakin haus dengan lagu alternatif yang tidak mengedepankan lagu-lagu mellow yang bertemakan cinta. Imbasnya, sekarang tiba-tiba gw mengesampingkan lagu-lagu D’Masiv untuk sementara. Ahahahahh.

Well, tapi bukan berarti Efek Rumah Kaca anti sama lagu cinta. Gw rasa mereka cuma agak jijik dengan lagu-lagu cinta yang beredar saat ini yang kebanyakan temanya kurang lebih sama; kalo ngga tentang perselingkuhan ya patah hati. Udah gitu kebanyakan lagu cinta musiknya mendayu-dayu bin mellow. Tapi ada satu lagu di album pertama mereka yang bertemakan cinta. Lu harus dengerin lagu Jatuh Cinta Itu Biasa Saja. Beuuuuhhh. Parah. Paraaaaahh!! Dahsyat abis tu lagu!

”Kita berdua.. hanya berpegangan tangan, tak perlu berpelukan..”

Saadddiss! Romantis paraaaahh! Mantep dah!
Lagu tentang cinta yang dikemas dengan lirik sederhana, ngga basa-basi. Musik yang sepintas kedengeran desperate tapi lama-lama terdengar mesra. Ya, romantis tanpa harus over-melankolis.

Band yang terdiri dari Cholil (vokal/gitar), Adrian (bass) dan Akbar (drum) ini terbentuk pada tahun 2001. Myspace mereka menyebutkan bahwa sebelumnya band ini bernama “Hush” yang kemudian diganti menjadi “Superego”, yang kemudian berubah lagi pada tahun 2006 menjadi Efek Rumah Kaca atas saran manager mereka, Bin Harlan Boer (ex. vokalis C’mon Lennon), yang diambil dari salah satu judul lagu mereka.

Efek Rumah Kaca dengan mantap menyebutkan bahwa warna musik mereka adalah pop, karena mereka merasa tidak menggunakan banyak distorsi dalam lagu-lagu mereka seperti selayaknya musik rock.

Baru pada tahun 2007 ini mereka memutuskan untuk merilis album mereka yang berjudul sama dengan nama band mereka (self-titled) di bawah bendera Paviliun Records yang sebelumnya telah merilis album Dear Nancy, D’Zeek dan The Safari. Dalam album itu mereka mengikutsertakan 12 lagu yang telah mereka tulis sejak tahun 1998! Woooow!

Secara musikal, Efek Rumah Kaca cukup banyak dipengaruhi oleh Influencesjon Anderson, Peter Gabriel, The Beatles, Sting, Smashing Pumpkins, Bjork, Radiohead, Jeff Buckley, Rufus Wainwright, Sufjan Stevens, dan Billie Holiday. Ngga ketinggalan ada juga pengaruh musik lokal seperti Iwan Fals, Eros Djarot, Guruh Sukarno Putra, Chrisye, Sore, Santamonica, sampe Zeke and The Popo.

Hasilnya? Coba lu denger lagu Melancholia. Gw pikir ni lagu cocok ni kalo dijadiin soundtrack film. Ahahahaha. Denger juga lagu Jalang yang penuh dengan sindiran terhadap golongan yang berbeda misi dengan misi band mereka. Ada juga lagu tentang gay di lagu Bukan Lawan Jenis. Tapi gw paling suka sama lagu Di Udara. Musiknya keren. Juga ada lagu Belanja Terus Sampai Mati yang menyindir hobi belanja warga urban. I mean, siapa lagi di dunia ini yang mau membuat lagu-lagu dengan tema seperti itu? Sama seperti lagu-lagunya Vina Panduwinata dulu. Gw setuju sama Delon di film Vina Bilang Cinta; di jaman sekarang ini, siapa lagi yang mau bikin lagu tentang burung camar? Saat ini semuanya bergantung sama keinginan pasar. Dan yang membentuk demand pasar tak lain dan tak bukan adalah kita sendiri sebagai masyarakat. Ironis kan?

Di album pertama mereka ada juga lagu tentang efek rumah kaca. I mean, beneran tentang efek rumah kaca yang perlahan tapi pasti membuat ozon bolong sehingga matahari tiada tirai dan kita akan terbakar! Wheew. Siapa lagi di dunia ini yang bisa bikin lagu tentang Efek Rumah Kaca dengan begitu cool-nya? I mean, siapa lagi di dunia ini yang bisa bikin isu tentang Efek Rumah Kaca menjadi terdengar begitu keren? Lagu yang bahkan bisa menyemangati kita bahwa hal-hal seperti itu sememangnya harus menjadi concern kita pada saat ini.

Efek Rumah Kaca benar-benar memberi warna baru di blantika musik Indonesia. Sebuah band indie yang cerdas. Band yang berhasil menangkap potret kehidupan masyarakat saat ini. Musik yang berkualitas dan visi yang sangat idealis. Komersil tanpa harus ngikutin selera pasar. Sungguh suatu kolaborasi manis yang berhasil mencuri perhatian generasi muda saat ini.

Okay guys, stay tuned. Selamat menyelami musik Efek Rumah Kaca. Kalo gitu gw dengerin mp3 gw dulu yaaaa.

”Kubisa tenggelam di lautan.. Aku bisa diracun di udara.. Aku bisa terbunuh di trotoar jalan.. ” –Efek Rumah Kaca, Di Udara.

[aman damai. 30 Oktober 2008]
[01.25 am]

Ps: guys, if it’s in RollingStone, it matters! I agree with that. ;D


About this entry